REVITASASI GERAKAN KADER PROGRESIF REVOLUSIONER

OLEH:IRHAM THORIQ

“Revitalisasi gerakan kader progresif revolusioner” luar biasa penulis sebut dari sepanggal tema PKD rayon Al-adawiyah ini. Selain pilihan kata yang tepat, mengena dan tidak mengguruhi, tapi terdapat berjuta makna dari sepenggal tema ini. Kalau kita “bedah” dari kata perkata ada semacam optimisme, gairah, semangat dan cita yang hendak diidamkan SC (setering comite) sebagai konseptor dalam acara kaderisasi formal kedua ini.

“Revitalisasi” berarti kembali memusatkan atau kembli mencentralkan. Kalau kita gabung dengan kata selanjutnya yakni”gerakan”. Berarti selama ini masih terdapat sebuah gerakan yang masih tidak berpusat atau masih melebar kemana-mana. Gerakan yang mencirikan sikap manusia yakni bergerak menuju tujuan idealnya memberikan kontribusi positif pada alam sekitarnya. dan juga mencirikan sikap organisasi kemahasiswaan seperti PMII sebagai warga pergerakan. Kembali ketema yang ingin memusat sentrum gerakannya yang dalam hal ini harus mengacu pada NDP (nilai dasar pergerakan) sebagai landasan untuk setiap pergerakan kita. Secara esensial Nilai Dasar Pergerakan (NDP) ini adalah suatu sublimasi nilai ke-Islaman dan ke-Indonesiaan dengan kerangka pemahaman keagamaan Ahlussunnah wal jama’ah yang menjiwai berbagai aturan, memberi arah dan mendorong serta penggerak kegiatan-kegiatan PMII. Oleh sebab itu seyogyanya NDP yang mempunyai fungsi sebagai landasan berpijak, landasan berpikir, dan sumber motivasi harus dijadikan sebuah nilai- nilai yang mendasari setiap kegiatan berorganisasi kita kedepan.

“kader” sesuai tujuan awal PKD yakni sebagai kaderisasi formal kedua setelah MAPABA harus dijadikan alat untuk menjadikan kader yang Mujahid, yakni kader yang siap berjuang dan mempunyai sikap militansi tinggi pada organisasi. Mengacu pada PMII sebagai organisasi pengkaderan maka roda kaderisasi harus terus berjalan. Kaderisasi seyogyanya harus terdiri dari tiga komponen yakni rekrutmen, pengisian, dan distribusi kader. Ketiga hal tersebut berjalan secara hirarki. Logika dasarnya jangan berharap pengisian kader kalau tidak ada recrutmen kader, dan juga jangan harap mendistribusikan kader kalau kader tidak ada isinya “kosong”. Mengacu pada MLS kaderisasi di PMII yakni terdiri dari tiga hal yakni pengkaderan formal, pengkaderan non formal dan juga pengkaderan informal. Dari tiga pengkaderan tersebut harus saling mengisi yakni harus saling menopang dari satu sisi kesisi yang lain. Mengingat ada semacam ruang kosong antara pengkaderan formal ke formal selanjutnya, atau dari MAPABA ke PKD ada ruang kosong maka ruang kosong tersebut harus diisi oleh pengkaderan nonformal dan informal. Dan pengkaderan non formal dan informal ini guna mendukung kepengkaderan formal selanjutnya.

“progresif” berarti maju yakni berani maju dari sifat kejumudan dan kebekuan. Progresif disini sangat sesuai dengan ASWAJA. Salah satu karakter Aswaja adalah selalu bisa beradaptasi dengan situasi dan kondisi, oleh karena itu Aswaja tidaklah jumud, tidak kaku, tidak eksklusif, dan juga tidak elitis, apa lagi ekstrim. Sebaliknya Aswaja bisa berkembang dan sekaligus dimungkinkan bisa mendobrak kemapanan yang sudah kondusif. Tentunya perubahan tersebut harus tetap mengacu pada paradigma dan prinsip al-sholih wa al-ahslah. Karena itu menurut saya implementasi dari qaidah al-muhafadhoh ala qodim al-sholih wa al-akhdzu bi al jadid al ashlah. Adalah menyamakan langkah sesuai dengan kondisi yang berkembang pada masa kini dan masa yang akan datang. Yakni pemekaran relevansi implementatif pemikiran dan gerakan kongkrit ke dalam semua sector dan bidang kehidupan baik, aqidah, syariah, akhlaq, social budaya, ekonomi, politik, pendidikan dan lain sebagainya. Walhasil, Aswaja itu sebenarnya bukanlah madzhab. Tetapi hanyalah manhaj al-fikr atau paham saja, yang di dalamnya masih memuat beberapa aliran dan madzhab. Ini berarti masih terbuka luas bagi kita wacana pemikiran Islam yang progresif, transformatif, kreatif, dan inovatif, sehingga dapat mengakomodir nuansa perkembangan kemajuan budaya manusia.

“Revolusioner” kata ini sering di sandingkan dengan perubahan yang cukup mendasar dalam bidang tertentu. Seperti nabi Muhammad SAW disebut salah seorang Revolusioner dunia karna beliau bisa mengubah keadaan dan paradigma orang jahiliyah ke keadaan dan paradigma yang lebih cerdas. Oleh sebab itu kalau kita bicara revolusioner berarti secara otomatis kita harus bisa mengubah kearah hal yang positif. Mengubah cara pandang kita tentang organisasi dan membangkitkan gairah semangat kita dalam berorganisasi. Karna jangan mengharap perubahan apabila tidak ada sebuah semangat dan mimpi untuk membesarkan organisasi secara umum dan Rayon “penakluk” Al-Adawiyah secara khusus.

Dari uraian Tema PKD Rayon Al-Adawiyah diatas dapat sedikit ditarik kesimpulan bahwa dalam rangka membangkitkan arah gerakan kita sebagai kader,kita harus menanamkan Nilai Dasar Pergerakan (NDP) sebagai titik pijak untuk mengarahkan gerakan kita dalam berorganisasi. Selain itu kita harus merefleksikan kembali nilai-nilai yang terkandung dalam ASWAJA bukan sebagai madzhab melainkan sebagai manhajul fikr (landasan berfikir) guna menjadi kader sesuai cita-cita bersama yakni kader PROGRESIF dan REVOLUSIONER. Amien!.





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perlawanan Kampung Tempe Sanan Terhadap Kue Artis Teuku Wisnu, Krisdayanti, dan Kawan-Kawan

Mondok dan Islam Internet ala Jonru

Pelajaran Salat Taraweh untuk Menteri Muhadjir Effendy