Bahasa dan Kuasa


Dalam kehidupan sehari-hari, kita tak bisa memisahkan diri dari dua kata, yakni bahasa dan kuasa. Bahasa merupakan alat komunikasi antar individu atau antar kelompok. Sedangkan kuasa adalah sebuah panggung dimana individu dengan individu ataupun kelompok dengan kelompok bertemu dan saling mempunyai kepentingan.
Kuasa tidak ubahnya sebuah panggung seni, dimana retorika bahasa digunakan. Layaknya panggung seni, permainan-permainan bahasa dipergunakan dengan terencana hanya untuk menghibur dan menguasai penontonnya. Dalam panggung seni tidak ada istilah membohongi penonton yang terpenting penonton bisa terhibur dan terkuasai oleh para seniman. Di dunia seni tidak ada istilahnya oposisi biner bahwa ini baik ini buruk, ini kotor dan ini bersih. Semuanya sama yakni semuanya hiburan tidak pandang itu baik maupun buruk.
Yang perlu diingat, menghibur dan menguasai dalam kuasa tentunya tidak lepas dari kepentingan pihak penguasa terhadap yang dikuasai. Yang terkuasai (rakyat) secara sengaja dibohongi, dikekang, dan dikungkung oleh penguasa hanya dengan permainan-permainan bahasa. Seperti seni dalam kuasa tidak ada istilahnya oposisi biner, dalam artian semua wacana diproduksi hanya untuk melegitimasi kepentingan penguasa dan tidak pandang wacana yang diproduksi tersebut baik maupun salah.
Dalam pandangan Bourdieu bahwa “kekuasaan kata” dalam hal ini bahasa hanya dijadikan alat oleh penguasa untuk memobilisasi demi melegitimasikan otoritasnya sebagai penguasa. “Kata” dalam prespektif Bourdieu mempunyai kuasa yang besar, dimana “kekusaan kata” seseorang dapat melegalkan yang ilegal dan membuat baik yang tidak baik.
Hal diatas membenarkan pemikiran Jurgen Habermas dalam bukunya Knowledge And Human Interest bahwa pengetahuan tidak akan terpisahkan dari kepentingan. Dalam kasus ini, bahasa sebagai pengetahuan tidak terlepaskan dari kepentingan penguasa untuk menguasai rakyatnya. Bahasa dalam kekuasaan dikeluarkan oleh sebuah lembaga hanya untuk diperdengarkan, dipercayai, dipatuhi, dijawab dan tidak boleh dipertanyakan karena bahasa tersebut layaknya bahasa tuhan yang mutlak kebenarannya.
Menganggap bahasa penguasa sebagai bahasa tuhan inilah yang perlu dikritisi. Karena bagaimana pun kebenaran tetaplah relatif sekalipun itu bahasa sang penguasa. Penguasa dalam pandangan penulis disini adalah lembaga-lembaga yang di dalamnya terdapat kuasa baik itu lembaga Negara, Kampus maupun yang lain. Lembaga-lembaga tersebut dalam bahasanya Bourdieu melegitimasikan kepentingan dengan bahasa yang dibungkus seolah-olah benar meskipun hal tersebut salah.
Kalau kita kaitkan dengan lembaga yang punya kekuasaan seperti Negara dan Kampus tentunya kalau kita kritisi ada peraturan yang kurang baik dibungkus dengan kata-kata halus dan mengakibatkan peraturan tersebut seolah-oleh benar. Ambil contoh, SBY tentu akan berkilah bahwa penertiban pedagang kaki lima (PKL) sebagai sebuah ketertiban tanpa memandang bahwa hal tersebut banyak merugikan rakyat kecil, peraturan tersebut dibungkus dengan bahasa lain untuk mencitrakan bahwa peraturan tersebut maslahat bagi semua rakyat. Begitu juga dengan rektor kita, pasti akan berkilah bahwa jam malam UKM adalah sebuah penjagaan bagi mahasiswa agar tidak melakukan asusila di UKM pada malam hari, rektor tentunya tidak akan membahas bahwa anak UKM banyak dirugikan akibat adanya jam malam.
Negara dan kampus dalam hal ini sama memiliki kuasa. Baik kuasa presiden kepada rakyat dan rektor kepada mahasiswa. Presiden dan rektor dalam bahasa psikologi sering menggunakan persona (topeng) dengan cara membungkus-bungkus bahasanya untuk merepresi dan membohongi yang dikuasai, layaknya seniman membohongi penonton hanya untuk menghibur para penonton.
Rakyat dan mahasiswa kalau tidak kritis terhadap kata-kata yang diproduksi oleh penguasa tentunya akan dibohongi layaknya anak kecil yang sering tertipu hanya akibat retorika bahasa. Mengingat petuah Habermas bahwa produksi wacana yang dilakukan seseorang tidak ada yang lepas dari kepentingan, maka waspadalah terhadap retorika bahasa oleh penguasa.

oleh : Irham Thoriq

tulisan pernah dimuat di Patriotik

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perlawanan Kampung Tempe Sanan Terhadap Kue Artis Teuku Wisnu, Krisdayanti, dan Kawan-Kawan

Mondok dan Islam Internet ala Jonru

Pelajaran Salat Taraweh untuk Menteri Muhadjir Effendy