Diam, Kunci Dari Dialog Intereligius



Hubungan antar umat beragama di kota malang akhir-akhir ini mengalami kemajuan. Mulai dari adanya komunitas Gusdurian sebagai wadah kaum antar agama dalam berdiskusi tentang ajaran Gus Dur terutama yang berkaitan dengan kerukunan umat antar beragama. Tidak hanya itu, lakspendam NU kota malang yang di motori M. Syafik, Mahpur dan yang lain ini intens berkomunikasi dengan umat agama lain di luar islam.
Tidak hanya itu, hubungan baik dialog antar umat beragama tersebut juga Nampak dalam bedah buku berjudul “Dialog Inter Religius” pada tanggal 28 Oktober 2010 yang di selenggarakan di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Widya Sesana Kota malang ini. Dalam bedah buku ini banyak dari umat agama lain hadir, seperti penulis yang hadir sebagai dari agama Islam.
Dalam diskusi yang mendatangkan langsung penulis yakni Prof Dr. E Armada Riyanto ini berlangsung menarik dan meriah dengan datangnya peserta yang hadir. Dalam kesempatan kali ini penulis yang akrab di sapa Romo Armda memaparkan pentingnya dialog antar umat beragama.
Dalam pemaparannya, Romo Armada bahwa yang penting dalam dialog antar umat beragama maupun dengan agama sendiri adalah tiga hal. Pertama, adalah mimpi bahwa akan ada dialog antar denanga agama lain, karena hanya dengan mimpi antar umat beragama saling memahami dan mengerti. Kedua, lanjut romo armada, bahwa sebagaimana dialog yang penting adalah bicara, hanya dengan bicara umat beragama bisa saling memahami kemauan antar umat agama lain. Ketiga, dalam pandangan romo Armada, tidak hanya bicara namun dalam dialog juga harus diam, hanya dengan diam kita bisa mendengarkan umat agama lain dan hanya dengan diam tenggang rasa itu muncul.
Tidak hanya itu, romo armada juga banyak menyinggung tentang prospek dialog antar umat beragam di asia maupun pandangannya di Indonesia. Selain romo armada, datang pula Guru Besar Sosiologi Agama dari UMM Malang yakni Dr. Samsul Arifin. Dalam penyampiannya bahwa dalam pandangan beliau bahwa esensi dari agama itu sama yakni pada intinya adalah mengajarkan kebaikan.
Dalam doa’, lanjut beliau bahwa sama meminta akan hal kebaikan. Tidak ada do’a dari agama manapun yang meminta akan keburukan semuanya meminta kebaikan. Oleh sebab itu, karena saling meminta dan mengajarakan kebaikan maka antar agama harus berdialog untuk menemukan titik ideal dan saling melengkapi dari kebaikan tersebut.
Selantnya, Dr. Samsul Arifin banyak juga melihat dialog antar umat beragama yang berkaitan dengan sosiologi agama. Dalam pandangan beliau, bahwa secara sosiologis bahwa dialog antar umat beragama adalah sebuah afirmasi perbadaan. Dalam artian saling menguatkan dari perbedaan, dan dengan adanya dialog antar umat beragama adalah afirmasi dari perbedaan tersebut bisa mewujudkan apa yang di ajarakan agama bahwa perbedaan itu adalah rahmat.
Selain dua pembicara tersebut, hadir pula Romo Periera yang juga dosen di STFT tersebut. Berbeda dengan pemateri sebelumnya yang terkesan tegang, Romo Periera memaparkannya dengan diselingi humor. Dalam pemaparan beliau, Romo Periera banyak memberi masukan sekaligus keritikan yang berkaitan dengan buku ini.
Dengan diselingi banyak humor, Romo Periera membedah buku ini perbagian, romo Periera mengkeritiknya mulai dari penulisan yang kebanyakan istilah asingnya yang terasa tidak populis dan hal-hal teknis lain yang menjadi kelemahan buku ini.
Dengan adanya kegiatan semacam ini terutama dengan melibatkan dan mengundang agama lain akan bisa menjadi iklim yang bagus bagi kerukunan umat beragama di bangsa ini. Dengan adanya kegiatan semacam ini akan terjalin silaturahmi dan komunikasi yang intens antar umat beragama yang pada out put nya akan terjadi dialog dan saling pengertian antara umat beragama.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perlawanan Kampung Tempe Sanan Terhadap Kue Artis Teuku Wisnu, Krisdayanti, dan Kawan-Kawan

Mondok dan Islam Internet ala Jonru

Pelajaran Salat Taraweh untuk Menteri Muhadjir Effendy