Gus Dur Tidak Perlu di Bela


Sepeninggal Gus Dur banyak pihak yang merasa kehilangan, baik dari kalangan muslim maupun non muslim. Sebagai sebuah tokoh Gus Dur banyak mempunyai simpatisan baik itu dari kalangan Nahdliyin sebagaimana posisi beliau mantan Ketua Umum PB NU, sebagai warga nagara beliau adalah mantan Presiden, dan di kalangan umat beragama Gus Dur merupakan tokoh pluralisme.
Kepergian Gus Dur di peringati dengan berbagai macam seremonial, haul setahun di rayakan dengan begitu meriah di pesantren ciganjur, berbagai komunitas diskusi di adakan dalam rangka mengkaji pemikiran beliau, dan berbagai acara seremonial dilakukan untuk mengenangnya. Seolah kepergian Gus Dur sebagai sebuah kemeriahan yang sedikit sekali penghayatan.
Forum Gusdurian atau yang semacamnya tentunya mempunyai ekspektasi tinggi bahwa perjuangan gus dur tidak berhenti setelah beliau meninggal. Tentunya Gus Dur tidak akan mau ketika forum-forum ini hanya mengkultuskan beliau dan memakai istilah Gusdurisme sebagai mana penolakan Mark ketika hendak di sebut marxisme. Gus Dur tentu tidak hendak membangun zaman “pasca” Gus Dur yang seolah menandai kebesaran beliau sebagai sebuah tokoh.
Pandangan penulis bahwa Gus Dur tidak minta untuk di bela dengan menuntut pemerintah memberi gelar pahlawan, atau dengan acara seremonial yang miskin penghayatan tentang kepergiannya. Sebagai seorang tokoh besar, Gus Dur merupakan pejuang yang dengan konsisten membela kaum mustadafin dan inilah yang diminta Gus Dur untuk di bela bukan gusdurnya.
Spirit perjuangan gus dur inilah yang harus kita teladani dan menjadi sikap serta cara pandang kita dalam membangun peradaban. Gus Dur mengajarkan kita untuk berfikiran terbuka tanpa terkotak kotakan dengan dogma-dogma agama. Berfikiran dan bertindak terbuka inilah yang mengantarkan Gus Dur menjadi tokoh semua golongan bukan tokoh warga NU dan muslim saja. Gus Dur membuka ruang dialog umat beragama dalam rangka perdamian dan penyamaan di mata hokum.
Gus Dur juga mengajarkan kita untuk membangun Indonesia baru yang damai tanpa prasangka dan bebas dari kebencian. Untuk itu, masa lalu yang kejam, kelam, serta tidak toleran harus diputus. Partisipasi masyarakat mesti dibangun, yang lemah tidak ditinggalkan. Dengan persahabatan yang luas dan menyeluruh itu kita baru bisa membangun Indonesia yang kuat. Untuk itu Gus Dur tidak keberatan untuk meminta maaf kepada korban 1965 yang diserang oleh Banser NU. Meskipun Gus Dur mengatakan bahwa ia juga memiliki kerabat yang terbunuh dalam peristiwa Madiun 1948. Namun, balas dendam itu tidak ada gunanya dilanjutkan. Kita tidak akan mampu mewujudkan rekonsiliasi tanpa menghilangkan stigma atau kecurigaan terhadap suatu kelompok.
Sebagai seorang kepala Negara misalnya, Gus Dur tidak seperti gaya pencitraan SBY, Gus Dur mengajarkan kepada kita tentang substansi bukan bungkus. Bukan pencitraan namun substansi perjuangan yang di ajarkan kepada bangsa ini. Gus Dur juga mengajarkan kepada kita untuk menjadi pemimpin semua golongan bukan pemimpin umat muslim dengan menghilangkan diskriminasi terhadap etnik Tionghoa dengan Instruksi Presiden (Inpres) No 6/2000 yang dikeluarkan tanggal 17 Januari 2000 untuk mencabut Inpres 14/1967 tentang agama, kepercayaan, dan adat istiadat China. Pada masa Orde Baru, orang takut bersembahyang di kelenteng atau melakukan acara budaya Tionghoa lainnya. Namun sejak masa pemerintahan Gus Dur, tahun baru Imlek dijadikan libur fakultatif.
Dan banyak perjuangan gus dur yang lain yang harus kita perjuangankan bukan malah membela gus dur yang seyogyanya tidak usah dan minta untuk di bela. Gusdurian seyogyanya tidak di jadikan kata sifat oleh para pengkaji pemikiran Gus Dur, yang mensifati Gus Dur tanpa melanjutkan perjuangan Gus Dur. Sebagai kata sifat tentunya Gusdurian akan terkooptasi oleh pemikiran Gus Dur tanpa ada dinamisasi pemikiran serta keberlanjutan perjuangan Gus Dur secara praksis karena hanya di jadikan kata sifat.
Namun seyogyanya Gusrian menjadikan Gus Dur kata kerja karena bilau memang subyek dari semua perubahan. Gus dur menjadi kata kerja tentunya tidak seperti ungkapan marxisme yang cenderung mengkultuskan dan mensifati Mark. Namun menjadikan Gus Dur kata kerja lebih dinamis dan melanjutkan perjuangan beliau sebagai guru bangsa.
Dalam rangka memperingati hari pahlawan ini, tidak usahlah kita membela Gus Dur untuk di tetapkan menjadi pahlawan nasional. Biarkan pemimpin kita menilai objektif tentang kepahlawanan Gus Dur tanpa harus kita melakukan desakan atau belaan terhadap Gus Dur, toh Gus Dur tidak perlu untuk di bela. Spirit dan keberlanjutan perjuangan Gus Dur inilah yang harus kita lanjutkan untuk memperjuangan yang minoritas, terpinggirkan dan yang subordinat. Karena bagaimanapun Gus Dur adalah tokoh yang substansial yang tidak butuh gelar pahlawan sekalipun karena gus dur bukan tokoh pencitraan seperti pemimpin kita saat ini.



Di sampaikan pada acara diskusi Gerakan Gusdurian Muda (GARUDA) pada Tanggal 10 November 2011 dengan tema “Spirit Perjuangan Gus Dur dan Hari Pahlawan” di UIN MALIKI Malang

Komentar

ghea mengatakan…
nice post gan...
oya kalo boleh tukeran link ini link saya
http://blog.umy.ac.id/ghea
kalo sudah terpasang tolong dikabarin yah..
terima kasih..
ghea mengatakan…
nice post gan...
oya kalo boleh tukeran link ini link saya
http://blog.umy.ac.id/ghea
kalo sudah terpasang tolong dikabarin yah..
terima kasih..

Postingan populer dari blog ini

Perlawanan Kampung Tempe Sanan Terhadap Kue Artis Teuku Wisnu, Krisdayanti, dan Kawan-Kawan

Mondok dan Islam Internet ala Jonru

Pelajaran Salat Taraweh untuk Menteri Muhadjir Effendy