AGAMA dan UANG


Mungkin benar kata Kark Mark tentang konsepnya bahwa dalam kehidupan yang sangat menentukan adalah ekonomi. Semua tindakan yang berada di dunia ini tak luput dari hakl tersebut, yakni ekonomi. Mulai dari espek budaya, social, psikologi maupun agama. Semuanya bernuansakan ekonomi.
Senada dengan kark Mark yang komunis, hal yang sama juga pernah di ungkapan Ronggowarsito tentang terminologinya zaman edan. Dalam pandangan santri ini zaman edan adalah zaman yang ketika yang tidak ikut edan tidak akan kebagian. Semuanya bernuansa ekonomi, kuasapun sarat akan dengan ekonomi: uang. Lebih luas tentang zaman edan, beliau mengungkapakan bahwa manusia di zaman itu tidak lagi memegang nilai-nilai dan ideologi. Semuanya yang menjadi patokan adalah uang.
Yang menjadi kajian menarik adalah kedua tokoh ini saling meletakkan akonomi atau uang sebagai sub kultur yang menguasai pola kehidupan kita. Orang bisa hidup tanpa nilai-nilai dan ideology. Dalam modernisasi seperti saat ini orang ateis dan tidak mempunyai keyakinan tentu sangat wajar dan masih bisa menikmati hidup. Namun akan berbeda ketika manusia tidak mempunyai uang. Semua menjadi rumit dan runyam.
Jamak diketahui, bahwa sistem dan perangkat social kita dalam prakteknya telah dihegomoni oleh uang. Banyak prangkat-perangkat social yang berdiri karena hanya merebutkan proyek yang semua berujung pada uang. Tidak hanya itu, uangpun menguasai segalanya. Jangan harap bisa mencalonkan kepala daerah kalau tidak mempunyai uang yang melimpah. Jangan berharap banyak menjadi pegawai negeri sipil kalau sedikit uang.
Selanjutnya, uang dalam prakteknya tidak hanya dijadikan alat untuk memproleh hal yang bersifat duniawi. Namun uang sudah dijadikan alat untuk memeras para penganut agama yang itu bersifat ritual keagamaan. Banyak ritual keagamaan yang dijadikan alat untuk mendapatkan keuntungan ekonomis. Agama dijadikan alat untuk memperoleh kepentingan keduniaan, inilah zamana edan kata ronggowarsito.
Ambil contoh, fenomena keagamaan manjelang puasa banyak dijadikan oleh Negara untuk memahalkan sembako dan makanan. Awal puasa yang kebanyakan masyarakat berbelanja banyak oleh pemerintah malah dijadikan alat untuk memeras rakyat. Bayangkan, ketika umat muslim yang kebanyakan berbelanja menjelang puasa, dari hal tersebut berapa banyak kerugian yang dialami rakyat tersebut.
Negara dalam hal ini telah gagal menjalani fungsinya. Negara mempunyai fungsi untuk melayani masyarakat, namun ditengah masyaratkat membutuhkan sembako dan negaralah yang berperan memainkan harga demi kepentingan ekonomi sepihak. Sebagai pelayan Negara selayaknya memeberikan pelayan yang terbaik bagi rakyatnya, seperti memberi sembako murah ditengah rakyat membutuhkan.
Tidak hanya itu, ritual keagamaan seperti Haji seringkali dijadikan alat memuaskn nafsu ekonomi sang pejabat. Haji merupakan ritual paling mahal kerana yang ingin melaksanakan haji harus punya dana lebih dari tiga puluh lima juta. Selama ini haji adalah ritual keagamaan yang paling kontrofersial. Paling diperdebatkan oleh dewan dan dari menteri keagamaan. Mulai dari pelayanan sampai kenaikan ongkos naik haji.
Haji diperdebatkan karena didalamnya banyak uang. Banyak uang otomatis banyak proyek. Semua saling berebut mendapatkan proyek itu. Kalau kita analisis, harga hotel waktu bulan haji sangat mahal, begitu juga dengan tiket penerbangan dan keperluan lain. Inilah yang disebut religionomik, yakni ketika religi sangat erat dengan kepentingan ekonomi. Ketika membutuhkan menjalankan ibadah haji pemerintah malah memperdebatkan kenaikan haji. Malah berbondong memanfaatkan ritual ini demi mendafatkan okonomi semata.
Religionomik merupakan sikap. Sikap memanfaatkan para pemimpin bangsa ditengah ritual agama. Mulai dari puasa sampai ibadah haji semuanya terdapat kepentingan ekonomi yang cendrung membohongi. Hal inilah yang mengalami degradasi kepemimpinan bangsa ini. Kerana selayaknya pemimpin harus mengayomi dan memberi pelayanan terbaik dan termurah ditengah rakyat yang membutuhkan. Inilah yang disebut relasi religi dan ekonomi yang mana religi dijadikan alar untuk kepentingan pragmatis ekonomi semata.
Agama adalah candu yang dikemukakan Karl Mark dalam kasus ini menurut penulis ada benarnya. Yakni ketika penganut agama dijadikan mabuk oleh agama. Mereka tidak sadar kalau ritual keagamaannya dijadikan alat untuk mendapatkan uang sebanyak-banyaknya. Candu inilah yang membuat keagamaan kita irasional dan jauh dari subtansi.
Selajutnya, imam ghozali pernah membagi orang pandai (Ulama’) menjadi dua bagian. Pertama adalah ulama’ akhirat yakni orang pandai yang menggunakan ilmunya karena tulus mendapati ridho Allah. Kedua, Ulama’ dunia, yakni orang pandai yang menggunakan ilmunya hanya demi kepentinagan dunia belaka. Ulama’ dunia ini mengeluarkan kebijakan dan fatwa hanya demi kepentingan dunia. Berdakwah hanya karena uang.
Ulama’ dunia inilah yang kata imam Al-Ghazali akan mendapatkan siksa pertama di akhirat karena telah menggunakan ilmunya demi kepentingan pribadi atau golongannya. Kaitanya petuah imam ghazali dengan pembahasan kali ini adalah pemimpin yang merupakan orang pandai (Ulama’) selayaknya tidak menggunakan ilmunya hanya demi kepentingan sesaat apalagi bila hal tersebut berkaitan dengan agama.
Agama merupakan hal yang suci. Terdapat nilai-nilai moral dan keagungan antara hubungan makhluk dengan sang penciptanya. Agama selayaknya ditempatkan dipesisi pula, agama selayaknya jauh dari kepentingan duniawi. Karena agama adalah urusan akhirat. Agama dan Uang dilain sisi merupakan satu kesatuan namun agama jangan terlalu dipolitisir hanya demi kepentingan uang semata.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perlawanan Kampung Tempe Sanan Terhadap Kue Artis Teuku Wisnu, Krisdayanti, dan Kawan-Kawan

Mondok dan Islam Internet ala Jonru

Pelajaran Salat Taraweh untuk Menteri Muhadjir Effendy