Kedisiplinan Yang Tidak Konsisten


Beberapa waktu lalu (kamis,05-10-2010) penulis di tilang oleh Kepolisian Kabupaten Malang. Saat hendak menuju kampus pada sore hari, penulis tiba-tiba dihentikan oleh para polisi yang jumlahnya sekitar sepuluh orang. Setelah ditanya STNK dan SIM, penulis langsung mengeluarkan keduanya. Setelah surat-surat saya lengkap ternyata saya masih di kena tilang kerena lampu sepeda saya tidak hidup.
Selanjutnya saya tanya, ini kan pada sore hari. Polisinya menunjukan peraturan lalu lintas yang berisikan bahwa meskipun pada siang hari wajib menyalakan lampu. Peraturan yang penulis belum tahu sebelumnya. Penulis membantah karena belum tahu peraturan tersebut, ternyata polisi perempuan yang menulis surat tilang itu membantah bahwa pihaknya telah sosialisasi selama satu tahun. Akhirnya sayapun ditilang.
Besok paginya, sekitar jam setengah tujuh pagi penulis berangkat menuju kampus. Penulis mendapati pemandanagan yang aneh tidak seperti biasanya. Penulis melihat banyak polisi di sekitar perempatan kecil maupun besar. Penulis juga melihatnya di dekat perkantoran dan sekolah disekitar Kepanjen Kabupaten Malang. Situasi yang aneh memang, aneh Karena dihari-hari biasanya penulis tidak menemui polisi lalu lintas seramai itu pada pagi hari.
Merasakan hal aneh yang ada kaitannya dengan polisipun penulis bertanya-tanya. Sambil mengendarai motor penulis memikirkan dari kejadian yang baru terjadi dan kejadian kemaren yang aneh karena baru kali ini penulis di tilang karena tidak menyalakan lampu disiang hari. Tiba-tiba penulis teringat dari infrormasi yang penulis baca dari salah satu surat kabar kemaren siang.
Berita itu tentang pergantian Kepala Polisi Republik Indonesia (KAPOLRI) dari AKBP Bambang Hendarso Danuri yang senter terdengar akan di gantikan AKBP Timur Pradopo. penulis ternyata menemukan kecocokan dari yang penulis baca dengan dua kejadian yang baru saja penulis alami. Ternyata ada kaitannya dari kinerja polisi tingkat bawah dengan pergantian kepala polisi tingkat nasional.
Selanjutnya, penulis teringat beberapa tahun lalu. Yakni ketika Bambang Hendarso Danuri baru saja menjabat sebagai Kapolri, pada saat itu penulis ingat betul bahwa polisi setelah itu juga sangat rajin memberantas preman. Baik preman jalanan sampai preman yang ada dipasar-pasar. Tidak hanya itu para Bandar togel dari yang kecil sampai yang besarpun diberantas habis.
Dari kejadian beberapa tahun lalu yang polisi sangat rajin memberantas preman ketika mempunyai kapolri baru, saya mempunyai sedikit kesimpulan bahwa kedua kejadian diatas yang tiba-tiba para polisi menjadi disiplin mungkin dikarenakan pergantian kapolri baru.
Hal inilah yang patut kita cermati sebagai warga Negara. Ternyata aparat keamanan kita yang sering menggembar gemborkan kedisiplinan ternyata kedisiplinannya sering masuk angin. Disiplinnya hanya angin-anginan dan hanya ketika terjadi pergantian Kapolri saja. Hal ini sangat disayangkan karena masyarakat yang melanggar hukum tidak hanya terjadi ketika ada pergantian kapolri saja, masyarakat bisa melakukan kejahatan kapan dan dimana saja.
Penulis tidak hendak menyalahkan dan memprotes karena penulis ditilang karena penulis manganggap salah karena telah melanggar hukum. Namun yang penulis sesali adalah karena yang dilakukan polisi adalah disiplin yang inkonsisten. Kedisiplinan yang ada indikasi lain yang tidak murni melayani rakyat dengan sepenuh hati. Semoga kedepannya dengan kapolri yang baru kepolisian kita dapat lebih disiplin selamanya, tidak angin-anginan ketika ada momentum pasca pergantian kapolri belaka. Semoga….!,

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perlawanan Kampung Tempe Sanan Terhadap Kue Artis Teuku Wisnu, Krisdayanti, dan Kawan-Kawan

Mondok dan Islam Internet ala Jonru

Pelajaran Salat Taraweh untuk Menteri Muhadjir Effendy