Punahnya Permainanku


Layak kita ketahui bahwa manusia sejak lahir sudah dikenalkan permainan. Mulai bermain dengan orang tua, tetangga, teman dan bahkan bermain dengan teknologi. Permainan adalah bisa dibilang kebutuhan pokok apalagi bagi anak-anak. Manusia tentunya seringkali membutuhkan hiburan, dan dari hiburan tersebut manusia mendapatkan permainan.
Kalau di klafikasikan dalam realitas sosial, permainan sendiri terdapat menjadi dua bagian, pertama adalah permainan tradisional dan kedua adalah permainan modern. Permainan tradisional adalah permainan yang bersifat dahulu kala dan merupakan ciptaan dari negeri kita sendiri. Sedangkan permainan modern adalah permainan yang merupakan permainan baru di dunia kita serta terkadang lebih banyak berupa teknologi serta datang dari luar negeri.
Sepengamatan penulis permainan tradisional sekarang mengalami kepunahan ditengah budaya glogbal serta kehidupan yang semakin modern. Apalagi terdapat banyak Mall yang menyediakan bangak permainan modern semacam Time Zone yang merupakan permainan modern dan tentunya kalau bermain permainan tersebut harus bayar. Seperti di Matos (Malang Taunsquier) misalnya, disitu terdapat permainan modern beraneka ragam seperti Himmer Mouse Hunter, Funny Fish, Star Wars dan Dino Dash.
Keberadaan permainan tersebut tentunya berdampak pada punahnya permaianan teradisional. Umum diketahui bahwa permainan tradisional dimalang mengalami degradasi. Hal tersebut dikarenakan banyak alasan diantaranya karena banyak permainan modern dan yang tidak kalah mempengaruhi adalah kurangnya kawasan terbuka hijau dimalang sebagai wahana ekspresi bagi kalangan penikmat permaianan tradisional.
Seperti yang diutarakan Irawan M. Hum, dosen Antropologi Universitas Negeri Malang, permainan tradisional mulai dilupakan dikarenakan tidak ada lahan yang memadai. “Sebenarnya banyak hal yang tidak mendukung, sehingga permainan tradisional ditinggalkan oleh masyarakat salah satunya adalah tidak adannya lahan yang memadai,” ungkap pria beristri satu ini.
Sebab hal tersebut pemerintah turut bertanggung jawab dengan punahnya permainan tradisional. Karena bagaimanapun permainan tradisional seperti gobak sodor, sepak tekong, patil lele, dan petak kumpet adalah aset bangsa. Selain hal tersebut permaianan tradisional memiliki sifat positif daripada permainan modern, yakni kalau permainan tradisional lebih bersifat kekelompokan dari pada individual. Permainan tradisional mengajari kerja team daripada permaianan modern yang cendrung bermain sendiri.
Kepunahan permaianan tradisional tersebut juga disayangkan oleh sekjen Dewan Kesenian Kota Malang Anthony Wibowo menyayangkan perihal punahnya permainan tradisional dengan berubahnya waktu. ”Saya prihatin, padahal yang dibangun dalam permainan tradisional adalah kerukunan, keguyuban, dan kerja sama. Dan terlebih lagi yang lebih ditonjolkan adalah asas kekeluargaan,” kata pria bercucu tiga ini
Senada dengan Anthony, budayawan kota malang Agus Sunyoto pun menyayangkan terkait punahnya permnainan tradisional ini. Permainan tradisional menurut budayawan kawakan ini adalah lahir dan berkembang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, namun dengan datangnya kapitalisme global permainan tradisionalpun mulai memunah serta semakin pupus eksistensinya. Dengan datangnya modernisasi budayawan maupun seniman tidak bisa membendung kepunahan ini. “Budayawan tidak berdaya dalam melestarikan tradisi. Yang tersisa hanya cerita dan sastra lisan yang berbasis di Langar kampung-kampung,” terang Agus Sunyoto
Kepunahan ini tentunya harus ditanggulangi bersama oleh budayawan,seniman, pemerintah dam akademisi harus bersama-sama melestarikan aset bangsa berupa permainan tradisional ini, karena bagaimanapun permaianan tradisional lebih manfaatnya dari pada permainan modern yang lebih banyak mengajarkan tentang individualisme.

Komentar

irham mengatakan…
tulisan ini pernah di muat di harian Surya

Postingan populer dari blog ini

Perlawanan Kampung Tempe Sanan Terhadap Kue Artis Teuku Wisnu, Krisdayanti, dan Kawan-Kawan

Mondok dan Islam Internet ala Jonru

Pelajaran Salat Taraweh untuk Menteri Muhadjir Effendy