Melatih di Banyak Tempat tanpa Bayaran



Maraknya hiburan pop membuat kesenian tradisional Jawa semakin terkikis. Apalagi, jarang orang yang mau melestarikan kesenian tradisional Jawa. Namun, Sujianto yang merupakan buruh pabrik sangat tekun menggeluti kesenian Jawa. Dia melatih seni Jawa tanpa bayaran.

Irham Thoriq

Suara gamelan dan gendang terdengar dari kejauhan saat Radar memasuki kawasan di dekat balai kelurahan Tanjungrejo, Sukun, Minggu (17/6) lalu. Di situ, ada tiga perempuan dan tiga pria yang rata-rata umurnya 50 tahun sedang memainkan alat kesenian tradisional Jawa. Salah satunya Sujianto. Dia tengah memainkan gamelan dan memberi pengarahan kepada penabuh alat lainnya.
Bermain kesenian tradisional Jawa merupakan latihan rutin yang dipimpin Sujianto setiap Minggu siang. Awalnya, latihan tersebut khusus untuk ibu-ibu PKK Tanjungrejo. Namun, karena minim yang datang, bapak-bapak yang lain membantu bermain musik tradisional tersebut. ”Setiap Minggu saya di sini, membantu melatih ibu-ibu,” ucap pria kelahiran 1 Januari 1951 itu.
Selain melatih ibu PKK tiap Minggu pagi, setiap Minggu malam di balai kelurahan, Sujianto juga melatih 16 bapak. Sedangkan Sabtu malam, dia melatih warga di dekat rumahnya, di Gang Putra Yudha VI Blok B No 12 Tanjungrejo, Sukun.
Sujianto memang memiliki beberapa keahlian terkait kesenian tradisional Jawa. Mulai bermain gamelan, jaran kepang, wayang orang, ludruk, sampai ketoprak.
Kegiatan tersebut dilakukan Sujianto karena kecintaannya terhadap kesenian tradisional Jawa yang telah dia geluti sejak kelas 5 SD pada 1965. Selain itu, kegiatan tersebut dilakukan guna mengisi waktu kekosongan akhir pekan Sujianto sebagai buruh pabrik kerupuk yang berada tidak jauh dari rumahnya.
Bukan hanya kalangan bapak dan ibu yang dilatih oleh bapak dua anak itu. Sujianto juga menjadi pelatih di Sanggar Turonggo Langgeng Budoyo yang berada di dekat rumahnya. Di sanggar tersebut, Sujianto melatih tari Jawa bagi anak-anak yang rata-rata masih SMP.
Melalui sanggar tersebut, banyak prestasi yang telah didapatkan anak asuh Sujianto. Pada 2011 lalu, anak asuhnya menjadi juara dua dalam lomba tari Jawa se-Jawa Timur di lapangan Rampal Kota Malang. Pada 2010, dia pernah mengantarkan anak didiknya juara harapan satu lomba tari se-Jawa Timur yang diadakan di MOG Kota Malang. Pada tahun yang sama pula, anak didiknya meraih juara harapan dua tari Jaran Pegong di Hotel Aloha, Kota Malang.
Meskipun menjadi pelatih kesenian Jawa di berbagai tempat, Sujianto tidak pernah dibayar dan tidak mengharapkan bayaran. Bagi dia, menularkan kesenian Jawa yang sudah tidak digemari oleh masyarakat merupakan kepuasan batin tersendiri. ”Dalam seni itu, yang penting kepuasan, bukan bayaran. Kadang-kadang malah saya yang mengeluarkan uang untuk beli jajan ketika anak-anak berlatih,” tutur dia.
Sujianto juga merasa bangga karena anak didiknya di sanggar, yakni Siti Zulaikha dan Sriwahyuni, yang dulu merupakan pengamen jalanan beberapa kali beprestasi dalam bidang tari. Keduanya juga berhenti mengamen dan menekuni tari-tarian.
Meskipun hanya menjadi buruh pabrik yang gajinya Rp 25 ribu sehari, Sujianto rela menyisihkan bayarannya itu untuk membeli perlengkapan di sanggar. Hal itu dia lakukan karena perlengkapan di sanggar tempat dia melatih kurang. ”Ini saya yang beli. Namanya badong. Untuk perlengkapan menari. Harganya dulu sekitar Rp 500 ribu,” ucap alumnus SD Kristen Donomulyo itu.
Selain menjadi pelatih kesenian Jawa, Sujianto sejak 1965 telah banyak diundang untuk menampilkan kesenian Jawa seperti ludruk dan jaran kepang di acara seperti pernikahan atau sunatan. ”Saya tidak pernah menghitung berapa kali tampil. Tapi kayaknya seratus kali lebih sudah ada karena sudah sejak kelas 5 SD saya berkesenian,” ungkapnya.
Meskipun sudah memiliki jam terbang tinggi, Sujianto tidak pernah memasang tarif ketika tampil. Bahkan, tidak jarang dia hanya diberi makan dan tidak dibayar ketika tampil. ”Sering tidak dibayar. Tapi tidak masalah karena prinsip saya tidak pernah mengharapkan bayaran ketika tampil. Kalau ada diambil. Kalau tidak ada, bukan masalah,” ujarnya. 
Bagi Sujianto, mengajari masyarakat dan anak-anak merupakan kewajiban. Apalagi, sudah tidak banyak yang menekuni kesenian tradisional Jawa. Bahkan, dia miris karena justru banyak warga asing seperti Jepang dan Belanda yang menekuni kesenian Jawa. ”Yang saya tahu, banyak warga asing belajar kesenian Jawa. Sedangkan kita sendiri yang orang Jawa jarang menekuninya,” ucap dia.
Meskipun sudah tua, Sujianto tidak tahu sampai kapan tetap menggeluti kesenian Jawa. Namun, dia berharap dirinya masih diberi kesehatan agar bisa mengajarkan kesenian Jawa, terutama bagi anak-anak sebagai regenerasi ketika dirinya sudah tidak bisa melatih kesenian Jawa. ”Tidak tahu sampai kapan. Yang jelas, saya ingin kesenian Jawa tetap dilestarikan karena ini warisan nenek moyang,” tandas dia.  (yn)
  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perlawanan Kampung Tempe Sanan Terhadap Kue Artis Teuku Wisnu, Krisdayanti, dan Kawan-Kawan

Mondok dan Islam Internet ala Jonru

Pelajaran Salat Taraweh untuk Menteri Muhadjir Effendy