EDAN



Edan, kata yang erat bagi warga malang. Julukan Arema juga singa edan, tentu maknanya bukan seperti yang sering kita kaji secara psikologi. Bukan karena singa itu gila dan tidak waras. Edan ala Arema tentu bermakna lain, edan bermakna semangat dan keedanan Arema dalam membentai musuh.
Edan secara psikologi sering di istilahkan dengan hal yang tak normal, orang yang sering berbicara sendiri juga di sebut edan. Mereka yang nyeleneh juga terkadang di sebut edan. Bahkan Gus Dur oleh sebagian kelompok di katakan kyai edan karena kebedaannya. Nabi Muhammad pun pernah di sangka edan oleh kaum jahiliyah ketika beliau mengaku telah bertemu tuhan dan pergi ke langit ketujuh dalam waktu semalam. Jadi, penjustifikasian makna edan sangatlah subyektif dan edan secara singkat bisa disebabkan karena kebedaan.
Ronggo Warsito, seorang santri dan penyair pernah memakai terminologi edan. Menurut beliau, zaman saat ini adalah zaman edan, artiannya yang tidak ikut edan tidak akan kebagian. Zaman yang berbeda inilah yang mencoba ditafsirkan oleh beliau, zaman yang ketika Ideologi dan nilai-nilai kebaikan dikesampingkan. Semua di anggap tiada, asalkan sudah edan karena hanya dengan edan mereka akan kebagian.
Berbicara kebagian, banyak orang yang pengen kebagian. Hanya demi kebagian pulalah seseorang sering bertikai. Ada yang kepingin kebagian proyek, kucuran dana gelap, kecipratan hasil korupsi dan kebagian yang lain. Hanya yang edanlah yang akan kebagian.
Gayus Tambunan dan kroninya tidak akan kebagian kekayaan begitu besar andai tidak ikut edan. Kyai pun banyak yang ikutan edan, ada yang demi membela istana, mengedankan diri dengan mengcounter para tokoh agama yang menyuarakan anti kebohongan. Andai tidak ikut edan pula, kampus kita tidak akan bertitel ISO meskipun realitasnya pelayanan dan kualitasnya biasa aja, praktek edan di praktekkan demi sebuah title ISO.
Ronggo Warsito melanjutkan terminologinya, seberuntung orang yang ikut edan namun lebih beruntuang mereka yang tetap berpegang terhadap ideologi dan nilai-nilai. Kalau PMII, kita berpegang teguh akan nilai ke islaman kita. Berpegang pada nilai dasar pergerakan kita. Hanya dengan itulah kita terlepas dari keedanan yang lagi ngetren di bangsa ini.
Mahasiswa sebagai manifetasi pergerakan, dari sinilah berbagai bentuk perubahan terjadi. Transformasi social yang dilakukan tentunya harus berpegang teguh pada ideologi sebagai insan pergerakan. Hanya dengan berpegang teguh, kita tidak akan ikutan edan.
Ketika tokoh lintas agama menyerukan anti kebohongan, layakya organisasi kemahasiswaan juga menyerukan anti keedanan. Kalau bohongpun namun masih edan pasti akan tetap kacau. Orang berbohong bisa saja karena kebaikan dan belum tentu merugikan sesama, namun ketika praktek ke edanan ala Ronggo Warsito itu dilakukan maka segenap elemen bangsa ini akan ikut rugi. Ketika semua edan, hanya kepada mahasiswalah harapan untuk bisa mengartikan edan layaknya Arema, yakni edan yang penuh semangat, edan untuk menang dalam sebuah kompetisi, bukan edan menikam dan merugikan sesama.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perlawanan Kampung Tempe Sanan Terhadap Kue Artis Teuku Wisnu, Krisdayanti, dan Kawan-Kawan

Mondok dan Islam Internet ala Jonru

Pelajaran Salat Taraweh untuk Menteri Muhadjir Effendy