PMII ; JALAN MASUK STRATEGIS AGEN AMERIKA

Perang belumlah berakhir, walau perang dunia ke-II sampai pada titik akhirnya. Masa perang dingin antara ideologi besar dunia mulai nampak bentuknya, sosialis versus kapitalis. Saling bermanuver melalui berbagai media untuk menjalankan program (spektrum luas berjangka pendek-panjang), memberi dampak relasi kekuasaan yang sangat berpengaruh dalam seluruh anatomi masyarakat. Ekonomi-sosial-politik-budaya-kepercayaan suatu bangsa pun takkan luput dari bias perang dingin ini (perang pengaruh). Pemetaan negara (Blok Timur-Barat) mengambil bagian terpenting dalam prespektif politik dunia. Hal tragis yang saya lihat adalah “perang pengetahuan” yang digunakan sebagai alat paling dahsyat pada masa perang dingin, demi satu tujuan ke masa depan. Menggunakan pengetahuan untuk menancapkan “file keberpihakan” dalam benak generasi baru. Namun sejarah ternyata berkata lain, sosialis yang identik dengan negara Soviet (-Dewan Rakyat /kamus bahasa Ind.), tak mampu bertahan lama dalam perang dingin alias jatuh belum pada saatnya. Maka ideologi kapitalis mulai mencari common enemy, dengan tujuan menjaga kesatuan ideologi kapitalis itu sendiri. Saat itulah “kapitalis” mulai terpengaruh pada ramalan Samuel P. Huntington “Clash of Civilization”. Genderang Perang wacana telah ditabuh. “Kemanusiaan-kebebasan-keadilan-perdamaian” atau demokarasi menjadi menu wajib dalam setiap kajian. (Hal ini bisa dipahamai karena secara universal umat manusia mendambakan kehidupan yang bahagia, persoalannya kebahagiaan itu sendiri memerlukan penerjemahan, yang bisa dipastikan akan mengalami perbedaan konsep tentang “kebahagiaan” itu). Amerika, negara yang dianggap paling representatif dengan wacana demokrasi. Menjadi kunci penting dalam peta dunia saat ini. Lalu, apakah arah dan perkembangan bangsa tercinta ini, Indonesia, tidak terlepas dari campur tangan kepentingan dunia ?.
Dalam tulisan ini saya melihat bahwa, sejak kemerdekaan bangsa Indonesia, Amerika, berada pada peran yang sangat penting dalam masa peralihan kekuasaan zaman kolonialisme (Belanda/negara penjajah-Jepang/negara penakluk dan negara lain yang berebut tempat di tanah Nusantara ini). Dalam “mengaruskan” keilmuan-politik-ekonomi-sosial-budaya bahkan kepercayaan bangsa. Yang telah sekian lamanya menelan dengan pahit kekuasaan zaman kolonialisme. Pada zaman yang lebih menjanjikan “kebebasan”. Bangunan struktur-non struktur sampai pada infra-supra struktur, mulai mengalir membentuk bangunan “segitiga piramida” untuk “kebebasan”. Pengaruh Amerika dalam dunia intelektual bangsa Indonesia, satu tahapan pintu masuk yang sangat strategis pasca kemerdekaan bangsa Indonesia. Lembaga sosial dan pendidikan Amerika, mengalirkan ribuan dollar, mendidik dan melatih para perwira TNI, memberi beasiswa pada mahasiswa - yang diantara mereka menjadi peletak dasar-dasar orde baru serta ilmuwan yang mengembangkan kajian dann lembaga pendidikan tinggi seperti tempat mereka belajar (Nasir Tamara). Memang tidak semua diantara mereka menerima begitu saja, pengaruh “American; Way Of Life”.
PMII, diakui secara geopolitis, memiliki signifikasi dalam arus perubahan besar dalam konteks kebangsaan (-salah satunya karena basis kader yang tersebar di berbagai anatomi masyarakat dan kultur yang berkarakter sama). Menjadi daya magnetis ketertarikan para Indonesianis Amerika, jalan masuk yang strategis bagi “wacana” Amerika (bahkan oleh seluruh kepentingan “wacana”). PMII sebagai gerbong besar bangsa Indonesia, dalam konteks proses kaderisasi yang terus berdialektika (menggunakan paradigma kritisnya) menjadi hal yang dimaklumi, ketika menerima dan bahkan mengembangkan sebuah “wacana”. Namun bila proses kadersisasinya terus bertransformasi dan mengarah pada pengenerasian (penanaman sebuah nilai baru, hingga menjadi tradisi kesepakatan bersama), ini hal lain lagi yang harus segera disikapi secara arif dan seksama. Terlepas dari ada tidaknya sebuah konspirasi internasional yang bertendensi untuk melemahkan martabat dan kedaulatan bangsa Indonesia.
Maka, maksud saya disini (meminjam kerangka analisis M. Foucolt), wacana yang dipercaya dapat menjadi perekayasa sosial masyarakat, harus melalui tahapan-tahapan pemilahan-penilaian sesuai dengan tingkat sensitifitas-kesesuaian wilayah kader (-bukan sensor yang mengaburkan subtansial nilai). Terus terang Saya pikir, agar PMII tidak hanya terjebak pada arus “wacana”, tulisan ini masih harus diperdebatkan secara produktif. Mengingat situasi dunia global-lokal (terutama paska perang Iraq), tidak mudah lagi untuk diramalkan. Sederhananya adalah, supaya kita tidak gampang di klaim sebagai agen kepentingan suatu “wacana” tertentu yang memiliki bias dan konsekuensi logisnya (pada masa depan perubahan). Kita harus hati-hati, Lil……….!
Royhan (Biro Informasi-komputer dan pers)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perlawanan Kampung Tempe Sanan Terhadap Kue Artis Teuku Wisnu, Krisdayanti, dan Kawan-Kawan

Mondok dan Islam Internet ala Jonru

Pelajaran Salat Taraweh untuk Menteri Muhadjir Effendy