BERPUASA KORUPSI


Puasa secara pengertian etimologi adalah Al-Imsak atau mencegah. mencegah dari segala sesuatu yang mengakibatkan batal puasa. yang membuat batal puasa beraneka ragam mulai dari makan, minum, merokok, bersetubuh dan yang lain. Pengertian tersebut merupakan puasa yang hanya berkaitan dengan fisik, tidak bersangkutan dengan hati. pengertian puasa yang sangat sederhana.
Lebih luas, pengertian puasa adalah mencegah yang berkaitan dengan hati. mencegah dari prasangka buruk, sombong, iri dan penyakit hati yang lain. puasa tidak hanya aktifitas fisik yang berkaitan dengan dahaga dan lapar. lebih dari itu, puasa merupakan kerja hati yang lebih sulit dari aktifitas fisik. aktifitas hati tersebut sebagaimana kita mencegah amarah kita ditengah kesabaran kita di uji saat lapar dan haus. kita harus tetap sabar, itulah aktifitas hati saat puasa.
Puasa merupakan ibadah yang senagtiasa harus ikhlas. Karena puasa adalah ritual agama yang hanya diperuntukan kepada tuhan. Dalam puasa yang mengetahui bahwa individu tersebut puasa atau tidak hanya individu tersebut dengan tuhan. Dalam puasa seseorang bisa saja pura-pura lapar dan loyo ditengah orang banyak meskipun tidak berpuasa. Inilah yang disebut puasa adalah ibadah makhluk dengan hambanya langsung. Inilah yang mengakibatkan bahwa orang yang berpuasa harus senangtiasa ikhlas tanpa pamrih dari siapapun.
Bulan puasa disebut bulan suci karena didalamnya terdapat ke-iklasan. Ikhlas dalam artian tulus tanpa pamrih. Seperti di ungkapan Nabi Muhammad SAW bahwa seseorang senangtiasa dalam puasanya hanya mendapatkan haus dan lapar saja dikarenakan individu tersebut tidak ikhlas menjalankan puasanya dan lebih banyak disebabkan oleh urusan duniawi semata. Hal inilah yang mengakibatkan puasa kurang menjadi sakral dan substansial karena yang menjalankan banyak yang pamrih: tidak ikhlas.
Selanjutnya, penulis mencoba mengkaitkan konsep ikhlas dalam puasa dengan konteks kebangsaan kita. Dari tahun ketahun puasa kalau penulis bilang hanya semacam seremonial belaka. Puasa tidak bisa berdampak signifikan bagi bangsa ini. Puasa yang tujuannya membersihkan hati untuk mencapai kasalehan, baik itu kesalehan social maupun spiritual. Secara kesalehan social puasa telah gagal mengantarkan umat muslim bebas dari belenggu duniawi yang cendrung merugikan sesamanya.
Ambil contoh, puasa tidak berdampak apapun dari proses pemberantasan korupsi. Puasa hanya dijadikan seremonial tahunan yang tidak berbekas dalam tatanan social kita. Sebagai penduduk muslim terbesar di Asean, Indonesia malah menjadi Negara terkorup se-Asean. Hal tersebut bisa dibilang kebetulan, namun seyogyanya puasa yang banyak di laksanakan oleh muslim Indonesia seharusnya punya dampak social, minimal korupsi tidak meraja lela.
Merujuk bulan puasa adalah bulan ikhlas. Ikhlas beramal baik untuk tuhan maupun sesama manusia. Kalau kita cermati fenomena korupsi merupakan fenomena yang disebabkan ketidak ikhlasan para pejabat Negara dalam menjalankan amanah. Pejabat Negara yang seharusnya mengayomi masyarakat malah merampok uang rakyat. Inilah yang menjadi ironi, karena bagaimanapun puasa mengajarkan tentang kasalehan social yakni berbuat baik sesama manusia. Tindakan korupsi bentuk dari puasa yang dijadikan hanya sebagai seremonial belaka. Konsep kesalehan social tidak terjawantahkan kepada pejabat kita.
Penulis menyebut tidak saleh social kerena ditengah sembako mahal, kemiskinan merajalela, dan pengangguran bertebaran dimana-mana pejabat kita melakukan korupsi dimana-mana. Kekuatan politik pemerintah pemenang malah membuat korupsi meraja lela. Kekuasaan yang terlalu besar karena koalisi yang gemuk malah memberi peluang bagi tumbuh berkembangnya korupsi. Otonomi daerah semakin membuat kerajaan kecil di daerah-daerah yang memberi peluang pejabat daerah untuk berkorupsi secara bersama-sama. Bisa dibilang korupsi terjadi dari sabang sampai meraoke.
Prespektif penulis bulan puasa merupakan wahana yang tepat untuk meminimalisir korupsi. Seperti penulis sampaikan diatas bahwa puasa yang didalamnya terdapat sebuah konsep ikhlas harus menjadi penutan bagi para pejabat Negara, dari nasional sampai regional. Asumsi penulis Karena hanya dengan ikhlas para pejabat bisa menjauhi “penyakit” korupsi. Karena bagaimanapun ketika pejabat sudah ikhlas maka akan bisa mengabdi kepada rakyat sepenuh hati, tanpa pamrih. Tanpa harus mencari sambilan dari hasil korupsi.
Hal inilah puasa secara substansial menjadi sebagai wahana meningkatkan kesalehan social. shaleh social kaitannya dengan pejabat adalah menjalankan amanah dengan ikhlas dan tidak memakan uang negera. karena memakan uang negar inilah yang menjadi penyakit kronis bagi bangsa kita. Tidak layak disebut shaleh ketika rakyat miskin semakin bertambah dan pengangguran dimana-mana para pejabat melakukan korupsi secara membabi-buta.
Disinilah peran puasa sebagai ritual tahunan bisa berguna bagi bangsa kita. Bisa berguna bagi saudara-saudara kita yang kelaparan dan terbiasa lapar meskipun tidak berpuasa. puasa yang terjawantahkan sebagai tanggungjawab social inilah yang bisa meminimalisir korupsi. Mengingat puasa tidak hanya aktifitas fisik berupa haus dan dahaga saja, lebih dari itu puasa adalah aktifitas hati yang didalamnya terdapat ke-ikhlasan dalam beramal dalam rangka meningkatkan kesalehan social individu. Semoga dibulan puasa yang suci ini kita senang tiasa berpuasa fisik berupa tidak makan dan minum, serta senangtiasa berpuasa hati yang beramal dengan ikhlas, tidak berprasangka buruk, tidak iri dan tentunya yang tidak kalah penting adalah berpuasa korupsi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perlawanan Kampung Tempe Sanan Terhadap Kue Artis Teuku Wisnu, Krisdayanti, dan Kawan-Kawan

Mondok dan Islam Internet ala Jonru

Pelajaran Salat Taraweh untuk Menteri Muhadjir Effendy