ASWAJA DAN REALITAS KEMANUSIAAN


Oleh: Irham Thoriq

I. Latar Belakang
Ada celetukan yang sangat menarik dari seorang sahabat saya, dia menyebutkan bahwa disetiap MAPABA dan PKD selalu ada materi tentang Aswaja,. Selanjutnya waktu di MTS sudah ada pelajaran tentang Aswaja. Dan di pihak lain Aswaja juga di ajarkan dalam bentuk sekolah Aswaja. Hal ini menarik karena disetiap kesempatan dan waktu Aswaja selalu menjadi bahan pembicaraan, terutama oleh sahabat-sahabat PMII.
Hal ini mungkin dapat dimaklumi karena ASWAJA PMII adalah bukan sebagai madzhab tetapi sebagai Manhaj Al-Fikr. Aswaja ini tentu mangalami dinamisasi karena sebagai landasan berpikir Aswaja harus mampu menjawab dinamika sosial yang ada, baik dalam masalah ekonomi,sosial, budaya dan yang lain. Oleh karenanya (meminjam istilah Pramodya Anantatoer) aswaja harus mem “bumi manusia”. Dalam artian aswaja tidak hanya dalam dataran wacana yang cenderung melangit tetapi juga harus di praksiskan guna menjawab permasalahan dinamika sosial yang ada.
Mengingat hal tersebut, penulis sebagai warga pergerakan juga mempunyai kewajiban dalam menyumbangkan ide-ide tentang aswaja sebagai solusi permasalahan yang ada. Selanjutnya, dalam makalah kali ini penulis mencoba menyajikan Aswaja sebagai landasan berpikir dan kaitannya dengan realitas kemanusiaan. Selain itu penulis juga memaparkan bahwa aswaja juga harus menjadi alat pembebasan bagi menusia yang penulis melihat akhir-akhir ini terbelenggu oleh sesama manusia, harta, pranata sosial dan yang lain sehingga mengakibatkan distorsi, dan alienasi yang simultan . kerena hal tersebut Penulis berharap tulisan ini bisa menjadi sumbangan dalam memetakan Aswaja dan kaitannya dengan realitas kemanusiaan dan juga dalam membebaskan manusia. Amien…!

PEMBAHASAN

I. Aswaja Sebagai Manhaj Al-Fikr Dalam Realitas Kemanusiaan
Pada permulaanya Ahlusunnah Wal Jama’ah merupakan suatu Ideologi. Dalam artian Aswaja merupakan keyakinan ideologis yang bermula dari Nabi Muhammad. Oleh sebab itu secara pengertian sederhana bahwa Aswaja adalah kesadaran seorang manusia yang mewujudkan dan mengamalkan ajaran-ajaran nabi Muhammad dan para sahabatnya. Dalam salah satu sabda nabi bahwa Aswaja adalah sesuatu hal yang didasarkan pada Nabi Muhammad dan para sahabatnya.
Sedangkan disisi lain Aswaja yang selama ini sering dipandang hanya sebagai mazhab (aliran, sekte, ideologi, atau sejenisnya). Hal ini menyebabkan aswaja dianut sebagai sebuah doktrin yang diyakini kebenarannya, secara apriori (begitu saja). Kondisi ini menabukan kritik, apalagi mempertanyakan keabsahannya. Sedangkan melihat peliknya persoalan kehidupan yang kita rasakan selama ini, menuntut bahwa aswaja tidak hanya dijadikab sebagai madzhab melainkan juga sebagai Manhaj Al Fikr.
PMII sebagai organisasi Pergerakan tentunya tidaklah cukup memakai aswaja sebagai mazhab, karena hal tersebut cendrung statis dan tidak mampu menjawab realitas kemanusiaan dalam dataran sosial. Oleh karena permasalahan tersebut, harus ada strategi baru dalam memahami realitas sosial dengan Aswaja. Maka dipilihlah Aswaja sebagai Manhajul Al-Fikr. Kerena dari tiga nilai dasar aswaja; yakni Tawasuth Tawazun, dan I’tidal mempunya dimensi kemanusiaan (humanis) yang luar biasa.
Nilai-nilai itu nyatanya amat fleksibel dan bisa diterapkan dalam situasi dan kondisi, bahkan tempat apapun. Aktualisasi dari prinsip yang pertama yakni tawasuth adalah bahwa selain wahyu, kita juga memposisikan akal pada posisi yang terhormat (namun tidak terjebak pada mengagung-agungkan akal) karena bagaimanapun kita harus secara proposional yakni antara wahyu dan rasionalitas. Tidak terlalu tekstul tanpa menggunggunakan pikiran dan juga tidak terlalu rasional dan menyingkirkan wahyu. Dari kombinasi tersebut harapannya tidak terjebak pada skriptualisme dan juga tidak pada rasionalisme, karena keduanya harus proposional.
Setelah itu seorang keder PMII harus bisa menerima sebuah perbedaan, baik perbedaan ideologis maupun keyakinan. Karena tidak benar ketika kita memaksakan keyakinan seseorang, dan yang menjadi keharusan bagi kita adalah menyampaikan dan mendialektikakan sebuah keyakinan yang dianggap kita benar adapun ending-nya diserahkan pada otoritas individu dan hidayah dari Tuhan. Ini adalah menifestasi dari prinsip tasamuh dari aswaja sebagai Manhajul Fikri. Dan yang terakhir adalah tawazzun (seimbang). Ruang lingkup tawazun ini sangat luas, baik dalam tatanan sosial maupun politis.. hal ini penting kerena kebanyakan akhir-akhir ini kebijakan cendrung tidak berpihak kepada kaum mustadafin. Walaupun dalam kenyataannya sangatlah sulit atau bahkan mungkin tidak ada orang yang tidak memiliki keberpihakan sama sekali, minimal keberpihakan terhadap netralitas. Artinya, dengan bahasa yang lebih sederhana dapat dikatakan bahwa memandang dan menposisikan segala sesuatu pada proporsinya masing-masing adalah sikap yang paling bijak, dan bukan tidak mengambil sikap karena itu adalah manifestasi dari sikap pengecut dan oportunis.
Setelah itu Selain mengubah Aswaja yang bersifat teologis kedalam Manhajul Fikr. Perlu juga ada semacam penyadaran berkelanjutan dalam menciptakan aswaja keranah praksis dan tidak hanya bergulat dalam dataran Wacana seperti yang selama ini sering terjadi. Dan langkah selanjutnya adalah sejauh mana Aswaja secara amplikatif mampu lebih membebaskan manusia dari sikap perbudakan, baik perbudakan dari harta,manusia dan makhlu tuhan yang lain.
Meningat tantangan kemanusian kedepan akan semakin pelik dan suliat, usaha pertama yang harus dilakukan adalah kembali mencari dan makna tujuan hidup (sanse the meaning and purpose). Dalam realitas kemanusiaan pasti sering ada ambiguisitas tangang makna dan tujuan hidup. Melihat hal tersebut, kaum Aswaja harus bisa memformulasikan dan mampu mem praksiskan dalam wujud kemanusiaan.

II. Aswaja Sebagai Pembebasan
Dari realitas Modern jelas bahwa seringkali manusia dibuat distorsi atas segala pranata-pranata modern. Atau kalau meminjam istlah Karl Mark bahwa dalam sektor industri buruh akan mengalami alienasi, baik itu pada produksinya, teman kerjanya dan yang lain. Hal ini membuktikan bahwa pranata sosial seringkali menjadi “budak” atas pranata-pranata sosial. Dalam hal tersebut diperlukan suatu ideologi yang mampu membebaskan manusia dari setiap distorsi dan alienasi.
Teologi pembebasan disini berpusat pada manusia dan kekuatannya, atau Humanistic Theologi. Manusia harus dapat mengembangkan kemampuannya akalnya agar dapat memahami dirinya, hubungannya dengan sesamanya dan kedudukannya di alam ini. Dia haus mengenal kebenaran, dengan melihat pada keterbatasan maupun potensinya. Dia juga harus mengembangkan rasa cinta pada orang lain meupun pada dirinya serta merasakan solidaritas pada semua kehidupan.
Dalam menghadirkan teologi humanistik, dan sebaliknya menghindari dari teologi otoritarian dan teologi yang di monopoli kepentingan politik. Manusia harus bisa memahami dirinya dalam hubungannya dengan sesama manusia. Dan teologi pembebasan disini bisa kita kaji dari berbagai prespektif.
Dalam prespektif islam misalnya, makna pembebasan teologi terletak pada ajaran tauhid. Implikasi pembebasan atau efek pembebasan tidak hanya dalam konteks tauhidullah dalam pengertian dari semua ikatan ketuhanan yang absurd dan otoritarianistik. Tapi, pembebasan dari semua unsure struktrur sosial, ekonomi, politik, budaya yang cendrung menjadi determinan bagi kemerdekaan manusia.
Nampaknya, persoalan diatas merupakan agenda intelektual bagi kalangan aswaja kedepan. Ini dapat dilakukan dengan mula-mula menghadirkan rancang bangunanan teologi aswaja sebagai rekonstruksi terhadap pemikiran lama yang dianggap kurang memberikan system makna yang jelas, dalam artian tidak membebaskan dan terjebak pada status quo. Karena itu perlu dikembangkan suatu pemikiran yang terbuka dan siap berhadapan dengan persoalan baru dan interpretasi baru. Aswaja tidak boleh berhenti sebatas metode berpikir (manhaj al-fikr) lagi. Tetapi harus sudah menginspirasikan sebuah kebangkitan melalui metode berkarya (manhaj al-‘amal). Dengan metode berkarya inilah aswaja akan dirasakan manfaatnya, karena keberadaannya tidak lagi absurd dan melangit, namun harus sudah bersenyawa dengan kebutuhan manusia dan kehidupan di tengah realitas yang dinamik. Oleh karena hal tersebut Nilai-Nilai Aswaja harus di praksiskan dalam wujud konkrit dan sebagai strartegi pergerakan dalam membebaskan manusia dari setiap belenggu, distorsi dan alienasi.


di tulis sebagai persyaratan umum PKL XIV PMII Kota malang

Komentar

Hilal Alifi mengatakan…
woih, udah ikutan PKL, ya. . . :p

Postingan populer dari blog ini

Perlawanan Kampung Tempe Sanan Terhadap Kue Artis Teuku Wisnu, Krisdayanti, dan Kawan-Kawan

Mondok dan Islam Internet ala Jonru

Pelajaran Salat Taraweh untuk Menteri Muhadjir Effendy