BURUH (sebuah cerita pendek)


Gerimis sore membasahi mereka berdua, kedinginan dalam kebasahan. “Ayo mampir sejanak”, ucap Jusram pada Tono dalam perjalanan pulang menemuhi buruh kota. Mereka berduapun berhenti disuatu warung samping jalan pertigaan, simpang tiga biasanya orang menyebutnya.
Tak sampai masuk mereka berduapun dilarang masuk oleh sang penjaga warung. “kita mau tutup mas, saya mau tidur dengan suami saya..” ucapnya dengan terburu-buru sambil menutup pintu warung. “waduh ginilah ram resiko kalau hujan” ucap Tono dengan nada kecewa.
Meskipun hujan mereka melanjutkan perjalanan, tak bisa berhenti karena tidak ada warung buka untuk berteduh. Semuanya nutup mungkin penjaga warung pada tidur dengan pasangan mereka masing-masing. Mereka tak ambil pusing dengan orang yang ingin makan atau hanya sekedar berteduh diwarung mereka. Mereka cuek yang penting bisa tidur dalam cuaca yang dingin.
Sepanjang jalan mereka lalui, penuh dengan perjuangan melawan hujan lebat. Mereka dengan semangatnya melajukan motornya seolah-olah merasa dirinya pejuang karena telah menemuai buruh kota di dekat alun-alun kota, untuk sekedar ngobrol dan mengundang mereka dalam acara peringatan hari buruh yang dilaksanakannya dikampus minggu depan.
Tak lama menjelang, merekapun nyampe’ di “kantor pergerakan” biasanya mereka bilang. ‘gimana nasib buruh…?,” tanya fitri menyambut kedatangan mereka. “sek toh dingin nich kehujanan sepanjang jalan” jawab jusram sembari gemetaran. “yoo wees minum teh ini, tapi hati-hati masih panas. Dan setelah itu ceritakan nanti tentang nasib buruh untuk dibuat bahan dalam sarasehan minggu ini” ucap fitri. Dengan berebut mereka berdua meminum teh yang dibuat ketuanya tersebut.
Segelas tehpun mereka minum habis dalam sejenak, sedikit membuat hangat badan meraka. Membuat jusram lebih samangat dalam memikirkan dan mencarirtakan yang ditanyakan fitri. Bercerita tentang pertemuannya dengan rakyat miskin kota disimpang alun-alun barusan. Jusram bercerita bagaimana nasib buruh saat ini, penuh semangat tak henti diapun memadukan dengan teori Karl Mark tentang buruh. “Benar kata mark bahwa buruh itu ter-aleniasa” ucap jusram. “Aku tadi liat sesama buruh satu pabrik saja tidak saling kenal, mereka malah saling kenalan pas di alun-alun tadi. Mereka terasing dari lingkunan kerjanya” ungkap jusram dengan semangat memedukan teori mark. Jusram tampak begitu semangat membenarkan teori “alienasi” atau keterasingan oleh Karl Mark.
Setelah itu, mereka bertiga sama-sama mempelajari buku karl mark untuk dibuat bahan dalam sarasehan. Mereka membaca dan sesekali mengangguk-kan kepala seolah membenarkan teori itu atas dasar kenyataan yang mereka lihat tentang buruh dilapangan. Lampiran demi lampiran mereka baca dan lewati dengan sekejap.
Selesai membaca bebarapa lembar mereka mendiskusikannya dan merumuskan konsep buat seminar. “Konsep sarasehan kali ini harus sesuai dengan yang dicita-citakan Karl Mark yakni membuat masyarakat tanpa kelas, tidak ada kaya-miskin dan majikan-buruh. Semuanya sejajar. Kita harus menyadarkan para buruh bahwa meraka ditindas” ungkap Tono memprestasikan yang telah dibaca. Mereka berduapun sependapat, tujuan sarasehan kali harus berdampak sistemik dan harus bisa membuat perubahan atas nasib buruh.
Merakapun menyetting acara sedemikian rupa, mencari pemateri radikal yang menentang perburuhan. Sejumlah nama beredar dan sejumlah orang yang diusulkan. Mulai dari aktivis buruh sampai orang yang anti buruh, anti atas kemapanan sang majikan. “Ratmiko” celetuk fitri. “Yaa Pak Ratmiko, tokoh desa mergan yang pada mudanya hampir membunuh bosnya karena para buruh pabrik rokok tak dibayar selama tiga bulan” acap fitri yang dibarengi anggukan jusram dan Tono.
Merekapun menghubungi pak ratmiko, tokoh kampung samping kampus yang dikenal wibawah. Masyarakat kampung hanya bisa patuh mendengar ceramahnya setiap hari senin dimusholla kampung. Meskipun dahulunya buruh rokok linting namun pak ratmoko bisa mengambil hati jema’ahnya yang kebanyakan para buruh rokok linting. Ini mungkin didasari pengalaman pak ratmoko bagaimana nasibnya jadi buruh, dan inilah yang mengantarkan pak ratmoko bisa beradaptasi dengan para buruh.


#######
Mereka bertigapun mengkonsep acara tersebut dengan matang, menargetkan apa yang akan digapai hasil sarasehan. Semuanya pun berfikir sampai larut malam. Merefleksikan apa yang hendak digapai dari kerja kerasnya mengumpulkan ribuan buruh dari pinggiran kota. Ditengah renungannya ternyata Tono terinspirasi dari buku Tan Malaka yang dibaca beberapa bulan lalu. Judul bukunya adalah “Merdeka 100%”. Dalam anggapan tanmalaka sepenangkap Tono bahwa hidup haruslah merdeka sepenuhnya,tidak dibelenggu oleh apapun apalagi sesama manusia. “kita harus merdeka” ucap irham ditengah rapat akhir sebelum menemuhi pak ratmiko keesokan harinnya. Usulan Tono pun diterima oleh seluruh audience.
Pagi harinya Tono dan fitripun menunggu pak ratmoko didepan musholla deket rumah pak Rt. Musholla sederhana diperkampungan yang sederhana dan orang yang sederhana. Acara yang di atur memang untuk manghadirkan orang-orang sederhana. Tak lama menjelang, pak ratmokopun keluar dari musholla dan mereka berdua menyamperi sambil bersalaman mencium tangan pak ratmoko.
Dengan panjang lebar fitri menceritakan kedatangan mereka, bercerita tentang akan diadakannya forum orang sederhana di tempat yang sengaja di desain sederhana. Mulai dari mengumpulkan seribu lima ratus buruh sampai dari target pengumpulan tersebut. “pak, kita disini ingin menyadarkan bahwa buruh itu tidak merdeka dan terkekang. Tajuan kita, membuat sadar para buruh seperti kesadaran bapak akan perbudakan kaum majikan beberapa tahun silam” terang fitri. Pak ratmokopun tanpak sangat setuju dengan yang di utarakan fitri. Momen yang begitu tepat untuk membuat orang sadar akan apa yang pak ratmoko rasakan beberapa waktu lalu.
Dengan tak berpikir panjang, Pak ratmokopun mengiyakan yang diminta mereka berdua. Dari waktu di undang hanya tinggal 5 hari bagi pak ratmoko untuk menyiapkan segalanya. Mulai dari film perburuhan sampai meteri profokatif yang untuk membuat panas sang buruh.

Komentar

irham mengatakan…
maaf sepotong soalnya ada kesalahan tekhnis. entar saya perbaiki. .. . . thankz

Postingan populer dari blog ini

Perlawanan Kampung Tempe Sanan Terhadap Kue Artis Teuku Wisnu, Krisdayanti, dan Kawan-Kawan

Mondok dan Islam Internet ala Jonru

Pelajaran Salat Taraweh untuk Menteri Muhadjir Effendy