Menjamurnya Komunitas Gus Dur-ian



Abdurahman Wahid alias Gus Dur merupakan sosok luar biasa. Beliau adalah tokoh besar yang hidup melintasi zamannya. Gus Dur hidup melampuai ruang dan waktu. Secara “ruang” gusdsur hidup dengan berbagai macam “ruang” yang berbeda, dalam hal Agama Gus Dur yang mempunyai “ruang” Islam, namun beliau melampuai ruang keagamaannya. Gus Dur juga bisa berhubungan dengan ruang-ruang Agama lain. Begitu juga dalam berbagai bidang kehidupan Gus Dur menerobos ruang-ruang lain yang nota bene beliau tidak berada dalam ruang tersebut.
Setelah meninggal dunia, Gus Durpun melampui batas “waktu”. Gus Dur hidup meskipun setelah meninggal dunia. Gus Dur terus dikenang dalam berbagai hal. Gus Dur banyak dikenal bukan karena beliau sebagai mantan Presiden ke-4 Republik Indonesia. Namun beliau dikenang karena pemikiran dan gerakan beliau melampuai ruang dan waktu. Inilah yang kemudian disebut sebagai pluralisme.
Ketokohan Gus Dur sebagai bapak bangsa terus mengalir dan dikenang sampai keseluruh santero Nusantara. Banyak forum-forum yang mempunyai komitmen untuk melestarikan ajaran beliau. Seperti yang ada di kota Malang, di kota ini ada namanya Forum “Gusdurian Community”. Forum yang beranggotakan komunitas lintas agama ini mempunyai komitmen untuk melestarikan pemikiran dan gerakan Gus Dur terutama dalam hal kerukunan umat beragama, kemanusiaan dan pluralisme.
Dalam forum yang dideglarasikan pada Tanggal 27 Agustus 2010 di gedung Perpustakaan UIN Malang ini ada yang istimewa karena dihadiri oleh Alissa Wahid. Kehadiran putri Gus Dur dalam acara deglarasi tersebut terasa istemewa, karena baliau juga memberi wawasan dan motivasi terkait tentang Gus Dur. Alissa Wahid hadir dalam acara tersebut merupakan serangkaian tour Jatim untuk menghadiri forum Gus Dur di kota-kota Jawa Timur seperti Surabaya, Jombang, Kediri, Malang yang kemudian di akhiri di sumenep Madura.
Adanya Forum Gusdurian ini tentunya banyak manfaat, di Malang manfaat tersebut sangat terasa terutama dalam hal kerukunan umat beragama. Manfaat tersebut juga dirasakan oleh Pendeta Suwignyo dari GKJW, beliau mengatakan bahwa dalam bangsa ini membutuhkan simbol semacam Gus Dur untuk menciptakan kerukunan umat beragama dan pluralisme. Simbol tersebut juga dirasa penting dalam menjadikan lawan tanding terhadap agama yang ekslusif dan anti akan pluralisme.
Dalam acara deglarasi ini, Alissa Wahid menyatakan kesenengannya karena terdapat furum yang concert dalam melestarikan pemikiran Gus Dur. Beliau mengemukakan bahwa di nusantara selama ini banyak yang concern tentang Gus Dur. Namun, menurut beliau yang penting adalah pemikiran Gus Dur. Bukan malah pengkultusan terhadap Gus Dur secara buta. Menerut beliau, pihak keluarga kalau di suruh memilih antara ajaran Gus Dur tentang pluralisme dan kemanusiaan bisa teraplikasi di Indonesia namun nama Gus Dur tidak populer, dengan pilihan kedua yakni gus dur populer namun ajaran yang diperjuangkan gusdur malah tidak teraplikasi di Indonesia,. Menurut beliau, pihak keluarga seandainya disuruh memilih akan memilih pilihan pertama yakni pemikiran Gus Dur berjalan dengan baik meskipun Gus Dur tidak popular sama sekali.
Menjamurnya Forum Gusdurian diberbagai kota tentunya memberi angin segar dalam kerukunan umat beragama di bangsa ini terutama pasca wafatnya Gusdur. Dengan adanya forum-forum tersebut semoga bisa menjadikan inspirasi dalam berbagai aspek kehidupan terutama dalam hal kerukunan antar umat beragam dan pluralisme di masing-masing kota.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perlawanan Kampung Tempe Sanan Terhadap Kue Artis Teuku Wisnu, Krisdayanti, dan Kawan-Kawan

Mondok dan Islam Internet ala Jonru

Pelajaran Salat Taraweh untuk Menteri Muhadjir Effendy