Lebih Dekat Dengan Karl Mark


Membicarakan sosialisme sangatlah kurang lengkap bila tanpa membicarakan Karl Mark. Mark merupakan sosok controversial sekaligus inspiratif bagi para tokoh sosialis dan komunis di dunia ini. Terjadinya gerakan komunisme di Indonesia, Vietnam dan Uni Sovyet sangatlah dipengaruhi oleh pemikiran filsuf asal german ini.
Karl Mark lahir di kota Trier Kota perbatasan Jerman Barat pada tahun 1818. Lahir dari keluarga Yahudi meskipun ayahnya kemudian pindah agama Kristen Protestan. Kepindahan agama sang ayah ini banyak disesabkan alasan agar diterima sebagai pegawai notaris karena kota prusia tempat ayah Mark kerja berhaluan protestan, hal inilah yang juga menjadi faktor Mark tidak minat agama.
Latar belakang sang ayah yang seorang notaris, kemudian ayah Mark memintanya masuk di fakultas hukum, namun Mark terpaksa masuk fakultas hukum meskipun tidak minat karena Mark lebih tertarik pada syair. Kemudian, Mark pindah ke berlin tanpa menunggu izin sang ayah dan ditempat inilah Mark mulai belajar filsafat.
Teori Kelas Karl Mark
Dalam segenap teori Mark, sangat simple tentang apa yang dicita-citakan Mark, harapan Mark bahwa dalam masyarakat tidak ada lagi kesenjangan kelas, dalam artian semuanya sama. Tidak ada yang kuat-lemah, majikan-buruh, kaya-miskin dan kesenjangan kelas lainnya.
Dalam analisis Mark, kita bisa memahami sejarah apabila kita sudah paham akan kelas sosial yang ada. Kelas sosial tersebut meliputi tentang kelas yang menguasai dan yang dikuasai. Landasan inilah yang menjadi tolak ukur kritik Mark terhadap masyarakat kapitalis.
Menurut Mark kelas sosial tersebut terdapat tiga macam, hal ini berbeda dengan anggapan banyak orang yang hanya membagi menjadi dua kelas. Ketiga kelas sosial tersebut adalah, pertama, kaum buruh yakni meraka yang hidup karena upah. Kedua, kaum pemilik modal yakni mereka yang mempekerjakan kaum buruh dan hidup karena laba. Ketiga, para tuan tanah yakni mereka yang mendapatkan uang dari hasil tanah yang dikerjakan oleh kaum buruh. Dikarenakan dalam pembahasan selanjutnya tidak akan dibahas tuan tanah dalam membuat keterasingan kepada kaum buruh dan tuan tanah akan di sejajarkan dengan pemilik modal maka yang akan dibahas lebih lanjut adalah dua kategori pertama.
Yang membedakan kelas atas (borjuis) dengan kelas bawah (proletar) adalah kalau kelas atas mereka memiliki modal dan mempunyai alat produksi. Sedangkan kelas bawah meraka yang hanya hidup dengan menjadi buruh dan bekerja kepada sang pemilik modal. Para pekerja hanya diberi pekerjaan demi memberi untung bagi para pemilik modal yang tidak bekerja dan mendapatkan hasil dari para pekerjaan kaum buruh, inilah yang biasanya disebut bahwa hubungan antara kelas atas dan bawah adalah hubungan yang ekspoitatif, kelas atas menghisap kelas bawah.
Hubungan transaksional yang terjadi antara kelas atas dan bawah tidak hanya dilambangkan melalui menifestasi dari kelas atas dan bawah. Namun juga kepentingan yang membuat kelas atas dan bawah tidak bisa damai dan membuat kelas bawah teralienasi dari lingkungan kerja, alat produksi, dan hasil produksi.
Kepentingan kelas juga didukung oleh apparatus negara yang merupakan negara kelas yakni negara yang dikuasai oleh penguasa kelas ekonomi. Selanjutnya, para pemilik modal ingin mendapat laba sebanyak-banyaknya dan para pekerja harus menghasilkan produksi demi upah yang banyak. Para pekerja merasa terasing inipun cendrung bersifat progresif dan revolusioner yang didorong kesadaran dan moralitas pekerja, hal inilah yang kemudian akan terjadi cita-cita mark bahwa para buruh yang tidak tahan di ekspolitasi mengambil jalan revolusi yang kemudian tercapailah masyarakat sosialis yakni masyarakat tanpa kelas dan tanpa kepemilikan pribadi.
Alienasi
Dalam masyrakat kapitalisme, manusia ditakdirkan harus dan senangtiasa bekerja. Pekerjaan merupakan kebutuhan primer untuk memenuhi kebutuhan. Pekerja yang merupakan kebutuhan primer seharusnya menjadi hal yang menyenangkan dan bersifat kepuasaan. Namun yang terjadi di masyarakat kapitalisme industry, para buruh yang bekerja tidak lagi dengan sesuka hati, melainkan terpaksa sebagai sarana untuk hidup.
Keterasingan sang buruh inilah yang sering disebut Mark sebagai alienasi. Alienasi ini banyak bentuknya. Pertama yakni alienasi terhadap dirinya sendiri, para buruh tidak mempunyai penghargaan diri yang tinggi akibat hasil produksinya tidak menjadi bahan kebanggaan sebagai sebuah hasil dan karya dari yang dikerjakan. Hal itulah yang mengakibatkan sang buruh terasing dari diri sendirinya. Para buruh dijadikan seperti mesin yang membuat mereka terasing dari diri sendirinya.
Selanjutnya, Mark menyebutkan bahwa para proletar merasa terasing dari orang lain. Mark menyebutkan setelah terasing dari diri sendirnya, para buruh pun terasing dari lingkungan kerjanya yang merupakan manifestasi dari terasing dari orang lain. Keterasingan tersebut disebabkan adanya hak milik pribadi dan kelas sosial yang mengakibatkan sesama buruh saling bekerja untuk menghasilkan sebanyak-banyaknya produksi dan terasing dari lingkungan sekitarnya.
Dalam menyikapi keterasingan kerja inilah Mark menyebutkan bahwa solusinya adalah penghapusan hak milik pribadi. Kaum buruh bekerja hanya untuk mendapatkan uang untuk kelangsungan hidup. Semuanya saling bersaing menghasilkan uang sebanyak-banyaknya. Dengan penghapusan hak milik pribadi maka seseorang tidak lagi tergantung pada majikan dan tidak harus terpaksa untuk bekerja lagi karena sudah tidak ada yang menjadi majikan dan babu.
Selanjtnya, Mark membedakan tiga tahap manusia,. Tahap pertama adalah masyarakat purba yakni sebagai pembagian pekerjaan dimulai dan yang terjadi adalah masyarakat berpindah-pindah untuk cari makan. Tahap kedua, yang masih berkelanjtan sampai sekarang adalah tahap pembagian kerja yakni tahap hak milik pribadi dan tahap keterasingan bagi kaum pekerja. Tahap ketiga, yang juga cita-cita Mark yakni masyarakat yang bebas dengan ditandai dengan tidak adanya hak milik pribadi, yang inilah mimpi beser Mark untuk menciptakan masyarakat egaliter tanpa kelas sosial.
Cita-cita Sosialisme
Seperti di tegaskan Theimer bahwa masyarakat sosialisme adalah tidak ada kepemilikan pribadi yang ada hanyalah kepemilikan komunal. Yakni kepemilikan yang tidak individualis. Dalam pandangan cita-cita Mark bahwa kepemilikan semuanya di administrasikan kepada Negara. Dalam pandangan Mark, bahwa sosialisasi berarti adalah nasionalisasi asset pribadi kepada Negara. Namun ketika kaum kapitalis tidak lagi mempunyai ancaman, maka Negara kehilangan fungsinya dan selanjutnya pabrik-pabrik pun akan di urus oleh mereka yang bekerja secara langsung.
Ciri ciri masyarakat komunis menurut Mark adalah penghapusan milik pribadi atas alat-alat produksi, penghapusan kelas sosial, menghilangnya Negara dan penghapusan pembagian kerja. Namun ungkapan mark tersebut yang termanifestasi melalui teorinya masih menyisahkan banyak masalah. Masih bisa di dekonstruksi secara kritis dalam proses rasionalisasi pemikiran Mark. Bukan tanpa celah ketika hak milik di hapus, bukan tanpa celah juga ketika kaum proletar melakukan revolusi yang bisa jadi akan timbul borjuis-borjuis kecil muncul dari masyarakat proletar. Selanjutnya, silahkan berdialektika pengetahuan dan selamat berdiskusi.

Komentar

irham mengatakan…
tulisan ini disampaikan pada acara diskusi sabtuan di UKM INOVASI UIN Maliki Malang

Postingan populer dari blog ini

Perlawanan Kampung Tempe Sanan Terhadap Kue Artis Teuku Wisnu, Krisdayanti, dan Kawan-Kawan

Mondok dan Islam Internet ala Jonru

Pelajaran Salat Taraweh untuk Menteri Muhadjir Effendy