Agama dan Negara Sebagai Sumber Anti Kekerasan


Akhir-akhir ini kita banyak menemui kekerasan di bangsa ini. Kekerasan tersebut melibatkan massa dengan jumlah banyak. Bisa dibilang kekerasan bentuk dari keberagaman kita sebagai negara yang multi etnis. Kekerasan tersebut terkadang terjadi antar suku, etnis dan bahkan agama.
Beberaa waktu lalu kita di kegetken dengan kekerasan antar umat beragama. Mulai dari FPI yang menyerang Ahmadiyah sampai penyerangan antara umat islam dengan kristen di tarakan beberapa waktu lalu. Dicermati agama memang banyak menimbulkan konflik dinegeri ini. Justifikasi agama sebagai penyebab kekerasan mamang tidak sepenuhnya benar, apalagi agama pada dasarnya adalah sumber dari kedamaian.
Agama pada dasarnya tidak ada yang menganjurkan permusuhan apalagi kekerasan. Semua agama pada mulanya adalah rahmatal lil alamin yakni rahmat dari sekalian alam. Di negeri ini agama yang merupakan entitas tak terpisahkan dari kehidupan berbangsa kita seharusnya bisa menjadi sumber ketentaraman bagi bangsa ini.
Dengan demikian agama yang menjadi entitas kehidupan kita dalam sehari-hari harus dijadikan alat untuk menyatukan bangsa namun agama malah jadi sumber kekerasan. Dalam pandangan freud, bahwa seseorang sangatlah dibentuk oleh masa lalunya, di negeri ini yang kebayakan beragama sejak kecil maka secara otomatis agama akan mempengaruhi kualitas berkehidupan sosial di negeri ini.
Perlakuan oknum agama yang melegalkan kekerasan atas nama agama, kalau penulis berpendapat sangat dipengaruhi tata agama yang dibentuk sejak kecil. Jangan salah kalau Habib Riziq pimpinan FPI dan para teroris itu memang di didik dalam lingkunagn keras dan fundamental dalam beragama sejak kecil.
Hal inilah yang seharus kita lakukan, bahwa penanaman agama sejak kecil layaknya diajarkan agama yang moderat dan tidak mengajarkan membenci umat agama lain, yang biasanya ditanamkan bahwa umat agama lain adalah penghuni neraka dan lain sebagainya. Doktrinasi sejak kecil inilah yang akan menjadikan kualitas keberagamaan kita rendah terutama kaitannya dengan aspek social.
Selain itu, mengajarkan pluralisme agama sangatlah penting malihat agama semakin hari hanya dijadikan ajang permusuhan. Pluralisme mengajarkan kita akan pentingnya menghargai keyakianan. Konsep pluralisme kalau kita gunakan dalam bernegara tentunya sangat baik terutama dalam mengamalkan nilai-nilai pancasila yang didalamnya terdapat Bhineka Tunggal Ika, berbeda namun tetap satu jua.
Tak hanya agama yang berperan penting dalam membangun masyarakat yang damai dan nirkekerasan. Negarapun turut serta bertanggung jawab dalam membangun keselarasan dalam bermasyarakat. Kalau penulis katakan, ada kaitan yang penting antara Negara dan agama dalam membentuk bangsa yang nir kekerasan.
Negara adalah pengatur kehidupan secara de jure. Dalam mengatur, Negara idealnya dalam wilayah public dan tidak terlalu prifat. Dalam aspek kekerasan misalnya Negara hanya mengatur dan membuat regulasi hukum yang jelas untuk mewujudkan kedamaian masyarakat warga Negara. Negara hanya mengatur rugulasi yang bersifat umum dan berwilayah public.
Dalam artian, Negara tidak terlalu jauh mengatur wilayah prifat dalam berkehidupan social. Negara harus menegakkan bahwa seluruh warga negara berhak akan kedamaian dan diperlakukan sama dalam wilayah hukum, apapun itu agama dan etnisnya.
Kalau Negara hanya mengatur diwilayah public, agama idealnya mengatur diwilayah prifat interpersonal. Agama sebagaiamana penulis singgung di atas, layaknaya menciptakan perdamaian dinegeri ini. Agama seharusnya mengatur diwilayah prifat dalam kehidupan social.
Agamalah yang mengatur etika dalam prilaku. Agama jauh lebih intim dari Negara dalam hal mengatur kedamain. Agama yang diajarkan sejak kecil dan sudah mendarah daging tentunya sangat mempengaruhi prilaku masyarakat terutama dalam menciptakan perdamaian. Agama yang merupakan keyakinan maka secara otomatis bersinggungan dengan hati dan tidak bisa disalahkan ketika berbeda dengan kita karena agama hanya keyakinan. Keyakinan seseorang bisa beraneka ragam sesuai hati mereka, jadi tidak ada alasan menjustifikasi bahwa yang kita yakinilah yang paling benar.
Karena barupa kayakinan, agama menjadi signifikan dalam menciptakan anti kekerasan. Kalau agama yang kita yakini adalah sumber dari perdamain maka secara otomatis masyarakat kita yakin bahwa kekerasan adalah hal naïf dan bertentangan dari agama yang diyakini. Maka dari inilah agama harus kita yakini dan jawantahkan dalam kehidupan social kita bahwa agama adalah sumber dari perdamaian dan anti kekerasan.
Oleh sebab itu agama dan Negara mempunyai peran penting dalem berkonsiliasi menciptakan masyarakat yang anti kekerasan. Keduanya mempunyai visi yang sama, agama dengan menciptakan agamawan yang anti kekerasan, sedangkan Negara mempunyai cita-cita luhur sebagaimana tertuang dalam pancasila yang intinya menciptakan masyarakat yang adil dan keadilan tidak akan tercapai apabila kekerasan masih terjadi dimana-mana.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perlawanan Kampung Tempe Sanan Terhadap Kue Artis Teuku Wisnu, Krisdayanti, dan Kawan-Kawan

Mondok dan Islam Internet ala Jonru

Pelajaran Salat Taraweh untuk Menteri Muhadjir Effendy