Surat Terbuka untuk Prov. Aminuddin Kasdi

Sungguh saya tidak habis pikir seorang guru besar sejarah seperti Sampeyan bisa-bisanya ngomong begini: “Sejarah memang versinya yang menang. Lha, gimana, kalah kok njaluk sejarah!”

Prof. Aminuddin Kasdi, sampeyan pasti tahu itu parafrase yang sudah nyaris menjadi klise, sekaligus sindiran yang tajam pada narasi sejarah yang dianggap selalu memberi porsi besar pada para “pemenang” dan mengabaikan para “pecundang”, tak peduli ia punya peranan besar atau kecil sekali pun.

Mestinya, mahasiswa sejarah, para pengajar sejarah, apalagi para guru besar sejarah macam Sampeyan, merasa malu dan tersindir dengan parafrase itu. Sebab, jika parafrase itu diterima dan dilanggengkan,itu sama saja mengatakan: “Lha emangnye sejarawan ngumpet semua di ketiak penguasa semua? Sampeyan juga dong, ya?”

Jika memang sejarah hanya untuk para pemenang, ngapain lagi belajar sejarah, mempelajari filsafat sejarah, metode dan metodologi sejarah?

Jika sejarah hanya memberi tempat pada para pemenang yang berhasil memenangkan satu “kompetisi” panjang merebut kekuasaan, ngapain lagi masih ada Departemen Sejarah di perguruan tinggi? Ngapain pula Sampeyan ngajar sejarah di kampus? Ngapain pula Sampeyan masih jadi guru besar sejarah?

Jika demikian, tak usahlah melakukan penelitian tentang DI/TII, PRRI/PERMESTA, atau RMS. Tak usah pula susah-susah menulis tentang Kartosuwirjo, Aidit, Njoto, Soumakil, Sjafruddin Prawiranegara, Soetan Sjahrir, atau Tan Malaka. Tak usah pula Anda menulis buku tentang BTI yang mengkampanyekan land reform?

Jika benar bahwa para pecundang dalam sejarah tak usah diberi tempat dalam historiografi, maka saya sarankan Sampeyan juga membakar semua buku-buku tentang PKI, semua-mua buku tentang DI/TII, segala-gala buku tentang PRRI/Permesta.

Eits, tapi nanti dulu. Tapi kenapa Sampeyan hanya mengamini dan membiarkan pembakaran buku Revolusi Agustus karya Soemarsono? Apa karena Soemarsono seorang komunis?

Oooo, jika begitu, saya paham apa yang Sampeyan maksudkan. Sampeyan maksudnya ingin omong: Para pecundang memang tak berhak meminta sejarah, tapi tak semua harus dibakar, cukup buku-buku PKI saja yang dibakar, bukan? Karena mereka komunis, bukan?

Prof., sejarah di negeri ini memang penuh dengan bau yang tak sedap. Tidak mudah, memang, mengakui hal itu. Apalagi jika kebenaran sejarah itu ternyata tidak sesuai seperti yang Sampeyan bayangkan, tidak senada dengan yang Sampeyan harapkan.

Seorang fans berat Soekarno pasti akan merasa tak enak hati jika teringat Soekarno yang inspiratif itu pun pernah berlaku lancing memenjarakan lawan-lawan politiknya [Sjahrir, Natsir, Kasman Singodimedjo sampai Mochtar Loebis] tanpa pengadilan dan membubarkan partai-partai yang berlawanan pandangan politik dirinya [PSI dan Masjumi].

Seorang pengagum Pramoedya, sastrawan yang karya-karyanya penuh dengan pembelaan terhadap kemanusiaan, pasti akan sedikit perih jika ingat bahwa Pram pernah berkata: “Kenapa buku-buku semacam ini [novel Dokter Zhivago karya Boris Pasternak] masih juga bisa ditemukan di pinggir jalan?”

Seorang anak muda dari lingkungan NU yang tercerahkan pasti akan perih hatinya menyadari banyak santri dan kyai yang mengamini dan bahkan melakukan pembunuhan massal pada orang-orang yang dianggap terlibat dengan PKI.

Seorang terpelajar Indonesia akan sedih mengetahui bahwa tentara dari negeri yang sangat ia cintai pernah berlaku lancung dan ganas di Aceh, Timor Timur dan Papua.

Seorang yang anti-PKI pasti akan susah untuk mengakui bahwa partai inilah yang pertama kali menggunakan nama Indonesia sebagai nama partainya. Seorang yang anti-PKI pasti akan kesulitan mengakui bahwa di saat partai dan organ-organ pergerakan lain memilih jalan moderat, justru PKI-lah partai dan organ pergerakan pertama yang terang-terangan berani angkat senjata pada pemerintah colonial Hindia-Belanda.

Jika Sampeyan seorang politisi atawa seorang ideolog, saya bisa mafhum jika Sampeyan hanya akan mengungkapkan apa yang dirasa penting dan sesuai dengan visi politik dan ideologi yang dianut. Tapi Sampeyan seorang akademisi, guru besar pula.

Baiklah, sekali lagi, baiklah, saya mencoba mafhum dan sekuatnya mencoba paham. Orang memang boleh punya pandangan politik, juga berhak menganut ideologi. Itu juga berlaku pada seorang akademisi, seorang sejarawan, bahkan seorang guru besar.

Tapi, sungguh, saya tak bisa paham kenapa Sampeyan ikut-ikutan membiarkan orang-orang yang membakar buku Revolusi Agustus karya Soemarsono? Saya sukar untuk paham kenapa bisa seorang guru besar mendukung aksi vandalisme? Kenapa bisa Anda hadir di kerumunan para pembakar buku dan sempat pula dikabarkan memberi orasi di sana dan seakan menjadi juru bicara para pembakar buku saat berdialog dengan redaksi Jawa Pos?

Untuk soal bakar-bakaran buku itu, maaf saja Prof. Aminuddin Kasdi, sampeyan sudah kelewatan.

Sejak hari pembakaran buku itu, Sampeyan tak punya lagi otoritas moral untuk menyerukan mahasiswa membaca buku, karena bagaimana bisa kita dengar seorang yang mendiamkan dan menyetujui pembakaran buku malah menganjurkan mahasiswanya membaca? Sampeyan lebih pantas menganjurkan mahasiswanya membakar buku, daripada membaca buku.

Sejarah mungkin milik para pemenang, seperti yang Sampeyan katakan. Tapi, sejarah [google dan mesin pencari di internet] telah mencatatkan Aminuddin Kasdi sebagai salah seorang profesor penyokong pembakaran buku. Anak cucu Anda, Profesor, akan mengetahui hal ini, kelak!

Ataukah gelar Prof[esor] di depan nama sempeyan itu perlu diganti menjadi Prov[okator]? Baiklah kalau begitu. Tampaknya Sampeyan lebih gagah jika menyandang nama Prov. Aminuddin Kasdi!

*Tulisan ini disadur dari website PB PMII, Jadi bukan tulian saya. tidak saya cantumkan penulisnya karena di website itu tidak ada nama penulis. Selain tulisan ini, semua yang ada di blog ini adalah tulisan saya semua. An Irham Thoriq. Salam Sejahtera.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perlawanan Kampung Tempe Sanan Terhadap Kue Artis Teuku Wisnu, Krisdayanti, dan Kawan-Kawan

Mondok dan Islam Internet ala Jonru

Pelajaran Salat Taraweh untuk Menteri Muhadjir Effendy