Postingan

Mondok dan Islam Internet ala Jonru

Gambar
Seorang teman, begitu tegas tentang pendidikan pesantren untuk anak-anaknya. Menurut dia, menjadi santri adalah wajib. Tidak bisa ditawar. Harga mati. Boleh sang anak memiliki hobi apapun, tapi ketika tumbuh remaja harus menjadi santri. Itu mutlak, tidak lagi bisa ditawar meski sang anak menyampaikan beragam alasan. Apa kata teman saya itu tiba-tiba terngiang kembali minggu lalu (9/7). Ketika itu saya berkunjung ke Pondok Pesantren  Raudlatul Ulum 1, Ganjaran, Kabupaten Malang. Enam tahun saya mondok di tempat ini. Dari kelas satu Madrasah Tsanawiyah (MTS) hingga lulus Madrasah Aliyah (MA). Bisa dibilang, di tempat inilah penggemblengan mental dan inteletual paling penting dalam kehidupan saya. Saya teringat ucapan teman karena waktu itu adalah waktu kembalinya santri ke pesantren setelah libur lebaran. Di pesantren, libur lebaran memang panjang. Biasanya sepuluh hari sebelum Ramadan hingga 15 hari setelah lebaran. Ketika bulan puasa, di pesantren memang ada pengajian. Tapi sifatnya t…

Bersepeda

Gambar
Sekitar satu tahun setengah ini saya lumayan rutin bersepeda. Ada banyak hal yang saya dapat dari bersepeda. Selain keringat tentu saja. Saya banyak mendapatkan ide saat bersepeda. Ketika menyusuri tepian kota, juga ketika menyelinap diantara mobil-mobil yang macet. Mendapatkan ide saat bersepeda tentu sebuah kemewahan. Sebagaimana keringat, Ide adalah anugerah tuhan yang patut kita syukuri. Bayangkan kita hidup tanpa ide, betapa membosankannya. Sebelumnya, seperti yang saya tulis di pengantar buku Para Pembisik Kedunguan, saya sering mendapatkan ide tulisan saat mengendarai sepeda motor. Belakangan, ide beralih muncul saat bersepeda. Ide yang muncul itu bermacam-macam. Mulai dari ide tentang tulisan, tema liputan, hingga ide tentang banyak hal yang begitu pribadi dengan saya. Namun sayangnya, meski banyak manfaat dari bersepeda yang saya dapat, saya bersepedanya tidak rutin-rutin amat. Pada bulan-bulan tertentu, saya rutin sekali bersepeda. Satu minggu bisa tiga hingga empat kali. Tap…

Pelajaran Salat Taraweh untuk Menteri Muhadjir Effendy

Gambar
Orang boleh ramai tentang full day school dan sekolah yang hanya lima hari, tapi di sini, saya akan menuliskannya di tengah atau di akhir tulisan. Karena yang penting tidak melulu harus ada di awal. Saya ingin mengawali tulisan ini dengan taraweh. Sebuah ritual yang akhir-akhir ini akrab dengan kita. Taraweh menurut saya adalah simbol segalanya. Disitu ada kesederhanaan, pluralisme, konsistensi, dan yang paling penting: demokrasi. Bahkan, kalau saya boleh bilang, demokrasi di taraweh adalah yang paling maju di dunia. Kalau orang menyebut Amerika Serikat negara paling maju demokrasinya, itu salah besar. Itu hanya tudingan. Hanya klaim. Demokrasi sejati ada di taraweh. Nah lo, kalau taraweh saja demokrasi, kenapa teman-teman di sebelah sana masih ingin khilafah, ya itulah wolak-waliknya zaman. Demokrasi yang baik-sekali lagi ini menurut saya bukan menurut buku-, adalah ketika semua orang paham posisi. Jika pengertian ini kita bawa ke Amerika Serikat, tentu Amerika Serikat  sangat tidak dem…

Catatan Pinggiran untuk Mojok dan Goenawan Mohamad

Gambar
Jika Hamid Basyaib menyebut bahwa “Catatan Pinggir” Goenawan Mohamad lebih suka mengajukan pertanyaan dibanding memberi jawaban, saya kira Mojok adalah pertanyaan itu sendiri. Mojok lahir sebagai pertanyaan. Kita tak perlu mengajukan pertanyaan dalam tulisan-tulisan kita di situs ini karena Mojok bagian dari pertanyaan itu sendiri. Matinya pertanyaan tentu saja akan membuat heboh. Juga membuat bodoh. Ketika sudah tidak ada pertanyaan, sejatinya berakhirlah kehidupan. Selain itu, terlalu banyak orang yang bergantung pada pertanyaan sehingga jika pertanyaan mati, orang tak bisa berbuat apa-apa. Mungkin inilah yang dirasakan banyak orang ketika Mojok mati sebentar. Orang kebingungan mencari dan melontarkan pertanyaan. Dalam artian pertanyaan yang jenaka, menggugah, dan cenderung mengolok-olok diri sendiri. Nyaris tak ada media selihai Mojok dalam mentertawakan dan mengumpat dirinya sendiri dalam waktu yang berimpitan. Lalu kini Mojok hidup lagi. Kalau kita harus menerka-nerka kenapa Mojo…

Pembaca Ulung dan Keabadian untuk Lintang

Gambar
Saya selalu senang melihat keluarga yang mencintai buku. Kira-kira sama senangnya ketika mendengarkan kabar satu keluarga yang memutuskan tidak pakai smartphone. Dalam keluarga itu terdapat enam orang, mereka ramai-ramai menjual smartphone, lalu menggantinya dengan telepon seluler (ponsel)Nokia yang hanya bisa untuk telepon dan mengirim pesan singkat. Lalu, komunikasi di dalam keluarga itu menjadi cair. Tak ada lagi anggota keluarga yang sibuk dengan gawai (gadget)saat yang lain bercakap-cakap. Tak ada lagi bentakan agar mereka menanggapi ucapan satu sama lain, atau anggota keluarga yang tak bisa diamdengansmartphone-nya. Merekabenar-benar menjadi keluarga periang. Suatu saat, saya bertandang ke keluarga itu. Saya merasakan perbedaan dibandingkan ketika bertamu ke rumah-rumah lain. Kami duduk lesehan dengan karpet seadanya, menyeduh kopi, sambil memakan kacang rebus. Obrolan ngalor-ngidul kami begitu lancar. Tak terganggupesan WhatsAppyang kadang mengganggu selama berjam-jam. Smartpho…

Belajar dari Dia yang Salat Pakai Bahasa Indonesia

Gambar
Melakukan reportase, lalu menulis tentang Yusman Roy, saya seolah dibawa kepada kenangan masa lalu. Ketika membaca koran di depan kamar pesantren, membahas tentang sesat atau tidak sesat, dan berdebat kecil dengan teman sepulang sekolah. Pada 2005 lalu, Yusman Roy memang membuat geger publik. Dia dilaporkan oleh Majelis Ulama’ Indonesia (MUI) Kabupaten Malang karena dituduh telah melakukan penistaan agama. Alasannya karena dia salat dengan dua bahasa: Bahasa Arab dan Bahasa Indonesia. Isu ini tentu seksi bagi santri di pondok pesantren. Selain menyangkut agama, kasus ini tak pernah diduga sebelumnya. Dalam pembahasan isu-isu keagamaan yang biasa disebut bahsul masail (membahas beberapa masalah), jarang, atau malah mungkin tak pernah ada yang menanyakan hukum salat dua bahasa.  Oleh karenanya, pesantren saya yang langganan koran Jawa Pos membuat berita ini menjadi yang paling diburu. Sepulang sekolah, sambil tiduran di depan kamar pesantren, kita menikmati berita ini, berita yang wakt…

Bertamu ke Rumah Koeboe Sarawan

Gambar
Koeboe Sarawan adalah pelukis paling berpengaruh di Malang, atau bahkan di Indonesia saat ini. Sekitar empat tahun setengah jadi wartawan, saya belum pernah bertemu langsung. Saya mengetahui sedikit kiprahnya dari berita di koran. Terakhir, saya membaca cerita tentang Koeboe dan rumahnya dari rubrik Aku dan Rumahku di Kompas. Untuk sebuah urusan kantor, Sabtu lalu (5/11) saya bertandang ke rumahnya yang asri di Batu.  Tapi, kesan tentang Koeboe saya dapat jauh sebelum sampai ke rumah itu. Dalam sebuah percakapan via pesan singkat, saya melakukan kesalahan yang tidak disengaja. Dalam pesan singkat perkenalan, saya salah menyebut namanya. Saya menulis namanya: Kubu Sariawan. Rupanya, tombol handphone sayabekerja otomatis. Ketika saya menulis Sarawan, tiba-tiba yang terpencet kata Sariawan. Lalu terkirim. Sebelum dia membalas, saya kirim SMS permintaan maaf kalau kata Sariawan saya tulis tanpa kesengajaan. Dia menjawab singkat.”Untuk masalah kesalahan nama Ndak problem mas, kebetulan pas s…