Budaya Ngopi


“Ngopi” adalah panggilan yang akrab didengar terutama bagi kalangan mahasiswa. Di kota malang.tidak sulit kita menemui mahasiswa yang sering ngopi, mulai dari café yang agak besar sampai warteg yang kecil. Mulai warung kopi yang ada di mal sampai yang terdapat di pinggir jalan.
Dikota malang terutama didaerah dekat kampus, banyak tempat yang biasanya dijadikan tempat ngopi. Ngopi bagi kalangan mahasiswa adalah pekerjaan mangasyikan, ditengah tugas yang menumpuk dan perkuliahan yang padat, ngopi merupakan salah satu alternatif menghilangkan kepenatan tersebut.
Budaya ngopi yang disertai dengan tongkrongan adalah budaya kebanyakan para mahasiswa. Diwarung kopi kita akan banyak menceritakan beraneka ragam persoalaan, mulai dari kuliah, cewek, bisnis sampai organisasi. Tidak hanya itu, ngopi terkadang sebagai ajang untuk berdiskusi bagi kalangan aktivis.
Misalnya di salah satu café yang ada daerah Jl. Gajayana Kota malang ini, di café ini seringkali dijadikan tempat bagi para aktivis multi cultural dalam menjalankan diskusi. Mulai dari diskusi tentang bangsa yang pelik dan berat sampai diskusi yang ringan masalah remaja kekinian. Di café ini sengaja disediakan program untuk mahasiswa yang menjalankan diskusi, setiap para mahasiswa yang datang untuk diskusi sejumlah lima orang maka mendapat bonus satu bungkus rokok, begitu juga seterusnya sesuai dengan kelipatan lima mahasiswa yang datang.
Budaya ngopi sesungguhnya banyak positifnya, mulai dari menambah jaringan dari berbagai macam kampus, ngopi juga mempunyai manfaat berupa menambah wawasan karena yang ada dalam ngobrol di warung kopi adalah berupa sharing dan diskusi kecil-kecilan.
Membahas tentang budaya ngopi, tiba-tiba penulis teringat tentang sosok Gus Dur, sewaktu di mesir beliau jarang sekali kuliah, yang beliau lakukan adalah hanya keperpustakaan untuk membaca buku setelah itu beliau ngopi dengan teman-temannya serta mendiskusikan apa yang telah beliau baca. Di tempat ngopilah Gus Dur lebih banyak mendapatkan pengetahuan dan mengasah intelektuanya.
Hal inilah yang membuat ngopi banyak menghasilkan manfaat. Tidak hanya dikelas kuliah yang bisa transaksi pengetahuan, diwarung kopipun kita bisa transaksi dan berbagi pengetahuan. Transaksi ini bisa berupa diskusi yang berat maupun yang ringan.
Selanjutnya, ditengah budaya globalisasi ini, dimana pergaulan yang sangat bebas, ngopi bisa menjadi alternatif dan isu tandingan untuk mengcounter budaya globalisasi tersebut. Budaya modern yang banyak mengajarkan tentang konsumerisme dan matrialistik, dengan ngopi budaya tersebut bisa sedikit terkikis karena dengan adanya budaya ngopi maka pusat perhatian mahasiswa pada waktu lengang tidak lagi di mal besar yang menghabiskan banyak uang namun terpusat pada warung kopi yang hanya dengan dua ribu rupiah sudah bisa bersanda gurau dan bersenang-senang dengan teman sejawat.
Tidak hanya bagi mahasiswa biasa, budaya ngopi justeru sering dilakuakan oleh para aktivis kampus. Para aktivis biasanya melaksanakan aktivitas organisasinya seperti diskusi, rapat dan merancang demonstrasi hanya cukup diwarung kopi. Tidak heran kalau para aktivis banyak jaringan, kerena diwarung kopi jaringan itu diperoleh. Baik jaringan sesama organisasi berbeda kampus maupun berbeda organisasi.
Harapan penulis, budaya ngopi semoga terus terbudayakan. Jangan sampai budaya tersebut hangus kalah dengan budaya modern yang minim manfaat dan hanya menguntungkan para pemodal menengah keatas. Semoga.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perlawanan Kampung Tempe Sanan Terhadap Kue Artis Teuku Wisnu, Krisdayanti, dan Kawan-Kawan

Mondok dan Islam Internet ala Jonru

Pelajaran Salat Taraweh untuk Menteri Muhadjir Effendy