RUU APP VIS AVIS

OLEH: IRHAM THORIQ

Budaya adalah sesuatu yang bersifat unik, menarik, dan tentunya lokal. Karena keunikan, kemenarikan, serta kelokalannya orang akan dikenal secara menyeluruh oleh orang lain karena disisi lain budaya adalah sebuah identitas. Baik itu identitas Negara, Bangsa, Suku, dan bahkan Individu. Identitas tersebut dapat berbentuk bahasa, adat istiadat, norma, dan berbagai nilai yang diwujudkan dalam perilaku keseharian. Orang Jawa akan tampak berbeda dengan orang Papua karna ada sebuah budaya yang melatar belakangi. Sesama Jawapun akan tampak berbeda ketika kita membandingkan Jawa Timur dengan Jawa-nya orang Sunda. Keberbedaan tersebut merupakan sebuah keunikan tersendiri bagi identitas sebuah bangsa. karna bangsa yang besar adalah yang beridentitas.
Untuk mengkonstruk sebuah budaya yang bisa memberi keunikan dan melambangkan sebuah identitas bangsa harus ada sebuah kebebasan. Karena untuk membangun sebuah budaya harus adanya kebebasan berekspresi, berkarya, dan bercipta. Logikanya bagaimana orang bisa menciptakan keunikan bila ada ketakuatan akan sebuah peraturan yang menjerat. Jadi kebutuhan fisiologis dari Budayawan adalah kebebasan. Entah apa jadinya apabila budaya kita mulai dibelenggu oleh hal-hal yang mengikat.
Indonesia sebagai negara yang multibudaya maka tidak relevan lagi ketika aturan-aturan yang sangat normatif membelenggu kebudayaan Indonesia. Bagaimana dengan Suku Dayak yang memang budayanya adalah bugil. Dan begitu juga dengan Papua yang memang budayanya memakai koteka. Jadi konsep bugil adalah sebuah kerelatifan bagaimana dan dimana kita memandang. Boleh saja dijawa berpakian minim seperti orang Dayak adalah melanggar norma sosial dan lain lagi kalau kita hubungkan dengan suku Dayak yang memang budayanya adalah berpakian bugil “dalam prespektif kita”.
Manusia Beragama dan Berbudaya
Sebagai makhluk manusia memerlukan identitas agar mampu mewujudkan eksistensinya. Identitas itu disebut budaya. Tentu secara naluri setiap manusia membentuk budaya yang unik dan berbeda dari yang lain tergantung berbagai faktor yang melingkup seperti ras dan keadaan alam. Jawa misalnya, dalam perjalanan sejarah masyarakat yang tinggal di pulau Jawa kemudian mereka membentuk sebuah identitas ke-Jawa-an yang berbeda dengan daerah-daerah lain di Indonesia, bahkan yang masih satu pulau pun berbeda. Sunda, memiliki budaya dengan identitas yang berbeda meski sama-sama menetap di pulau Jawa. Identitas tersebut dapat berbentuk bahasa, adat istiadat, norma, dan berbagai nilai yang diwujudkan dalam perilaku keseharian.
Agama sebagai sebuah bentuk identitas tersendiri yang lepas dari budaya pun memerlukan wujudnya tersendiri pula. Islam yang hadir di tanah Arab memang tidak bisa lepas dari konteks kearabannya, akan tetapi Islam sendiri bukanlah Arab. Islam sebagai sebuah agama tidak bisa dicampuradukkan dengan Islam sebagai sebuah budaya. Agama adalah wahyu yang bersumber dari Tuhan, sedangkan budaya adalah murni hasil pikiran akal budi manusia.
Permasalahan yang muncul dan berkembang di masyarakat adalah cenderung mencampuradukkan antara Arab sebagai sebuah budaya dan Islam yang menjadi bagian dari budaya Arab, sehingga muncullah sebuah ungkapan bahwa Arab adalah Islam (Arabisme Islam) yang memandang orang-orang non-arab yang hendak mempelajari Islam harus rela untuk melepaskan identitas non-arabnya dan mau melebur dalam identitas kearaban. Berbaju gamis, memanjangkan jenggot, dan berbagai ekspresi budaya Arab yang dipaksakan dan dianggap, meminjam istilah Ulil Absar Abdalla, sebagai fakta agama, yang sebenarnya itu adalah fakta budaya.
Jadi kalau kita membicarakan tentang RUU APP merupakan suatu dilema tersendiri. Karena disisi lain agama kita melarang hal-hal yang bersifat pornoaksi maupun pornografi. Dan disisi lain kita hidup dengan multikultur yang berbeda-beda. Kembali ke identitas di atas. Ketika kita menerima RUU APP maka secara otomatis kita menjunjung identitas agama kita. Dan ketika kita menolak RUU APP maka secara otomatis juga kita menjunjung tinggi identitas Bangsa kita yakni dengan membiarkan bebas budaya terjun bebas di bangsa kita dan menjadikannya sebagai identitas bangsa.
Identitas agama menginginkan hanya agama saja yang berkuasa. Identitas budaya tidak selayaknya disandingkan karena hanya hasil nalar budi manusia. Berbeda dengan agama yang merupakan wahyu dari Allah Swt. Di sisi lain, identitas budaya menginginkan agama ditempatkan dalam wilayah privat. Jangan ditempatkan di ruang publik. Kebebasan atau otonomi individu dinomorsatukan. Agama tidak berhak berbicara mengenai kepentingan publik. Dengan begitu, identitas agama benar-benar dilawankan (vis a vis) dengan identitas budaya. jadi ada dua kutup yang berlawanan antara keduanya.
Menurut penulis jika islam sebagai identitas agama ingin turut andil ber-amar ma’ruf nahi munkar maka seyogyanya agama mengambil perannya sebagai sumber moral dan tidak bertindak praktis secara frontal. Dengan begitu, kontroversi dan kontra antara kedua identitas diharapkan segera berakhir.
Ketika kita memandang dalam prespektif yang berbeda RUU APP merupakan sebuah belenggu bagi kebudayaan bangsa kita. Karna bagaimanapun bangsa yang maju adalah bangsa yang berbudaya dan bagaimana budaya tersebut di lestarikan tidak justru dijinakkan dengan aturan-aturan formal yang menguntungkan kepentinagan sepihak. Bagaimanapun sadar maupun tidak disadari pembelengguan sebuah budaya akan banyak merugikan pihak-pihak yang berhubungan dengan budaya. Sebut saja seniman, pariwisata kita, bagaimana jadinya ketika beribu-ribu seniman kita tidak bisa lagi berkarya oleh karena di belenggu oleh undang-undang. dan bagaima pula jadinya ketika pantai-pantai kita sepi dari pengunjung. dan bisa dibayangkan ketika berjuta-juta orang miskin akan semakin menjadi miskin karena lapangan pekerjaan mereka “sepi” dan yang lebih menggelitik lagi ketika hal tersebut di sebabkan oleh undang-undang. Jadi jangan meletakkan sebuah keprivatan kedalam ranah publik dengan memformalisasikan sebagai undang-undang.
Tulisan Oleh: IRHAM THORIQ
Mahasiswa Semester 1 Fakultas/Jurusan Psikologi
Unversitas Islam Negeri Malang
No Hp:(0341) 6213918 / 085649811518

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perlawanan Kampung Tempe Sanan Terhadap Kue Artis Teuku Wisnu, Krisdayanti, dan Kawan-Kawan

Mondok dan Islam Internet ala Jonru

Pelajaran Salat Taraweh untuk Menteri Muhadjir Effendy