Analisis media

OLEH: IRHAM THORIQ

Bagi saya menganalisis tulisan Effendi Ghozali sangat penuh dengan tantangan. Seperti anak TK yang disuruh menganalisis seorang professor. Anak TK yang hanya bisa sedikit baca tulis tapi disuruh menganalisa tulisan Master Komunikasi Politik. Tapi bagaimanapun “bola api” yang penulis terima dari Dosen merupakan tantangan yang harus dihadapi guna mereka-reka tulisan professor.

Efendy Ghozali dalam artikel ini membahas tentang Lembaga Survei Indonesia dalam proses demokratisasi. Efendy Gosali mencoba mencermati pemilu di Sumatera Utara dan Kalimantan Timur. Dalam pemilu ini Quick Count yang dilakukan oleh LSI mendapatkan error 0,81 persen serta 0,86 persen. Quick Count yang selama ini terkonsep dalam pikiran kita selalu benar, tapi kenyataanya tidak se-absolut itu.

Quick Count yang bersandar sampling, dengan ini aka nada sampling error, metode sampling akan menentukan besar kecilnya kesalahan tersebut. Yang ingin dikatakan Efendy Gosali dalam tulisan ini bahwa Quick Count yang dilakukan Lembaga Survei macam LSI juga memungkinkan ada margin error.

Bagaimanapun hal tersebut bisa kita maklumi. Quick Count juga merupakan sebuah metode yang bersifat spekulatif. Namun disisi lain Quick Count juga sangat perlu untuk Demokratisasi di Indonesia. Kegunaan yang sangat transenden adalah untuk meminimalisir kecurangan yang “akan” dilakukan pihak Komisi Pemilihan Umum (KPU) karna Quick Count membantu ketransparansi-an dalam Demokrasi.

Hal yang sangat menarik kita cermati akhir-akhir ini adalah adanya Election Chanel (Metro TV) dan TV Pemilu (TV One) yang selalu melakukan updating secara seimbang dalam pemilu. Hal tersebut patut kita syukuri guna masa depan demokrasi kita dan dalam mengkonstruksi masyarakat madani (civil society).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perlawanan Kampung Tempe Sanan Terhadap Kue Artis Teuku Wisnu, Krisdayanti, dan Kawan-Kawan

Mondok dan Islam Internet ala Jonru

Pelajaran Salat Taraweh untuk Menteri Muhadjir Effendy