Atasan Baru Tahu setelah Bulan Lalu Rebut Juara Nasional

Menjadi petinju profesional dianggap belum bisa memberi penghasilan yang menjanjikan. Heru Tito, salah satu atlet tinju dari Malang harus bekerja menjadi satpam untuk mencukupi kebutuhan sehar-hari. Irham Thoriq Rabu (25/4) sekitar pukul 11.00 Heru Purwanto atau dikenal Hero Tito wajahnya tampak berpeluh keringat. Di tengah terik matahari, Heru sedang mengatur arus kendaraan yang lalu lalang keluar masuk perkantoran terpadu atau block office Pemkot Malang di Jalan Mayjend Sungkono. Sesaat kemudian di masuk pos satpam. Radar yang telah menunggu dipersilakan duduk di pos satpam yang berukuran sekitar 4 x 3 meter ini. Heru menyuguhi teh manis yang telah dipersiapkan sebelumnya. Tidak lama berselang, dia bercerita sejarah masuknya dia menjadi satpam. Dia yang baru empat bulan bekerja di tempat ini, pada awalnya disuruh Ade Herawanto pemilik sasana D’Kross untuk ikut tes. Dari lima yang mendaftar, tiga orang diterima dan salah satunya adalah Heru Tito. Bagi Heru yang merupakan petinju profesional, menjadi satpam tentunya tidak manjadi cita-citanya. Karena tinju tidak memberi penghasilan yang tetap, membuatnya harus mencari penghasilan lain untuk menafkahi istrinya. ”Kalau tinju itu tidak mesti. Kadang baru empat bulan sekali ada pertandingan dan dapat bayaran,” ungkap pria yang menikah dengan Dinda Nurul Wijayati sejak 19 Juli 2008 ini. Bahkan sebelum menjadi satpam, pada 2011 lalu Heru pernah menjadi pengamen untuk memenuhi kehidupan sehari-harinya. Meskipun hanya sekitar tiga bulan, profesi mengamen ini dilakukannya karena pada saat itu dia memang tidak punya uang untuk kebutuhan keluarganya. Petinju profesional yang juara nasional kelas bulu versi KTI/KTPI pada 2010 ini memang terkadang agak kesulitan untuk mengatur waktu antara menjadi satpam dan petinju. Namun, dia merasa beruntung, karena meski dia sering terlambat datang kerja, tapi sesama satpam bisa memakluminya. ”Teman men-support Mas atas profesi saya sebagai petinju,” ucap pria kelahiran 1986 ini. Kesibukannya sebagai petinju profesional memang membuat dia sering kewalahan membagi waktu. Semisal dia sering telat ketika dia harus latihan di sasana D’Kross pada pukul 15.00. Heru yang mempunyai jadwal jaga sore terkadang terlambat lebih dari satu jam. Tidak hanya ketika latihan, ketika mau bertanding biasanya minta izin satu minggu untuk latihan. Atasannya juga memaklumi meskipun dia sering izin. Ketika dia izin memang harus dipotong gaji. Bagi teman satpam dan atasannya yang mendukung profesinya, izin diberikan karena dia juga membawa nama Kota Malang. Kakaknya, Sismorales, yang juga petinju profesional juga bekerja menjadi satpam di tempatnya. Namun ketika Radar berada di sana, kakaknya tidak berada di tempat. ”Ini kakak saya Mas. Dia juga mengenalkan saya tentang tinju ketika saya masih kecil,” ungkap Heru sambil memperlihatkan foto kakaknya yang sedang berfoto dengan satpam lain. Meski menjadi satpam hanya dikontrak satu tahun, namun pria kelahiran Pakis, Kabupaten Malang ini ke depannya ingin menjadi PNS. Hal ini dikarenakan, menurut dia, tinju dan satpam yang menjadi profesinya sekarang tidak dapat diharapkan sampai hari tua. ”Saya ingin jadi pegawai Mas. Apapun pekerjaanya yang penting menjadi PNS,” imbuhnya Menjadi pegawai ini sempat terlintas di benaknya pada 2009 lalu. Saat itu Peni Suparto, wali Kota Malang sempat menjanjikan kepadanya jika berprestasi bisa dipertimbangkan untuk menjadi PNS. ”Dahulu beliau pernah bilang bahwa ketika berprestasi petinju bisa direkomendasikan menjadi PNS,” ucapnya. Selanjutnya pada Januari 2010 Heru menjadi juara nasional kelas bulu versi KTI/KTPI kelas 57,1 Kg. Setelah kejuaraan tersebut dia dipanggil irtri Peni Suprapto, Heri Pudji Utami. Waktu itu Heri Pudji menanyakan apakah dia punya ijazah SMP apa tidak untuk dipertimbangkan menjadi PNS. Namun, Heru yang mengenyam pendidikan di SMP 2 Pakis ini harus putus sekolah ketika kelas 2. ”Saya putus sekolah karena disibukan dengan latihan tinju,” tambah dia. Selanjutnya Heri Pudji menyuruh ikut ujian kesetaraan paket B. Pada Juni 2010 dia mendapatkan ijazah paket B yang setara dengan SMP. Namun, saat ini Heru beranggapan mungkin istri orang nomor satu di Kota Malang itu sudah lupa karena waktunya sudah lumayan lama. ”Meskipun sudah punya ijazah, saya malu mau ngomong kepada beliau (Heri Pudji Utami, Red),” ucap anak terakhir dari empat bersaudara ini. Sementara itu, meskipun sudah menjadi satpam di block office selama empat bulan, pada mulanya orang kantor banyak yang tidak mengenalnya. Namun Heru tiba-tiba menjadi populer setelah 14 April lalu dia mendapatkan gelar juara nasional ringan junior di kelas 58,9 dengan mengalahkan petinju asal Papua, Marchel Layanan, dari Sasana Kuripasai BC, Jayapura. Kejuaraan tersebut kebetulan digelar di Kota Malang dalam rangka memperingti HUT Kota Malang. ”Banyak atasan saya yang awalnya tidak kenal, setelah kejuaraan itu tiba-tiba memanggil nama saya. Katanya baru tahu bahwa saya petinju setelah kejuaraan lalu,” akunya. (*/ziz)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perlawanan Kampung Tempe Sanan Terhadap Kue Artis Teuku Wisnu, Krisdayanti, dan Kawan-Kawan

Mondok dan Islam Internet ala Jonru

Pelajaran Salat Taraweh untuk Menteri Muhadjir Effendy