Sering Diundang Tampil di Hotel Berbintang

Anak jalanan selama ini identik dengan kekerasan dan minim prestasi. Namun, hal tersebut tidak berlaku bagi Siti Zulaikha dan Sriwahyuni. Keduanya memutuskan untuk pensiun jadi pengamen dan menjadi pdnari Jawa. Berkat kegigihannya, berbagai prestasi telah mereka raih. Irham Thoriq Kemarin (2/6) pagi sekitar pukul 09.00, di ruang tamu berukuran 3 x 4 meter di sebuah rumah di Jl Putra Yudha 5 Blok E Mergan, tampak Siti Zulaikha dan Sriwahyuni sedang berlatih menari Jawa. Gemulai sekali gerakan keduanya. Padahal, cukup lama mereka tidak menari karena kesibukan di sekolahnya. Ya, keduanya merupakan siswi kelas IX di SMPN 21 Kota Malang. Di ruang tamu tersebut, terlihat foto Yuli –sapaan Siti Zulaikha– dan Yuni –panggilan Sriwahyuni– serta empat orang lainnya, Foto tersebut berukuran lumayan besar. Dalam foto ini, empat orang memakai pakaian tari khas Jawa Timur, yakni tari remong. Sedangkan dua lainnya merupakan pengurus Sanggar Turonggo Langgeng Budoyo, tempat keduanya berlatih tari. ”Itu foto ketika kami juara dua lomba tari Jawa se-Jawa Timur. Waktu itu lomba diadakan di Rampal, 2011 lalu,” ucap Yuli. Sebelum menekuni dunia tari, kedua anak tersebut memang kurang beruntung secara finansial. Kedua orang tuanya tidak mempunyai pekerjaan tetap sehingga kesulitan secara ekonomi juga mendera kedua anak bertetangga tersebut. Karena ekonomi keluarganya yang morat-marit itu, Yuni dan Yuli sejak TK menjadi pengamen. Lama juga keduanya mengamen di jalanan, dari TK sampai kelas lima sekolah dasar. Selama ngamen bertahun-tahun, Yuli dan Yuni selalu bersama. Yuli yang menjadi penyanyi dan Yuni yang mengiringi dengan musik dari alat seadanya. Namun, sejak kelas dua SD, mereka ikut pembinaan oleh LSM Griya Baca. Di tempat inilah, mereka banyak mendapatkan anjuran untuk berhenti mengamen. ”Ketika itu, kami dibina untuk tidak ngamen lagi. Tapi kami masih ngamen karena butuh uang,” imbuh Yuli, gadis kelahiran 19 Juni 1997 ini. Saat di kelas lima, keduanya memutuskan untuk tidak ngamen lagi. Selain karena anjuran dari Griya Baca, mereka malu karena pernah diolok-olok teman satu sekolahnya. ”Kata temanku, masak sudah tua masih ngamen. Diolok-olok seperti itu, kami menangis. Sejak itulah, kami tidak ngamen lagi,” tambah Yuli, yang merupakan anak bungsu dari tujuh bersaudara. Karena berhenti ngamen, otomatis keduanya tidak mendapatkan uang. Mereka pun kembali kesulitan memenuhi uang saku buat sekolah. Di tengah kebingungan, keduanya mendapatkan info dari salah satu temannya bahwa Sanggar Tari Turonggo Langgeng Budoyo yang berada tidak jauh dari rumah mereka mengadakan seleksi penari. Yuni dan Yuli berhasrat ikut seleksi. ”Ketika itu, yang ikut seleksi sekitar 50 anak daerah sini. Syukur kami berdua diterima,” imbuhnya. Ternyata keduanya menyimpan bakat tari yang besar. Berkat keterampilannya itu, mereka mendapatkan banyak penghasilan karena sanggarnya sering diundang dalam acara pernikahan atau sunatan. Bahkan, Yuni dan Yuli sering tampil dalam acara di beberapa hotel berbintang. ”Kami pernah main di Hotel Regent,” ungkap Yuli. Dari berbagai penampilan itu, keduanya mendapatkan penghasilan. Lebih dari cukup untuk uang saku mereka sehari-hari. Pada 2010, keduanya pernah menjadi juara harapan satu tari Jawa se-Jawa Timur yang diadakan di MOG. Pada tahun yang sama, Yuli dan Yuni juara harapan dua tari jaran pegong yang diadakan di Hotel Aloha. Bagi keduanya, menekuni tari Jawa kini bukan hanya untuk menambah penghasilan, namun juga hobi. Menurut mereka, tari Jawa seperti remong dan jaran pegong sekarang sudah banyak tidak digemari, terutama anak remaja. ”Kalau tari Jawa itu kan jarang yang suka. Jadi, asyik saja berbeda dari yang lain,” ungkap Yuni. Aktivitas menari keduanya di Sanggar Turonggo Langgeng Budoyo akhir-akhir ini tidak seintens tahun 2010 dan 2011. Hal itu dikarenakan keduanya harus fokus menghadapi ujian nasional. Dalam pengumuman kelulusan SMP Sabtu kemarin, keduanya juga lulus. Walau nyambi menjadi penari, nilai UN mereka tidak terlalu buruk. Yuli mendapatkan 25,85 dan Yuni 24,20. Meskipun sekarang jarang latihan dan jarang mendapatkan undangan, Yuli dan Yuni akan tetap latihan menari, baik di Sanggar Turonggo Langgeng Budoyo maupun LSM Griya Baca. Apalagi, Griya Baca juga telah menyiapkan pelatih tari. Setelah lulus dari SMPN 21, kedunya akan melanjutkan studi di SMKN 3. Mereka masuk di sekolah tersebut berkat kerja sama LSM Griya Baca dengan Dinas Pendidikan Kota Malang. Yuli akan mengambil jurusan tata boga dan Yuni akan mengambil jurusan perhotelan. Tetapi, walau sekolah di SMK, keduanya mempunyai cita-cita yang sama: menjadi guru. Cita-cita itu didasari pengalaman bahwa masih banyak anak jalanan yang tidak bisa sekolah karena alasan biaya. ”Saya ingin jadi guru karena saya ingin membantu anak jalanan agar biar bisa belajar. Pendidikan sangat penting bagi mereka,” tutur Yuni. Meskipun kurang beruntung dan terbiasa hidup susah, mereka bersyukur masih bisa sekolah. Bagi mereka, menjadi anak jalanan tidak pernah diinginkan siapa pun. ”Pesan kami untuk anak jalanan, jangan pernah menyerah meskipun hidup di jalanan sangat keras. Jangan lupa sekolah karena pendidikan sangat penting bagi masa depan,” imbuh Yuni. (yn)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perlawanan Kampung Tempe Sanan Terhadap Kue Artis Teuku Wisnu, Krisdayanti, dan Kawan-Kawan

Mondok dan Islam Internet ala Jonru

Pelajaran Salat Taraweh untuk Menteri Muhadjir Effendy