Mengubah Paradigma Para Elit Politik

OLEH: IRHAM THORIQ

Menjelang pemilu 2009 sebagai mana yang kita ketahui banyak para elit politik “menjajahkan” dirinya dengan mengiklankan dirinya baik lewat media cetak maupun elektronik. Ada yang mengiklankan dirinya dengan mengangkat isu hangat seperti krisis global, sembako mahal dan panyemangat yang seakan - akan Indonesia bisa dari negara tidak biasa menjadi negara luar biasa. Semuanya baik yang muda maupun yang tua, baik yang laki-laki maupun yang perempuan dengan rasa PD (percaya diri) bahkan GR (gede rasa) mampu memimpin indonesia. esensi politik bukanlah sebuah kekuasaan yang telah membuat candu bagi kita semua. Kita telah lama di buat mabuk oleh kekuasaan yang semu. Pemimpin kita telah menjadikan kekuasaan sebagai kendaraan untuk memuaskan nafsu mereka dan hasrat untuk mengeruk materi sebanyak-banyaknya dari kekuasaan yang telah diidam-idamkan tersebut. Elit politik kita seakan-akan lupa atau melupakan diri bahwa kekuasaan merupakan amanat yang diberikan oleh Rakyat yang seharusnya diemban dengan sebaik-baiknya, yang seharusnya diemban dengan hati nurani bukan dengan nafsu yang merupakan penyakit dari para elit politik kita. Kekuasaan bukanlah sebuah tujuan dalam politik melainkan hanya sebuah pelantara (wasilah) untuk mensejahterakan Rakyat. Saatnya kita mengubah paradigma bahwa inti dari politik bukanlah kekuasaannya yang akibat dari hal tersebut para politikus saling sikut, saling terkam satu sama lain yang tidak ada bedanya dengan monster yang menjarah satu sama lain. Politik sebenarnya hal yang sangat mulia apabila para pelaku politik bisa mengubah rakyat menuju arah yang lebih maju. Baik mengubah dalam aspek Ekonomi, Sosial, Budaya dan yang lain. “Mengubah Rakyat” itulah mungkin kata kunci yang harus di pegang oleh semua Elit politik. Kata tersebut memang terdiri dari dua suku kata dan sangat mudah untuk di ucapkan tapi sangat sulit untuk di implementasikan dalam wujud konkrit. Terbukti sudah 63 tahun kita Merdeka namun kata tersebut tidak pernah terwujudkan dari mimipi-mimpi kita rakyat kecil. Kita rakyat kecil selalu berharap dari pemilihan umum ke pemilihan umum yang lain. Namun semua harapan tersebut hanya sebuah utopia belaka. Rakyat seakan hilang dari benak elit politik. Rakyat akan diingat oleh mereka ketika mendekati pemilihan umum. Suara-suara Rakyatlah yang mereka harapkan. Seakan Demokrasi seperti garis Horisontal yang lurus terus tanpa ada kenaikan yang melambangkan kemajuan yang disebabkan oleh demokrasi. Demokrasi hanya di jadikan ladang untuk memperkaya diri sendir saja. Demokrasi seakan-akan hanya sebuah seremonial belaka yang tidak banyak berpengaruh bagi rakyat khususnya rakyat kecil. "Seremonial" itulah kata yang tepat untuk menggambarkan demokrasi kita. Demokrasi kita seakan dijadikan ladang oleh para tokoh untuk memuaskan nafsunya belaka yakni sebuah materi. Demokrasi yang pada intinya adalah sistem pemerintahan yang dikuasai penuh oleh Rakyat dan memihak penuh pada kepentingan Rakyat bukan malah memihak pada kelompok-kelompok tertentu yang cendrung merugikan Rakyat. Ya.... bagaiman demokrasi di katakan berhasil apabila inti dari demokrasi yakni Rakyat masih ditindih oleh kemelaratan, kesenjangan sosial dan yang lain. singkatnya demokrasi kita sudah keluar dari rel nya. Negara ini sering berangkat dari tiadanya kebersamaan dan ketidak becusan para Elite politik untuk melayani Rakyat dengan sungguh-sungguh. Mereka tidak bekerja untuk Rakyat tetapi bekerja untuk diri sendiri dan kelompoknya. Hasrat untuk memenangkan dan menguasai kapling-kapling sumber daya negara makin lama makin menguat dengan beragam cara. Semua ini dilakukan di balik segala berita dan wacana "kebersamaan membangun republik". Politik dijadikan sebuah seni untuk berebut kekuasaan. Sejak zaman para pendahulu hasrat untuk saling menguasai ini bukannya tidak ada. Namun, di zaman perjuangan dengan musuh bersama yang nyata di depan mata, kebersamaan untuk membangun republik lebih terasa. Apa yang ada di pikiran mereka, yang bisa kita baca dari pemikiran-pemikiran mereka, merupakan upaya untuk membangun Republik ini dan mengentaskannya dari ketertindasan. Tapi, zaman berubah. Para Elite mulai menghilangkan kebersamaan untuk membangun republik ini. Mungkin mereka mengira dengan mudah bahwa saat ini sudah tidak ada lagi musuh dan masalah yang perlu dihadapi bersama. Saat ini zaman pesta pora, siapa yang tidak berkuasa akan dijadikan bulan-bulanan penguasa. Zaman bebal Orde Baru telah mengajari para elite politik untuk hidup saling menerkam. Dunia politik semakin dipenuhi intrik yang pada ujungnya menjadikan rakyat sebagai korban. Kemiskinan bisa diatasi bila semua komponen duduk bersama dan mencari solusi yang paling tepat. Pengangguran tidak bisa diselesaikan hanya dengan visi dan misi kampanye. Kesejahteraan petani dan nelayan tidak akan pernah bisa diperbaiki bila kebijakan pemerintah masih berorientasi pada pemodal dan menegasikan rakyat. Berjuang Sendiri Kebijakan belah bambu, mengangkat yang sudah mapan dengan cara menginjak-injak yang menderita, semakin lama semakin banyak model atau bentuknya. Semakin lama pula ia semakin dianggap sebagai hal yang wajar. Rakyat kecil berjuang dengan dirinya sendiri untuk bangkit dari kemelaratan di satu pihak, di pihak lain negara dengan aparatusnya aktif memproduksi kebijakan-kebijakan yang memukul si miskin. jadi antar pemerintah dan rakyat seharusnya tidak ada pemisah untuk membebaskan kita dari kelaparan,kemelaratan dan kesenjangan sosial. Sudah saatnya kita berlari menyongsong fajar untuk mengkonstruksi dunia perpolitikan kita yang carut marut ini menjadikan sebuah politik yang luhur,tinggi yang pada akhirnya Rakyatlah sejahtera. Yang menurut penulis hal tersebut bisa terjadi bila setidaknya tiga komponen berikut bisa terpenuhi: 1. Kekuasaan yang pada hakikatnya merupakan sebuah amanah dari Masyarakat dan Tuhan untuk dipelihara sebaik-baiknya. Kekuasaan seberapapun kecilnya, harus dimanfaatkan untuk membangun kesejahteraan bersama. 2. Kekuasan bukan merupakan tujuan akhir dari sebuah politik melainkan hanya washilah untuk mensejahterakan rakyat. Dan akan dipertangguang jawabkan kelak dihadapan Allah SWT. 3. kegiatan politik harus kita kaitkan erat dengan prinsip Ukhuwah, yaitu persaudaraan sesama umat manusia, Menghindari gaya politik konfrontatif yang penuh dengan konflik dan memandang pihak lain sebagai pihak yang harus di eliminasi dan di terkam. Untuk Direnungkan Kalau kita berefleksi mengapa kita tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengubah bangsa ini untuk menjadi bangsa yang sejahtera, adil, makmur dan juga menjadikan masyarakat yang madani. Ketika Orang Utan saja mampu dan bahkan bisa mengubah Tarzan yang habitat asalnya adalah manusia dijadikan orang utan yang mempunyai prilaku layaknya orang hutan. Dan ketika kita meletakkan bunga dekat cendela maka bunga tersebut akan cendrung untuk mengarah pada cendela tersebut untuk mendapatkan sumber cahaya. Jadi ketika bunga saja bisa berhijrah dari kegelapan menuju cahaya. dan akan sangat berdosa ketika kita Manusia pada umumnya dan Politisi pada khususnya yang di berikan kelebihan oleh Tuhan tidak bisa bertransformasi dari keterpurukan bangsa kita, dari kemiskinan yang sudah lama membelenggu kita menjadikan Bangsa yang sejahtera dalam realita bukan hanya dalam utopia.

Oleh: Irham Thoriq Aktivis PMII




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perlawanan Kampung Tempe Sanan Terhadap Kue Artis Teuku Wisnu, Krisdayanti, dan Kawan-Kawan

Mondok dan Islam Internet ala Jonru

Pelajaran Salat Taraweh untuk Menteri Muhadjir Effendy