Menjadi Mahasiswa Yang Merakyat




Dalam perjalanan sejarah bangsa ini, mahasiswa mempunyai peran penting dalam mengawal segala perubahan. Mulai dari gerakan 1945 yang dimotori oleh Bung Karno dan Hatta juga gerakan ’65 dengan Kesatuan Aksi Mahasiswa (KAMI) yang di motori oleh Zamroni ZE dan kawan-kawan. Selain itu dalam reformasi 1998 mahasiswalah yang bisa menurunkan dan merobohkan status quo orde barunya Soeharto.
Sejarah tersebut membuktikan bahwa mahasiswa mempunyai banyak peran besar dalam segenap perubahan. Mahasiswalah yang memulai dari segenap perubahan di bangsa ini. Dari proses itulah mahasiswa mempunyai jargon yakni Agent Of Cange and Social Control. Yakni agen dari segala perubahan dan pengkontrolan kebijakan kuasa yang tidak memihak masyarakat marginal.
Mahasiswa dalam sejarahnya tidaklah jauh dan berpisah dari masyarakal kecil dan marginal. Mahasiswa senangtiasa mengawal kebijakan-kebijakan pemerintah, serta tidak segan-segan memprotes ketika kebijakan penguasa merugikan rakyat kecil. Hal ini terbukti ketika pada tahun 1965 Soekarno menaikan harga sembako yang dari hal tersebut tercetuslah yang namanya KAMI dan yang biasanya disebut gerakan 65. Begitu juga dengan 1998 faktor ekonomi dan inflasi yang memaksa mahasiswa turun jalan membela masyarakat kecil.
Namun sejarah manis tentang sejarah mahasiswa tidaklah sama dengan yang terjadi pada saat ini. Seiring dengan perubahan zaman yang penuh dengan dunia glamour, konsumerisme dan hedonisme tentunya membuat dunia mahasiswa sangatlah berbeda dengan masa lalu. Mahasiswa, yang kalau penulis cermati saat ini sangatlah jauh dari dunia perjuangan, yakni perjuangan dalam rangka turut serta membangun bangsa dan masyarakat.
Mahasiswa cendrung lebih senang ketika menjadi mahasiswa yang kupu-kupu (kuliah-pulang, kuliah pulang) dari pada mengikuti kegiatan organisasi apalagi yang bersinggungan dengan masyaratkat. Budaya yang serba modern membuat mahasiswa cendrung jauh dari masyarakat. Jauh dari lingkungan yang seharusnya menjadi medan perjuangan. Mahsiswa lebih senang ketika menikmati kemewahan duniawi yang bersifat semu.
Hal inilah yang menjadi ironi karena layaknya mahasiswalah yang mempunyai tanggung jawab moral untuk memperbaiki tatanan masyarakat yang carut marut ini. Mahasiswa kalau saat ini cendrung menjadi kaum elit yang semakin jauh dengan masyarakat apalagi kaum “alit”. Mahasiswa lebih senang menjadi pegawai elit dari pada meng-advokasi masyrakat yang membutuhkan. Mental-mental menjadi pegawai setelah kuliah inilah yang menjadi “penyakit” mahasiswa untuk ber-aktualisasi di masyarakat.
Selayaknya mahasiswa tidaklah menjadi kaum elit yang jauh dari lingkungannya. Sastrawan WS Rendra pernah menyebutkan “Buat apa pendidikan tinggi, kalau ketika kembali ke desa meraka bilang: saya terasing”. Dalam hal ini rendra mengutarakan kegelisahan tentang dunia pendidikan kita yang semakin menjauhkan mahasiswa terhadap lingklungannya. Pendidikan kita cendrung tekstual yang miskin sekali sentuhan-sentuhan social kemsyarakaytan.
Menjadi mehasiswa yang rela berbaur dengan masyarakat inilah yang menjadi agenda penting mahasiswa kali ini. Dalam artian tidak merasa elit dari masyarakat yang lain. Dari bisa berbaur inilah mahasiswa akan bisa menjalin kerjasama konstrukltif dalam rangka membangun masyarakat. Seandainya mahasiswa bisa berbaur dengan masyarakat serta memberi konstribusi materi, pemikiran maupun moril. Penulis yakin masyarakat kita bisa lebih baik kedepannya karena dikawal dan dibimbing dengan mahasiswa yang mempunyai keahlian di bermacam-macam disiplin. Akhir kata, jadilah mahasiswa yang bisa berbaur dengan masyarakat untuk memberi konstribusi bagi masyrakat dan jadilah mahasiswa yang marakyat dan tidak merasa elit.

Komentar

irham mengatakan…
tulisan ini di kirim ke Rubrik Suara mahasiswa

Postingan populer dari blog ini

Perlawanan Kampung Tempe Sanan Terhadap Kue Artis Teuku Wisnu, Krisdayanti, dan Kawan-Kawan

Mondok dan Islam Internet ala Jonru

Pelajaran Salat Taraweh untuk Menteri Muhadjir Effendy