Terbitlah Terang Bagi Perempuan

oleh: Irham Thoriq

"... Gadis-gadis harus kawin, harus menjadi milik seorang lelaki, tanpa bertanya apa, siapa, dan bagaimana!"
Tulis Raden Ajeng (RA) Kartini dalam sebuah suratnya kepada Ny RM Abendanon-Mandri dan Suaminya dalam buku beliau Habis Gelap Terbitlah Terang. Rangkaian kata diatas seakan-seakan memanifestasikan kondisi zaman pada saat itu. Gadis pada saat itu hanya dijadikan ajang pemuas libido lelaki semata, perempuan seakan menjadi otoritas penuh lelaki karena berposisi sebagai suami. Bermulai dari keresahan ini RA Kartini mendirikan sekolah untuk memberi kesempatan bagi perempuan untuk tetap bersekolah dan menggapai cita-cita. Bermulai dari gerakan inilah RA Kartini mencoba membalik paradigma yakni bahwa posisi perempuan tidak hanya didapur, kasur,kamar tetapi perempuan juga bisa berposisi dokter, dosen, seniman, budayawan dan bahkan Presiden.
Dalam buku beliau Habis Gelap Terbitlah Terang telah mengingatkan kita pada terang yang menerangi kegelapan langit malam kaum perempuan, pada Sang Fajar yang begitu pekat dan peduli terhadap penderitaan kaumnya. Kaum perempuan yang terbelenggu oleh adat-istiadat, budaya dan penafsiran keagamaan sehingga menjadi apa yang oleh Simone de Beauvoir disebut the second sex. Kaum yang terkungkung, terbelenggu, kehilangan jati diri dan menjalani eksistensi yang semata mendukung eksistensi kaum adam.
 Perjuangan kartini tentang emansipasi perempuan, belumlah berakhir. Melihat realitas yang ada perempuan masih sering dijadikan objek “penindasan” dari pihak tertentu. Ambil contoh, misalnya tentang iklan dalam televisi yang sering dijadikan pemeran adalah perempuan. sepeti iklan sabun mandi dan pemutih wajah perempuan dijadikan model dikarenakan perempuan bisa memancing konsumen karena faktor kecantikannya, keputihannya dan yang lain. Kalau kita analisis lebih dalam lagi ada semacam paradigma bahwa wanita yang cantik itu adalah wanita yang putih dan mulus. Dan yang menjadi keuntungan produsen sebab paradigma tersebut bahwa wanita yang hitam, tidak mulus akan membeli produknya dan secara tidak sadar kebanyakan wanita menerima paradigma itu secara mentah-mentah. Maksud penulis disini (meminjam kerangka analisis Michel Foucolt) bahwa wacana yang dipercaya dapat menjadi perekayasa sosial demi kepentingan pihak-pihak tertentu. Singkat kata dalam kasus ini perempuan secara tidak sadar telah dijajah, dibohongi oleh pihak berkepentingan. Sedangkan kalau kita melihat realita sosial yang ada selama ini masih banyak dikotomis kebijakan yang merugikan perempuan, seperti contoh jam malam ma’had yang dalam hal ini sangat merugikan mahasantriwati. karena itu kita harus lebih peka dan kritis tentang realita sekitar kita.
 Melihat masih melekatnya budaya patriarkhi. Yakni menempatkan laki-laki di wilayah publik dan meletakan perempuan dalam wilayah domestik. Mengingat hal tersebut Akibatnya, sebagian perempuan sulit meniti karier sehingga talenta mereka tersia-sia. Jutaan perempuan karier dan pekerja di seantero negeri, dari lereng-lereng gunung sampai bangsal-bangsal pabrik, mendapati bahwa kesetaraan belum tercapai dan bahwa mereka harus membanting tulang dari pagi buta sampai larut malam, karena beban peran ganda. Diperlukan pencerahan dan pemberdayaan terus-menerus agar peran publik, domestik, dan sosial dapat dihayati sebagai peran bersama lelaki dan perempuan.
 Karena dibutuhkannya peran bersama yakni tidak ada pendikotomisan antara peran laki-laki dan perempuan dalam wilayah publik maupun domestik. Melihat hal tersebut harus ada kesadaran untuk mengakui bahwa yang berkualitaslah yang bisa maju. Kalau perempuan lebih berkualitas maka laki-laki harus dengan lapang dada untuk memberi kesempatan kepada perempuan.  
 Tapi yang menjadi pekerjaan rumah (PR) kita semua adalah masih belum “merdekanya” perempuan baik dari zaman kartini sampai sekarang. Gerakan gender dan feminisme yang di lakukan selama ini masih belum bisa mangentas perempuan dari kekerasan rumah tangga, trafficking, eksploitasi dan yang lain. Oleh sebab hal tersebut harus ada kerja konkrit dalam pembelaan perempuan dan tidak hanya berputar dalam wacana. Selain itu harus ada sinergisitas antara penggerak gender dan feminisme dengan pemerintah yang membidangi perempuan. Karena kalau penulis cermati ada ketimpang tindihan antara dua institusi yang punya kesama tujuan ini. Mengingat tidak akan ada negara maju tanpa emansipasi hak karena bagaimanapun perempuan dan laki-laki harus bisa manjadi civil society dalam berbangsa dan bernegara. Sebab hal tersebut judul buku RA Kartini yakni Habis Gelap Terbitlah Terang harus kita ciptakan dalam menerangi perempuan berupa liberasi, emansipasi hak setelah pekat gelap berupa alienasi, eksploitasi menyelumuti kaum perempuan. Amien.!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perlawanan Kampung Tempe Sanan Terhadap Kue Artis Teuku Wisnu, Krisdayanti, dan Kawan-Kawan

Mondok dan Islam Internet ala Jonru

Pelajaran Salat Taraweh untuk Menteri Muhadjir Effendy