Gerobak Pakai Nama Ring, Ingin kembangkan Usaha

Menjadi petinju tidak menjamin kehidupan yang layak. Salah satunya yang dialami Rudi Sulistiono. Mantan petinju nasional itu kini berjualan cilok.

Irham Thoriq 


Wajah Rudi Sulistiono masih berpeluh ketika ditemui Kamis (5/7) lalu di pangkalan angkot JDM di kawasan Joyogrand, Merjosari. Di belakangnya, ada gerobak cilok yang dibawa pria berumur 45 tahun itu dengan sepeda motor. Di gerobak itu, tertera tulisan cilok Kili-Kili. Ya, nama cilok Rudi tersebut memang diambil dari nama ringnya ketika masih menjadi petinju. ”Biar orang mudah mengingatnya. Jadi, saya kasih nama ring saya,” kata pria kelahiran 4 Maret 1967 itu. Karena nama tersebut, selain dikenal sebagai penjual cilok, Rudi juga banyak dikenal pelanggannya sebagai mantan petinju karena pelanggan kebanyakan penasaran terhadap nama tersebut. ”Mereka tanya arti kili-kili itu. Setelah dikasih tahu, mereka baru tahu kalau saya mantan petinju,” ungkap ayah dari Alfan Imanudin, 20, dan Dwi Khoirudin, 17, tersebut. Nama Kili-Kili disandang Rudi pada tahun 2000-an. Waktu itu, ketika tampil di Jakarta, promotor menyebut dirinya sebagai Rudi Kili-Kili. Nama itu, menurut promotornya, mirip dengan Rahman Kili-Kili yang merupakan juara nasional versi Komite Tinju Indonesia (KTI) waktu itu. ”Promotor bilang, saya sama dengan Rahman. Postur sampai wajah saya yang agak hitam. Jadi, sampai sekarang, saya dikenal Rudi Kili-Kili daripada nama asli saya,” ucap suami Siti Mudrikah ini. Di dunia tinju, Rudi memang tidak pernah menjadi juara nasional. Namun, dia pernah merebut peringkat tiga nasional kelas terbang mini versi KTI. Rudi nyaris meraih juara nasional jika tidak kalah melawan petinju Nico Thomas yang merupakan peringkat satu terbang mini versi International Boxing Federation (IBF). Saat bertanding menghadapi Nico di Jakarta pada tahun 1999, Rudi kalah TKO karena hidungnya sobek. ”Saya kalah karena memang beda kelas. Nico sudah kelas dunia,” tuturnya. Meskipun gagal di tingkat nasional, Rudi pernah merasakan beberapa kali juara di tingkat provinsi. ”Tahun 2002, saya juara mastering enam ronde yang diadakan di Pacitan. Ini medalinya kalau sabuknya sudah hilang,” ungkap Rudi sambil menunjukkan medali tersebut. Meskipun cukup berprestasi di dunia tinju, kondisi ekonomi Rudi terbilang pas-pasan. Jangankan sekarang, dahulu menjadi petinju pun, dia mengaku kesulitan uang karena tidak pernah ada tunjangan dari pemerintah. Hal itulah yang mengharuskan dia bekerja sampingan. Waktu itu, Rudi nyambi menjadi tukang parkir di pabrik Sampoerna, Blimbing. ”Kalau petinju itu kan memang tidak ada bayarannya, kecuali waktu mau tanding. Itu pun dipotong oleh manajemen sasana,” ucap jebolan Sasana Kanjuruhan dan Sasana Arema itu. Ketika sudah tidak jadi tukang parkir lagi sejak 2005, pada 2006 dia pernah menjadi satpam di Universitas Gajayana (Uniga). Namun, karena bayarannya sedikit, pada 2007 Rudi nyambi membuka usaha cilok. Sudah dua bulan ini dia berhenti menjadi satpam karena ingin fokus usaha cilok. ”Lebih menghasilkan jualan cilok,” ungkap pria yang menekuni tinju sejak 1987 itu. Rudi belajar berjualan cilok kepada tetangganya di Taman Sari Gg 1 Merjosari. Penghasilannya dari berjualan cilok lumayan. Setiap hari Rudi mendapatkan uang kotor sekitar Rp 400 ribu. Dia berjualan mulai pukul sembilan pagi sampai sore. ”Kotor segitu. Kalau bersih, sekitar Rp 50 ribu,” tutur alumnus SMP Narotama itu. Meskipun penghasilan menjual cilok lumayan untuk keperluan sehari-hari, Rudi bertekad mengembangkan usahanya tersebut dengan membuka cabang. ”Ingin membuka cabang, tapi masih belum punya modal,” kata dia. Selain lebih menghasilkan dibandingkan pekerjaannya terdahulu, Rudi mengaku menjual cilok menyenangkan. Soalnya, dia banyak bertemu dengan orang. Juga melayani anak kecil-kecil yang sering harus dijalani dengan sabar. ”Jadi, membantu mengatur emosi, apalagi kalau yang dilayani anak yang kecil-kecil,” ucap pria berkumis itu. Selama berjualan cilok, banyak yang mengenalnya sebagai petinju. Pernah Rudi disapa sopir angkot yang tiba-tiba tahu nama ringnya. Ketika ditanya tahu dari mana, orang tersebut mengaku tahu ketika melihat pertandingan tinju pada 2006 di Indosiar. Saat itu Rudi bermain di partai tambahan. ”Sebelumnya, pada 2005, saya juga pernah tampil di babak tambahan di RCTI,” ungkap Rudi. Meskipun sekarang berprofesi sebagai pedagang cilok, Rudi masih mengikuti perkembangan dan pertandingan tinju. Ketika ada pertandingan tinju di televisi, sesibuk apa pun, dia selalu menyempatkan untuk nonton. Biasanya dia numpang nonton di rumah orang di tengah perjalanannya berjualan cilok. ”Tinju tak bisa saya tinggalkan,” ujar anak kedua dari lima bersaudara itu. Selain itu, Rudi masih aktif ketika ada pertemuan mantan petinju di Malang. Juni lalu, misalnya, dia hadir dalam deklarasi Forum Insan Tinju Malang Raya (Fitma) yang diadakan di Balai Kartini, Kota Malang. ”Saya selalu hadir karena saya ingin mengetahui perkembangan tinju di Malang,” ungkapnya. Rudi juga punya harapan Kota Malang kembali menjadi barometer tinju tanah air seperti tahun 1980-an. Menurut dia, agar tinju kembali digemari, seharusnya pemerintah memberikan tunjangan yang layak kepada petinju. (yn)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perlawanan Kampung Tempe Sanan Terhadap Kue Artis Teuku Wisnu, Krisdayanti, dan Kawan-Kawan

Mondok dan Islam Internet ala Jonru

Pelajaran Salat Taraweh untuk Menteri Muhadjir Effendy