DENGAN DIES NATALIS KITA WUJUDKAN UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MENJADI LEBIH BAIK DAN MAMPU BERKOMPETISI

DENGAN DIES NATALIS KITA WUJUDKAN UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MENJADI LEBIH BAIK DAN MAMPU BERKOMPETISI
Oleh: Irham Thoriq*


Membicarakan Ulang Tahun, sebagaimana dirayakan oleh semua orang. Dalam pandangan Penulis merupakan ajang untuk flash back merefleksikan apa yang telah dan belum dilakukan. Melihat perkembangan UIN Maulana Malik Ibrahim yang begitu pesat. Tidaklah heran, ketika kita semua dibuat semacam tidak sadar diri. Yakni, kita seakan hanyut merenung takjub atas perubahan yang maha dahsyat ini. Meskipun kita sadari bersama, tidak akan ada sesuatu yang sempurna. Dalam artian semua sesuatu butuh proses, apalagi yang kita perbincangkan disini adalah mengenai Lembaga yang merupakan kepemilikan Kolektif bukan Individual.
Bermula dari kesadaran kepemilikan komunal inilah, akan ada semacam tanggung jawab sosial yang harus di emban oleh segenap civitas UIN Maulana Malik Ibrahim. Karena secara logikapun, tidak akan ada sebuah lembaga yang bisa maju ketika hanya bergantung pada perorangan. Oleh sebab itu, mengkonstekan sebuah tanggung jawab sosial kedalam segenap individu haruslah secara stab by stab dijalankan, yang pada akhirnya terciptalah sebuah kesadaran mengkonstruk Lembaga secara bersama-sama. Dalam artian, yang mempunyai kesadaran tidaklah hanya Rektor, Pembantu Rektor, Dekan dan yang lain melainkan segenap Civitas UIN Maulana Malik Ibrahim.
Selanjutnya, kenapa kesadaran akan tanggung jawab bersama perlu?. Itulah mungkin pertanyaan pertama yang harus kita jawab. Dalam pandangan Penulis, setiap individu tidak akan bisa bekerja secara all out apabila tidak ada semacam militansi dan semangat perjuangan untuk memajukan sebuah Lembaga. Ambil contoh, ketika Tentara dari Wilayah Milisi yang berjumlah sedikit mampu mengalahkan Tentara dari Sparta yang berjumlah lebih banyak. Dari kejadian ini membuktikan bahwa Tentara dari Wilayah Milisi yang karena kemilitannya mampu mengalahkan tentara dari Wilayah Sparta. Oleh sebab peristiwa inilah, kata Militan di ambil dari Wilayah Milisi di Negeri Yunani.
Peristiwa tersebut memang jauh dari apa yang kita perbincangkan kali ini. Tetapi, selayaknya bisa kita jadikan acuan. Bahwa dalam mengembangkan sebuah Lembaga harus ada sikap militansi dan totalitas terhadap Lembaga tersebut. Maka hanya sebuah perkataan tanpa makna ketika kita bicara mengembangkan UIN Maulana Malik Ibrahim hanya dengan sikap yang setengah-setengah dan tidak ada ketotalitasan di dalam setiap Individu. Perkataan Mantan Presiden Soekarno “ jangan tanyakan apa yang Indonesia berikan kepadamu, tapi tanyakanlah apa yang kamu berikan kepada Indonesia” bisa kita ubah sesuai konsteks pembahasan kita, yakni “Jangan tanyakan apa yang UIN Maulana Malik Ibrahim berikan kepadamu, tapi tanyakanlah apa yang kamu berikan kepada UIN Maulana Malik Ibrahim”. Dengan perubahan teks dari Soekarno inilah diharapkan sikap Militansi warga Indonesia terhadap Indonesia bisa menular sikap Militansi tersebut Terhadap seluruh Civitas UIN Maulana Malik Ibrahim terhadap Lembaganya.

Menuju Universitas Kompetitif
Dari sedikit uraian diatas, mungkin menjadikan UIN Maulana Malik Ibrahim sebagai Universitas yang Kompetitif inilah tujuan utamanya. Kompetitif berarti siap bersaing, yakni mampu bersaing secara sehat dalam segi akademis, pelayanan dan yang lain. Kata bersaing merupakan sebuah upaya untuk menjadi pemain yakni tidak hanya menjadi penonton.
Menyimak fenomena sosial yang terus berkembang, mungkin Universitas yang bisa bersaing secara kompeten adalah Universitas yang mampu secara teliti memanfaatkan peluang. Mengingat tidak akan ada Lembaga yang maju tanpa meneliti dan peka atas kebutuhan Masyarakat yang terus berdialektika atas kebutuhan sosial. Hal inilah yang kebanyakan terlupakan oleh para kebanyakan Lembaga Pendidikan. Ambil contoh, misalnya Pesantren Salaf yang hanya berkutuat pada Teks Klasik. Penulis sama sekali bukan orang yang anti Teks Klasik, tetapi yang perlu dipertanyakan ulang adalah masih Relefankah Kurikulum yang selama ini digunakan dalam manjawab tantangan kehidupan beragama Masyarakat. Hal ini mungkin tidak perlu Penulis jawab, yang penting ada kesadaran Kolektif bahwa hanya Pendidikan yang mampu berinovasilah yang akan mampu berkompetisi.
Inovasi dalam mengubah Lembaga Pendidikan. Inilah mungkin yang selama ini terus dijalani oleh UIN Maulana Malik Ibrahim. Mulai dari terobosan dengan mengadakan Ma’had, PKPBA dan yang lain. Langkah ini menurut Penulis sangat strategis mengingat kondisi Sosio-Kultural masyarakat indones$ia yang semakin memperihatikan. Penulis menyebut demikian, karena Indonesia dalam konteks kekinian tidak hanya membutuhkan Ilmuan yang hanya hafal berjuta teori, tetapi Indonesia juga membutuhkan sosok Ilmuan yang mempunyai etika dan moral yang bagus. Konsep tentang Ma’had dalam pendangan Penulis sangatlah tepat untuk mejawab fenomena tersebut. Dalam artian Universitas tidak hanya sebagai mesin Produksi Ilmuan, tetapi juga harus mampu mencetak Insan yang berbudi luhur. Dengan diadakan Ma’had inilah harapan itu muncul, yakni bisa menciptakan Intelek yang Ulama’ dan juga Ulama’ yang Intelek.
Dalam dinamika UIN Maulana Malik Ibrahim yang selama ini penulis cermati bahwa ada bermacam-macam keunikan daripada Universitas lain. Keunikan tersebut harus kita maksimalkan sebaik mungkin. Ambil contoh, dalam istilah Ilmu Psikologi ada istilahnya kreatifitas. Yakni bahwa setiap Anak pada dasarnya mempunya Innata Idea atau potensi bawaan sejak lahir. Tapi secara realitas hanya sebagian Orang Tua saja yang mampu memaksimalkan potensi Anaknya. Kalau kita analogikan dengan UIN Maulana Malik Ibrahim anggap saja keunikan UIN Maulana malik ibrahim ini sebagai potensi. Sebagaimana potensi, kalau kita tidak mampu memaksimalkan potensi tersebut maka potensi tersebut akan terhilang sia-sia. Oleh sebab itu, dalam hemat Penulis, kalau UIN Maulana Malik Ibrahim ingin bersaing dengan Universitas lain harus bisa berinovarsi dan memaksimalkan keunikan sebagai potensi yang harus dikembangkan. Dengan adanya maksimalisasi potensi inilah, tidak akan kita temukan potensi yang terbuang lagi. Seperti contoh diatas yakni Anak tidak bisa memaksimalkan potensi hanya karena pengasuhnya tidak memaksimalkan potensi.

Langkah Strategis Demi Kompetisi
Dalam persaingan pasti kita menemukan pesaing. Pesaing dalam konsteks ini bukan sebagai musuh yang harus kita hancurkan, tetapi harus kita anggap sebagai sahabat, yakni sebagai pemicu bagi kita untuk tetap dan terus maju. Kalau kita berkaca kepada Indonesia, maka yang harus kita rubah terlebih dahulu adalah Sumber Daya Manusia (SDA) terlebih dahulu. Karna SDA merupakan peran central dalam memajukan sebuah lembaga. Karena simbol kewibawaan Kampus terletak pada orang-orangnya yang berkualitas, sesungguhnya tidak sulit dipahami. Lembaga Pendidikan dalam bentuk dan yang hidup pada sejarah manapun, kebesarannya selalu dilihat dari kualitas orang-orangnya. Dahulu, terdapat Lembaga Pendidikan yang disebut padepokan. Sebuah padepokan disebut kesohor, manakala ia memiliki resi yang hebat. Para resi atau guru padepokan inilah yang memiliki magnet yang kuat hingga mampu menjadi kekuatan daya tarik terhadap orang-orang dari manapun asalnya datang ke tempat itu untuk mempertajam Ilmunya di padepokan ini. Demikian juga lembaga pendidikan Islam, Pondok Pesantren. Beberapa Pesantren disebut hebat dan namanya dikenal di mana-mana, bukan karena memiliki lahan yang luas, bangunan gedung Pesantren yang besar dan indah, melainkan Pesantren itu, tersohor karena memiliki Kyai yang menyandang nama besar. Oleh karena itu jika Kampus atau Perguruan Tinggi ingin disebut berkembang dan memiliki Nama besar dan kesohor, maka kuncinya adalah Kampus itu harus sanggup, secara terus menerus mengembangkan orang-orangnya dengan berbagai cara agar meraih nama besar itu. Dan karena itu, inti dari pada yang paling inti mengembangkan Kampus agar menjadi maju adalah adanya usaha membesarkan orang-orangnya. Sebab kekuatan kewibawaan Kampus sesungguhnya justru ada di sana. Dan UIN Maulana Malik Ibrahim sesungguhnya jika diukur dari aspek ini, secara jujur, rasanya belum bisa disebut telah maju. Saat ini posisinya baru pada fase secara bersama-sama berusaha keras untuk meraih kemajuan itu. Yakni dengan perlahan membenahi Sumber Daya Manusia mulai dari Dosen, Karyawan dan juga para Mahasiswa. Hal inilah sekali lagi harus ada kerja kolektif demi terwujudnya Sumber Daya Manusia yang unggul.

Etos Kerja dan Akademis
Kerja kolektif sebuah Lembaga sangatlah menentukan arah perkembngan sebuah Lembaga. Yakni, hanya orang yang sanggup kerja professional yang akan menjadi motor dalam mengembangkan Lembaga. Seorang Professional bukan hanya Lahir karena modal kepintaran saja, tetapi juga karena kerajinan dan ketekunan serta kerja keras. Orang pintar tetapi malas akan dikalahkan oleh orang yang kurang pintar tetapi rajin. Bayangkan apa jadinya bila orang pintar sekaligus rajin, tekun dan pekerja keras. Jadi fungsi dan peranan kerja keras tidak bisa diabaikan. Sekalipun ada kerja cerdas tidak membuat kerja keras jadi berubah menjadi kerja lemah atau kerja santai. Kerja cerdas adalah kerja yang tidak hanya mengandalkan otot semata melainkan juga menggunakan otak sehingga hasilnya terasa lebih efisien dan efektif.
Dengan kerja keras yang cerdas inilah di harapkan akan terjadi semacam Good Governace yakni tata kelola Lembaga yang akseleratif, inovatif, efisien, dan efektif. Mungkin etos kerja itu harus dimiliki semua pe$ngurus dan karya$wan UIN Maulana Malik Ibrahim. Yakni harus dipunyai oleh segenap Civitas mulai dari paling tinggi hingga ke stekholder paling bawah. Kalau kita membicarakan profesionalisme dalam prespektif psikologis maka profesionalisme hanya akan dimiliki oleh orang yang hanya berpikiran Positif. Orang yang berpikiran positif adalah orang yang mampu mempunya dreams atau mimpi dan harapan. Karena mimpi dan harapan merupakan self motivation (motifasi diri). Karena kitapun tidak akan bisa hidup dengan semangat apabila tidak mempunyai mimpi dan harapan. Seperti kata pepatah, semakin dihambat semakin merambat. Semakin di hadang semakin berkembang. Kenapa bisa begitu? Karena orang yang berpikir positif melakukan segala sesuatu bukan karena dorongan kepuasan pribadi semata dan bukan juga untuk keuntungan dan kepentingan pribadi. Kalau itu dasarnya maka akan mudah menyerah bila ada kesulitan. Tapi karena ada kepentingan orang lain, lembaga dan juga kepentingan Tuhan yang harus diperjuangkan maka keinginan untuk menyerah akan sirna. Dengan kata lain, etos kerja yang positif adalah sebuah alasan kenapa orang mau mati-matian berjuang untuk mencapai sebuah kesuksesan.
Selain etos kerja yang harus ditanamkan, tetapi harus ditanamkan pula etos Akademis yang kondusif. Kerena hanya dengan suasana Akademis yang mendukung suatu Lembaga Pendidikan bisa maju. Budaya membaca, berdiskusi, meneliti dan menulis harus ditanamkan kepada Insan Akademis UIN Maulana Malik Ibrahim. karena Lembaga Pendidikan akan diperhitungkan apabila mampu menciptakan Insan Akademis yang berkompeten dalam bidangnya yang hal itu hanya bisa terbukti berupa wacana, tulisan dan penelitian. Maka akan percuma apabila hanya menghandalkan kemegahan gedung apabila tidak ditunjang dengan kualitas akademis para Mahasiswa dan Dosen.
Oleh sebab pentingya budaya Akademis inilah, dalam pandangan Penulis membangun Fisik berupa gedung, saya kira lebih mudah dari pada membangun suasana Akademis yang kondusif. Dalam membangun budaya Akademis ini bisa dengan menciptakan lingkungan yang berbudaya membaca dan menulis. Meskipun tidak berupa represif kepada Mahasiswa tetapi minimal dengan menyadarkan pentingnya sebuah pengetahuan untuk kehidupan. Bisa pula dengan membuat stimulus kepada Mahasiswa, tujuannya untuk memicu mahasiswa dalam berbudaya membaca dan menulis. Stimulus itu bisa berupa lomba, seminar, penelitian, lokakarya dan hal-hal lain.

Refleksi Ulang Tahun
Dalam Ilmu Psikologi, bahwa Usia itu di bagi menjadi dua macam yakni Usia kronologis dan mental. Usia kronologis adalah usia umur seseorang. Sedangkan usia mental adalah usia mental seseorang. Kalau usia mental seseorang lebih tinggi dari pada usia kronologis, maka orang tersebut disebut orang luar biasa. Sedangkan kalau usia mentalnya lebih rendah daripada usia kronologisnya maka orang tersebut disebut cacat mental. Selanjutnya, kalau kita analogikan dengan Lembaga UIN Maulana Malik Ibrahim adalah bahwa UIN Maulana Malik Ibrahim yang masih berumur Lima Tahun sedangkan kualitasnya sudah luar biasa, kalau kita samakan dengan hal tadi adalah bahwa UIN Maulana Malik Ibrahim merupakan Lembaga yang luar biasa karena umurnya yang relatif muda sedangkan kualitasnya luar biasa.
Tetapi yang perlu di ingat kita tidak boleh hanyut terjebak oleh apa yang kita peroleh selama ini. Melainkan apa yang kita peroleh selama ini dijadikan cambuk penyemangat demi kemajuan UIN Maulana Malik Ibrahim lebih baik. Sedangkan kalau kita memahami apa yang akan terjadi yang akan datang, mungkin kita tidak akan pernah tahu, karena kita bukanlah paranormal. Tapi percikan kata "masa lampau" merupakan kata kunci yang harus kita pegang dalam mencoba memahami dinamika Lembaga ini. Jasmerah (jangan melupakan sejarah) itulah perkataan Ir. Soekarno yang harus kita jadikan titik pijak dalam mengkonstruksi Lembaga ini yang akan datang.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ke Lima bagi UIN Maulana Malik Ibrahim merupakan ketidakpastian bagi kita semua. Kata Bernstein patut kita renungi "ketidakpastian membuat kita merdeka". Seandainya semua berjalan mengikuti hukum probabilitas, kita akan seperti kaum primitif: kita tak akan punya cara lain selain membaca membaca ulang do'a-do'a kepada Tuhan. Mungkin dengan begitu kita hidup dalam sebuah dunia yang tertata, dimana kemungkinan-kemungkinan bisa ditemukan polanya dan mengikuti analisis matematis. tapi, kata Bernstein, itu sama saja artinya dengan keadaan, di mana "tiap kita surut ke dalam sel penjara yang tanpa jendela". "Berusaha menyikapi hal-hal yang tak pasti" itulah kata-kata yang hendak diungkapkan Bernstein kepada kita semua dalam menyikapi Tahun ke Lima UIN Maulana Malik Ibrahim yang sarat akan ketidakpastian ini.
Bagi kita semua, tahun yang baru merupakan harapan baru untuk lebih maksimal lagi dalam melakukan sesuatu. Baik dalam mengembangkan lembaga, belajar dan yang lain. Seyogyanya ditahun ke Lima ini kita bisa menghemat waktu untuk menggapai angan-angan kita, agar angan-angan tersebut tidak hanya sebuah utopia belaka. "Waktu seperti pedang" itulah sabda Nabi Muhammad akan bahaya dan kejamnya waktu. Kita akan dibuat menangis, bersedih, tertawa dan bahkan mati oleh rangkaian Lima huruf tersebut. Idealnya bagaimana kita bisa memanfaatkan waktu yang sempit ini dengan sebaik mungkin. Dengan pengembangan lembaga, belajar dan yang lain se-proposional mungkin. tidak terlalu santai akan tugas kita dan tidak terlalu dipaksakan karna kalau dipaksakan, kita seakan hidup diruang yang hampa, yakni tidak bisa menikmati apa yang kita lakukan. Maynard Keynes pernah mengatakan "In the long run we are all dead". Kelak, toh akhirnya kita semua mati. Sebuah pesan untuk seluruh kehidupan yakni untuk tetap tenang dalam menjalani kehidupan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perlawanan Kampung Tempe Sanan Terhadap Kue Artis Teuku Wisnu, Krisdayanti, dan Kawan-Kawan

Mondok dan Islam Internet ala Jonru

Pelajaran Salat Taraweh untuk Menteri Muhadjir Effendy