Setahun Yang Lalu…


AR inisialnya, Cau akrab ku memanggilnya. Orang yang selalu membuaku terkadang jengkel, sebel dan bahkan kangen. Lebaran Idul Adha ini tepat aku setahun mengenalnya. Tidak hanya mengenal, proses pendekatanpun sudah setahun lalu aku lakukan sebelum sekitar tiga bulan yang lalu kita jadian.
Makam Bung Karno Blitar, tempat bersejarah bagi kami. Disitulah aku bertemu dengannya dengan seksama meskipun sebelumnya pernah bertemu waktu orientasi Fakultas yang pada waktu itu aku menjadi pendampingnya. Namun aku tidak tahu bagaiman paras wajahnya.
Sebelum bertemu di tempat bersejarah itu, kami sudah sering sms-an dan saya telah melakukan pendekatan. Yang saya tahu, dia adalah anak dampinganku yang lahir di Banglades, selain itu saya kurang tahu. Wajahnyapun masih ingat-ingat lupa.
Dengan memakai baju agak besar, jubah biasanya orang bilang. Warnanya ping, kulihat dari kejauhan, dia sedang bercakap dengan soni. Aku masih menuntaskan bacaan yasin di sebelah barat makam Bung Karno. Ku menghampirinya, wajahnya aneh kurasakan pada saat itu. tidak terlalu cantik, namun menawan. Setelah salaman, aku tak banyak mengungkapkan kata-kata. Gemetaran layaknya seorang ketemu cewek yang baru di dekatinnya.
Setelah tak lama bicara, kita melanjutkan perjalanan menuju rumahnya. Rumahnya tak jauh dari makam Bung Karno. Tak lebih dari lima belas menit dari makam. Kita berjalan keluar makam. Melewati pasar yang ada di utara makam, satu-satunya jalan yang harus ditempuh ketika mau keluar. Sambil barjalan, sesekali aku berada disampingnya meskipun aku membisu tak bisa ngomong apa-apa. Sambil melihat pernak-pernik, aku mencoba mengajaknya bicara, namun cueknya minta ampun. Cuek kayak artis di ajak ngobrol penggemarnya. Banyak di cuekin, akupun salah tingkah, defense mekanism ku tak berguna waktu itu, aku sering lepas kendali disampingnya.
Selain kita berdua, ada juga wanda yang menemaninya, Soni dan Iqbal. Tidak lama kemudian, Kami nyampek dirumahnya. Suasana dalam hatiku masih mencekam, mulutku seolah disolasi yang tak banyak mengungkapkan kata-kata. Kedua sahabatku, yang niatnya mencocokan kita pun tak banyak berbuat apa melihat aku malu tak bisa ngomong. Malah mereka yang banyak ngomong dengan cewek perwatakan cuek dan simple ini.
Perjalananpun dilanjutkan kerumah sahabatku alfan di Terenggalek. Di rumah alfan inilah, aku membuat puisi pertamaku untuknya. Dengan hati yang senang, habis melihat wajahnya dengan jelas, akupun bisa mengimajinasikan bidadariku ini dalam setiap rangkaian kata yang aku ketik di hand phone. Suasana hatiku semakin senang, ketika esok harinya dia mengucapkan senang terhadap puisinya dan bilang bagus. Semenjak itu pulalah aku sering mengirimkannya puisi, sampai-sampai puisiku disalin kedalam buku tulis. Meskipun pada akhirnya dia bilang tida suka dengan puisi yang isinya hanya gombal.
Lebaran Idul Adha mendatang, tepat satu tahun kisah kita berdua, tempat dimana kita bertemu untuk melihatmu dengan jelas, hati maupun fisik. Awal perjalanan panjang yang kita rajut dalam ruang dan waktu yang special. Hampir sepuluh bulan aku mendekatinya. Sejarah terpanjang dalam proses hidupku mengejar cinta. Mengejar cinta yang dimulai di hari Idhul Adha dimana para umat muslim ber kurban. Itulah mungkin yang hendak di ajarkan pada kita, bahwa hakikat cinta adalah kurban. Mulai dari kurban hati, perasaan dan kurban mood harus memahami orang lain dalam keadaan apapun.
Setahun lalu, pertemuan kita yang menjadi awal dari segalanya. Lebaran Idul Adha inipun kita masih bersama. Merajut cinta dalam tawa maupun tangis. Yang kuharap tidak hanya lebaran Idul Adha kali ini saja kita bersama, lebaran selanjutnya ku ingin masih bersamamu. Disetiap lebaran Idul Adha kita masih bersama, sampai kita tak bisa lagi merayakan lebaran itu. Bersama, sampai kita mati tak menemui Idul Adha lagi. Semoga…..

Komentar

-- Thiya Renjana™ -- mengatakan…
Aamiin...
Sedang merah jambu yah.. Barakallah....
irham mengatakan…
haha... biasa aja mbak....

Postingan populer dari blog ini

Perlawanan Kampung Tempe Sanan Terhadap Kue Artis Teuku Wisnu, Krisdayanti, dan Kawan-Kawan

Mondok dan Islam Internet ala Jonru

Pelajaran Salat Taraweh untuk Menteri Muhadjir Effendy