UNTUKMU ALMAMATERKU


OLEH:IRHAM THORIQ

Tiga tahun yang lalu Ayah saya memasukkan saya untuk bersekolah disini, sekolah yang penuh kesederhanaan, Sekolah yang penuh sejarah dan disinalah dalam waktu tiga tahun saya habiskan waktu saya untuk mencari ilmu, dalam waktu tiga tahun inilah saya rasakan sesuatu yang amat menyenangkan. Rasa dahaga saya selama ini sedikit terobati. Dahaga saya akan ilmu, dahaga saya akan suasana yang fantastis, suasana yang dipenuhi dengan orang-orang yang luar biasa.
Luar biasa itulah mungkin yang pantas saya apresiasikan kepada teman-teman saya, kepada guru-guru saya yang selama tiga tahun membina saya dan teman-teman dengan penuh rasa kasih sayang, beliau tidak Cuma memerintah dan mengomando saja tapi juga dengan membina kami dengan rasa cinta dan kasih sayang yang mungkin tidak akan pernah kami temukan disekolahan lain yang mungkin lebih favorit dari sekolahan ini:MA “RAUDLATUL ULUM”.
Beliau (Guru saya) mengajarkan pada saya dan teman-teman untuk memahami arti hidup. Arti hidup yang hakiki arti hidup yang bukan berupa materi saja tapi juga arti hidup dalam arti yang lebih luas.”memberi sebanyak-banyaknya bukan menerima sebanyak banyak” itulah kata-kata yang selalu saya dengar dari beliau kata-kata yang bagi saya sangat menyangat jiwa, kata-kata yang penuh beribu makna. Beliau mengajar semisal hadits, tafsir, matemateka, dan lain sebagainya. Beliau tidak hanya mengajarkan teori dari ilmu tersebut tapi bagaimana teori tersebut bisa di implementasikan dalam wujud konkrit. Sekali lagi luar biasa mungkin ini adalah gerak reflek saya untuk mensyukuri karna ayah saya tiga tahun yang lalu tidak salah memilih sekolah untuk memintarkan anaknya.
Sekolah yang juga dipenuhi anak jujur, baik “baik dalam kanteks sosial dan spritual” bermoral dan juga tentunya cerdas. Teman saya sebut saja A merupakan teman yang baru saya temukan dalam hidup saya ini, hidup saya yang sudah delapan belas tahun ini saya baru menemukan teman yang sangat luar biasa( kalau yang luar biasa hampir satu kelas dan bahkan satu sekolah teman saya adalah luar biasa) dia “si A” mengajari saya dan juga teman-teman yang lain apa arti kesederhanaan dan bahkan kemiskinan. Dia tidak memandang kesederhanaan dan kemiskinan suatu yang perlu di tangisi tapi dia memandang bahwa kesederhanaan dan kemiskinan harus di sikapi dengan cara yang berbeda dan harus manjadi pelecut untuk tetap semangat. Tidak makan selama dua hari mungkin sudah suatu yang wajar baginya. Dia sama sekali tidak merasa sedih sama sekali dan bahkan dia tetap semangat belajar dan menyimak keterangan dari pak Guru. Ketika kita istirahat dia si A tetap saja dia belajar dengan sejuta harapan dengan rumus-rumus, Teori-teori ini bisa mensejahterakan dirinya dan juga keluarganya yang hanya bekerja sebagai kuli kasar.
Jujur dengan ketulusan hati dan kerendahan diri saya dan mungkin teman-teman saya sependapat dengan saya bahwa kami semua sangat bersyukur bisa bersekolah di tempat yang amat sederhana ini justru di tempat ini saya memahami apa arti hidup dan tidak hanya mencari ilmu hanya untuk lulus UAN saja. terlalu kecil menempatkan ilmu yang luar biasa hanya untuk lulus UAN saja. Guru kami mengajarkan kepada kami sebuah ilmu tidak hanya sampai kepada otak tapi juga mengajarkan ilmu sampai kepada hati. Karna hanya ilmu yang sampai ke hati sajalah yang bisa di amalkan dalam wujud kankrit. Sekali lagi terima kasih Almamaterku MA “RAUDLATUL ULUM” dan juga pada para Guruku dan juga pada teman-temanku bagiku kalian semua adalah orang-orang yang amat luar bias
*Alumni MA”RAUDLATUL ULUM” Tahun Lulusan 2007-2008

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perlawanan Kampung Tempe Sanan Terhadap Kue Artis Teuku Wisnu, Krisdayanti, dan Kawan-Kawan

Mondok dan Islam Internet ala Jonru

Pelajaran Salat Taraweh untuk Menteri Muhadjir Effendy