SAHABAT VS KAWAN

OLEH:IRHAM THORIQ

Kalau kita mencermati kericuhan kemarin maka kita akan melihat sidikit gambaran carut-marutnya dunia perpolitikan di kampus UIN Malang. Perpolitikan seakan dijadikan ajang untuk memperebutkan kekuasaan dengan memakai sistem politik konftrontatif yakni yang superior menindas inferior. Memang kalau kita memakai konsep moderisme dalam dunia ini ada semacam oposisi biner. Yakni kalau ada baik pasti ada buruk, ada kuat maka ada lemah dan begitu juga ketika ada superior pasti ada inferior. Tapi yang perlu digarisbawahi seyogyanya yang superior tidak menindas yang inferior. Karena, kalau di dunia ini menganut hukum konfrontatif maka secara otomatis tidak akan ada orang yang sepenuhnya merdeka. Seperti hukum rimba.
Masih ingatkah peristiwa di depan SC, Sabtu 10 Januari 2009. mahasiswa saling dorongpun terjadi pada aksi kali ini. Dalam aksi tersebut terasa sekali adanya permusuhan antara kedua kelompok tersebut. Ini terbukti dengan menyelesaikan masalah tidak dengan kepala dingin. yakni dengan melakukan saling dorong antar kelompok mahasiswa yang seharusnya dilakukan dengan forum dialog.
Lucunya ketika mahasiswa diluar sana sibuk Demonstrasi menentang ditetapkannya UU BHP dan menyerukan keadilan pada Palestina. Tapi mahasiswa di kampus ini sibuk bertengkar dengan teman mereka sendiri. Tapi itulah politik yang sarat akan kekuasaan, nafsu, kepentingan dan hal-hal yang lain.
Politik telah membuat mata hati kita tertutup. Kita tidak sadar bahwa yang mendorong dan yang terdorong adalah teman. Teman yang seharusnya berkonsolidasi merapatkan barisan dalam membangun ranah keadilan tanpa penindasan dalam ranah sosial. Tapi kenyataan yang terjadi kelompok A menganggap musuh kelompok B dan begitu juga sebaliknya.
Penulis sangat terenyuh pada ucapan salah satu seseorang yang ada disamping penulis pada kejadian saat itu. “Palestina pikirkan. Lebih penting Palestina dari pada urusan ini,” ucapnya dengan muka berkaca-kaca. Penulis tidak tahu ucapan itu ditunjukan pada siapa. Tapi bagaimanapun ucapan tersebut minimal menjadikan kita sadar akan fenomena sosial yang terjadi di dunia ini dan penting bagi kita untuk memikirkannya bukan malah bertengkar sesama mahasiswa.
Kalau kita flash back untuk mencermati aksi mahasiswa dalam mengkonstruksi negara kita. Mahasiswa sangat mempunyai peranan yang sangat vital. Kita masih teringat ketika Mahasiswa bersatu menjatuhkan keotoriteran Soeharto. Pada saat Orde Baru Mahasiswa mempunyai musuh yang jelas yakni keotoriteran. Tapi setelah Reformasi Aksi Mahasiswa kelihatan redup karna tidak mempunyai musuh yang konkrit. Penulis menganggap hal inilah yang menyebabkan mahasiswa memusuhi mahasiswa sendiri karna tidak mempunyai alasan lagi untuk melakukan Aksi. Terbukti sering terjadinya chaos antar mahasiswa. Baik yang ada di makasar beberapa bulan yang lalu dan tentunya yang terjadi beberapa hari lalu di kampus kita.
Tapi sekali lagi itulah politik yang bisa menyerakahkan kita akan sebuah materi. “Politik itu seperti seks” tulis Goenawan Mohammad dalam Cacatan Pinggir. Goenawan menyadarkan kita bahwa secara tidak sadar kita bersama-sama menjelek-jelekkan politik dan lain pihak kita mengharapkan kekuasaan dibenak kita. Dalam hal ini alergi kita terhadap politik tidak dibarengi dengan menjauhi politik malah yang lebih parah lagi kita dibuat berantem oleh politik yang semu.
“Berikan aku sepuluh pemuda maka akan aku goncangkan dunia” ucap Bung Karno dalam salah satu pidatonya. Bung Karno dalam hal ini sangat berharap banyak kepada pemuda. Tapi mungkin seandainya Bung karno masih hidup pasti Bung Karno sangat kecewa ketika melihat para pemudanya kini tidak sibuk untuk menggoncangkan dunia tapi sibuk untuk menggoncang teman mereka sendiri dengan sebuah politik konfrontatif yakni saling sikut sana-sini.
Itulah mungkin konsekuensi ketika politik hanyalah dijadikan sebuah ajang pencari kekuasaan belaka. Politik hanya dijadikan pemuas dahaga saja pada kekuasaan yang semu.
Idealnya kekuasaan seharusnya tidak dijadikan sebuah tujuan akhir tetapi kekuasaan seyogyanya dijadikan mediator untuk menggapai tujuan bersama bukan tujuan individu dan kelompok. “Hasrat pada kekuasaan” itulah mungkin yang menjadi virus para petinggi partai. Selama ini Mahasiswa yang menjadi Rakyat (kalau di negara) seakan tidak merasa di ayomi oleh para politikus Republik Mahasiswa tapi mereka di buat sibuk untuk mempertahankan kedudukannya bagaimanapun caranya meskipun harus bertengkar dengan kawan atau sahabat mereka sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perlawanan Kampung Tempe Sanan Terhadap Kue Artis Teuku Wisnu, Krisdayanti, dan Kawan-Kawan

Mondok dan Islam Internet ala Jonru

Pelajaran Salat Taraweh untuk Menteri Muhadjir Effendy