WAKTU.....DAN TAHUN YANG BARU

OLEH:IRHAM THORIQ

Tahun lalu saya merayakan tahun baru dengan tidur pulas dikamar Pesantren. Saya terbangun dengan baju yang masih saya pakai, sama sekali tidak ada yang beruba dalam diri saya, cuping hidung saya masih seperti tahun lalu, mata saya masih tetap dua dan begitu juga dengan yang lain. Semantara di pelbagai titik santero bumi berpesta dan berupacara menyambut tahun baru. Tanpa saya sadari saya telah memasuki tahu baru. Tahun yang berbeda dari kemaren waktu saya akan tidur, bahkan seandainya dikamar saya tidak ada jam dinding dan tak ada kabar dari teman saya mungkin saya tidak akan tahu bahwa saya telah memasuki tahun yang baru. itulah waktu yang terus mengalir tanpa bisa kita hentikan. Mungkin saya bisa menghentikannya dengan mencopot batu jam dinding dan membakar kalender tapi itu hanya utopia saya saja karna fenomena waktu akan terus berlanjut sekalipun kita tidak mengikuti fenomena tersebut.
Waktu yang termanifestasikan melalui detik, menit, jam,bulan dan tahun bagaikan roda yang terus berputar. Penulis yakin banyak orang yang masih belum mau ditinggalkan oleh tahun 2008 karna banyak target-terget yang belum tercapai, tapi itulah waktu yang merupakan sebuah sejarah dan sejarah menganut hukum kausalitas yang mana sebuah kejadian satu menanti kejadian yang satunya lagi dan begitu selanjutnya, misal kita akan makan yang tentunya untuk makan kita harus menanak nasi atau beli nasi dan setelah makan kita akan kenyang. Dari fenomena mau makan sampai kenyang merupakan sebuah sejarah yang menganut hukum kausalitas. Logika dasarnya tidak akan ada tahun 2009 kalau tidak ada tahun 2008. Kita tidak bisa memperlama tahun 2008 dengan menambah satu bulan misalnya karna di lain sisi tahun 2009 telah menanti.
Seribu tahun, seratus tahun: Dalam soal waktu hitungan-hitungan semacam ini membuat kita kecut. Umur rata-rata seorang manusia tak pernah mencapai jumlah seraksasa itu. Kita akan berrefleksi ketika kulit mulai mengeriput, rambut mulai putih kita tidak akan mungkin kembali menjdi remaja lagi, apalagi menjadi bayi lagi. Memikirkan hal tersebut mungkin sempat terlintas dibenak kita tapi hal tersebut merupakan sebuah utopia belaka -tamanni dalam bahasa arab-. Tetapi manusia hidup dengan akal budi dan kesadaran. Kesadaran nalar akan waktu yang berujung dan bertepi. Dengan detik, dengan menit, dengan hari, pekan, bulan dan tahun, kita pun menjadi sadar akan awal dan akhir. Kita berpikir tentang kelahiran, usia lanjut, dan kematian.
"Lalu waktu, bukan giliranku......", tulis Amir Hamzah dalam sebuah sajaknya, beberapa tahun sebelum ia mati dibunuh. Kesadaran beliau akan hidup yang fana, juga kesadaran akan hadirnya orang lain ada dan tak ada, dalam soal hidup dan mati dan dalam soal datang dan pergi, dalam soal "giliran" menyebabkan kita peka tentang batas. Manusia mengatur waktu seraya mengatur ruang dengan sebuah proyeksi dan rencana. Ia juga menyusun langkah dan skala prioritas. Manusia menyadari bahwa ia tak tahu apa saja yang akan berubah bersama waktu, bagaiman akan berubah, sementara ia tahu ada hal-hal yang tak akan hadir lagi. Maka ia pun memanfaatkan pengalaman. Pengalaman adalah ingatan. Ingatanpun menjadi tradisi. dan tradisi adalah kenangan kolektif untuk mempertahankan diri dari ketidakpastian perubahan. Ada sebuah peti dalam memahami waktu akan datang yakni "masa lampau" dan sangat berharga.
Dalam memahami apa yang akan terjadi pada 2009 kita mungkin tidak akan pernah tau karna kita bukanlah paranormal. Tapi percikan kata "masa lampau" merupakan kata kunci yang harus kita pegang dalam mencoba memahami dunia akan datang yang semakin tak bisa kita pahami. Jasmerah (jangan melupakan sejarah) itulah kata bung karno yang harus kita jadikan titik pijak dalam mengkonstruksi bangsa kita. Bangsa gandrung akan sebuah keadilan, kemakmuran dan kesejahteraan. Dalam 2009 merupakan sebuah pertaruhan nasib bagi bangsa kita. pemilu lagi-lagi akan terjadi ditahun ini. Pemilu tidak hanya sebagai -kata Bung Karno- machtsvorming dan machtsanwending yakni politik yang hanya dijadikan "pembentukan kekuasaan" dan "penggunaan kekuasaan" tapi pemilu yang bisa melahirkan politikus yang bisa mengabdi pada Bangsa dan Negara bukan pada diri sendirinya dan pada golongannya.
Seperti tahun-tahun sebelumnya tahun 2009 merupakan ketidakpastian bagi kita semua. Kata Bernstein patut kita renungi "ketidakpastian membuat kita merdeka". seandanya semua berjalan mengikuti hukum probabilitas, kita akan seperti kaum primitif: kita tak akan punya cara lain selain membaca membaca ulang do'a-do'a kepada Tuhan. Mungkin dengan begitu kita hidup dalam sebuah dunia yang tertata, dimana kemungkinan-kemungkinan bisa ditemukan polanya dan mengikuti analisis matematis. tapi, kata Bernstein, itu sama saja artinya dengan keadaan, di mana "tiap kita surut kedalam sel penjara yang tanpa jendela". "Berusa menyikapi hal-hal yang tak pasti" itulah kata-kata yang hendak diungkapkan Bernstein kepada kita semua dalam menyikapi tahun yang baru yangsarat akan ketidakpastian ini.
Bagi kita semua tahun yang baru merupakan harapan baru untuk lebih maksimal lagi dalam melakukan sesuatu. Baik dalam bekerja, belajar dan yang lain. Seyogyanya ditahuun ini kita bisa menghemat waktu -meskipun waktu tidak pernah berhenti- untuk menggapai angan-angan kita biar tidak hanya sebuah utopia belaka. "Waktu seperti pedang" itulah sabda nabi muhammad akan bahaya dan kejamnya waktu. Kita akan dibuat menangis, bersedih, tertawa dan bahkan mati oleh rangkaian lima huruf tersebut. Idealnya bagaiman kita bisa memanfaatkan waktu yang sempit ini dengan sebaik mungkin. Dengan bekerja, belajar dan yang lain se-proposional mungkin. tidak terlalu santai akan tugas kita dan tidak terlalu dipaksakan karna kalau dipaksakan kita seakan hidup diruang yang hampa yakni tidak bisa menikmati apa yang kita lakukan. Jangan ngotot bung! John Maynard Keynes pernah mengatakan "in the long run we are all dead". Kelak, toh akhirnya kita semua mati. Sebuah pesan untuk seluruh kehidupan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perlawanan Kampung Tempe Sanan Terhadap Kue Artis Teuku Wisnu, Krisdayanti, dan Kawan-Kawan

Mondok dan Islam Internet ala Jonru

Pelajaran Salat Taraweh untuk Menteri Muhadjir Effendy