Gajinya untuk Beli Buku, Pukul 04.00 Masakan Harus Sudah Siap


Ketika sudah tua, kebanyakan orang akan memilih menghabiskan hidupnya dengan anak atau cucunya. Namun tidak bagi Siti Barokah. Sudah 10 tahun dia menghabiskan hidupnya bersama puluhan anak yatim-piatu di Yayasan At-Taufiq, Jalan Sanan, Kota Malang.

Irham Thoriq

Selasa (9/4) sekitar pukul 11.00, Siti Barokah tampak sedang berada di dapur Yayasan At-Taufiq. Dia sibuk memasak untuk anak yatim-piatu. Ketika Radar Malang mendatangi panti asuhan, tampak seorang perempuan berkaos oblong berada di depan kamar di lantai II.
Perempuan tersebut tak lain anak kandung Siti Barokah yang datang dari Surabaya untuk mengunjungi ibunya. Tak lama kemudian, Siti Barokah datang. Wajahnya tampak berkeringat dengan baju dan kerudung seadanya.
Dengan ramah dia menemui Radar. Meskipun sudah berumur 68 tahun, wanita kelahiran Malang ini tampak masih muda dari usianya. ”Di sini aja ya Mas. Sejuk udaranya,” pinta Siti saat mau diwawancarai.
Lantas perempuan lima anak ini bercerita sejarah masuknya ke yayasan yang dikelola Muhtadi Ridlwan, dekan FE UIN Malang ini. Menurut dia, sebelum mengabdikan diri di yayasan, dia yang menjanda karena suaminya meninggal dunia pada 1989 ini memilih jalan hidup untuk mengabdi ke pondok pesantren.
Pada 1999, dia mengabdi di Pondok Pesantren Nurul Amin Sawangan, Jawa Barat yang diasuh (alm) Prof Khadirul Yahya. Sekitar tiga tahun dia mengabdi di pondok tersebut. Selanjutnya pada 2002 dia pindah ke Yayasan At-Taufiq setelah diberi tahu tetangganya yang ada di Malang.
Saat itu dia mendapatkan informasi ada yayasan membutuhkan tukang masak dan mengurusi anak panti asuhan. ”Akhirnya saya memilih di yayasan ini karena ingin lebih dekat dengan keluarga,” ujar ibu lima anak ini.
Siti menjelaskan bahwa dia ingin menghabiskan waktu tuanya di Panti Asuhan At-Taufiq. Ini dilakukan karena sejak kecil dia ingin menjadi santri. Karena tidak kesampaian, maka cita-cita itu diganti dengan mengabdi di panti asuhan. ”Ini kesempatan untuk ibadah sambil menunggu ajal,” ungkapnya.
Meskipun semua anaknya berkecukupan, namun tidak membuat Siti lalu ingin tinggal bersama anaknya. Selain tidak mau mencampuri rumah tangga anak, dia ingin lebih taat beribadah di tempat ini.
Siti yang akrab dipanggil Nenek ini memang sudah dianggap ibunya sendiri oleh anak panti asuhan. Semua anak panti asuhan ini sangat dekat dengan Siti, karena selain sabar dan telaten, dia juga dianggap sudah mengenal betul mengenai pola asuh anak panti asuhan.
Tinggal dan hidup bersama anak panti asuhan yang usianya masih kecil memang mempunyai kisah tersendiri bagi Siti. Suatu ketika dia marah karena anak panti asuhan tidak bisa diatur. Saat itu dia pulang ke rumah anaknya di Surabaya dan rencananya tidak mau kembali lagi.
Namun tidak sampai seminggu dia kembali lagi ke yayasan ini. Dia mengaku tidak bisa meninggalkan anak panti asuhan yang sudah dirawat bertahun-tahun. ”Saya tidak bisa meninggalkan anak-anak. Meski saya marah, tapi saya ndak tega,” tambahnya.
Semenjak kejadian itu Siti berjanji tidak akan meninggalkan anak panti asuhan. Ketika marah karena anak panti asuhan tidak mau diatur, dia mempunyai tips tersendiri, yakni pulang atau refreshing. Setelah marahnya selesai, dia baru kembali lagi ke panti asuhan. ”Saya refreshing kalau lagi marah. Baru setelah selesai kembali lagi,” tambah dia.
Selama 10 tahun di Yayasan At-Taufiq, banyak yang sudah alumni di yayasan ini menganggap Siti sebagai ibunya. ”Banyak dari jauh datang ke sini katanya kangen dengan saya. Mereka sudah seperti anak saya sendiri,” ungkapnya.
Nenek 18 cucu ini memang dikenal penyabar dan perhatian. Sebelum anak panti asuhan berangkat sekolah pukul 07.00, masakan dan piring sudah dibersihkan. Aktivitas perempuan berkulit putih ini selain memasak untuk anak panti asuhan, juga mengerjakan semua hal.
Setiap hari dia bangun pukul 24.00 untuk membersihkan halaman yayasan dan menyiapkan masakan untuk anak panti asuhan. ”Pukul 04.00 biasanya sudah beres semua,” ujarnya.
Nenek kelahiran 17 agustus 1944 ini terkadang merasa malas ketika harus mengurus anak yang besar dan tidak bisa diatur. ”Abah Muhtadi Ridlwan itu yang biasanya menesehati saya. Katanya namanya juga anak-anak, maklum kalau nakal,” katanya.
Selain itu, untuk urusan gaji, bagi Siti tidak menjadi persoalan yang penting. Karena, gaji yang setiap bulan sebesar Rp 500 ribu tidak dihabiskan sendiri. Namun, hampir semua gajinya itu justru diberikan kepada anak-anak panti asuhan untuk beli buku atau sekadar beli jajan.
Hal ini bukan tanpa alasan. Mengingat lima anaknya kini sudah mandiri semua dan menjadi orang sukses. ”Bagi saya mengabdi di pantai asuhan menjadi kebanggaan tersendiri. Dan itu saya nikmati hingga kapanpun. Karena ini jalan hidup yang harus saya jalani,” tambahnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perlawanan Kampung Tempe Sanan Terhadap Kue Artis Teuku Wisnu, Krisdayanti, dan Kawan-Kawan

Mondok dan Islam Internet ala Jonru

Pelajaran Salat Taraweh untuk Menteri Muhadjir Effendy