Tidak Bawa Handphone, Pernah Dirampok di Australia


Sudah sejak Mei 2009, Maurizio Pasqui dan Shizoyu Inori meninggalkan Italia untuk kelling puluhan negara di dunia. Pasutri tersebut kemarin singgah di Malang sebelum menuju kota-kota lain di Indonesia. Bagaimana kisahnya? 

Irham Thoriq

Sepeda motor berpelat nomor Italia AF 8369 sedang parkir di halaman rumah Gembong Priyosetyadji, Jalan Bondowoso Dalam No 15 Kota Malang. Tampak kalau sepeda motor ber-cc 600 itu dipergunakan untuk perjalanan jauh. Soalnya, di depan kanan sepeda motor itu, ada jeriken lima liter yang berisi air. Di kiri ada jeriken yang ukurannya lebih kecil berisi oli sebagai persiapan kehabisan oli di tengah jalan.
Pemandangan lain bahwa sepeda motor ini untuk tunggangan perjalanan jauh adalah banyaknya perlengkapan yang dimuat di atasnya. Ada tenda, matras, baju, laptop, dan perlengkapan kecil lainnya. Di bagian belakang sepeda motor tersebut, terdapat stiker 23 negara. Itulah 23 negara yang sudah dikunjungi pasangan suami istri (pasutri) Maurizio Pasqui dan Shizoyu Inori.
Kemarin pasutri asal Italia tersebut singgah di Malang. Di kota ini, keduanya tinggal di rumah Gembong Priyosetyadji di Jalan Bondowoso Dalam 15. Pasutri itu mengenal Gembong dalam jambore all bikers se-Indonesia di Jember 19 Mei lalu. Gembong sendiri adalah ketua Asosiasi Honda Phantom Indonesia (AHPI) Kota Malang.   
Mauriz dan Shizo –begitulah panggilan pasutri itu– sudah tiga tahun atau sejak 18 Mei 2009 melakukan perjalanan ”gila” keliling 23 negara dengan menggunakan sepeda motor. Perjalanan mereka diawali dari Italia.
Meski tampak lelah karena habis sakit, Mauriz bersemangat menceritakan perjalanannya keliling 23 negara. Ke-23 negara yang telah dilewati  tersebut adalah Italia, Prancis, Spanyol, Swiss, Austria, Bosnia, Portugal, Kosovo, Serbia, Makedonia, Montenegro, Bulgaria, Belanda, Turki, Armenia, Georgia, Iran, Rusia, Korea Selatan, Jepang, Australia, Timur Leste, dan Indonesia.
Dan, Indonesia bukan negara terakhir dalam perjalanan keduanya. Mereka masih akan melanjutkan perjalanan ke beberapa negara Asia lainnya serta Eropa sekalian pulang ke Italia. Berapa negara lagi yang akan disinggahi, Mauriz dan Shizo belum punya target. ”Kalau ingin singgah, ya kami singgah,” ucap Mauriz. 
Awalnya, pasutri tersebut memang tidak punya cita-cita untuk berkeliling dunia dengan sepeda motor. Mauriz yang memang hobi backpacker hanya iseng mengajak istrinya untuk melakukan perjalanan ”gila” tersebut. Secara mengejutkan, Shizo mengiyakan ajakan Mauriz tersebut. ”Saya ajak istri saya. Dia mau. Terus kami berangkat,” ujanya dalam bahasa Inggris.
Mauriz dengan Shizo sebenarnya beda negara. Mauriz asal Italia dan Shizo dari Jepang. Pada 2006 lalu, keduanya bertemu dalam perjalanan backpacker. Saat itu Mauriz menempuh jalan kaki seribu kilometer dari Prancis ke Spanyol. Di tengah jalan, keduanya berkenalan. Tidak lama berselang, duda dan janda itu menikah. ”Karena saya suka jalan-jalan, bertemu istri pun di jalanan,” ungkap pria kelahiran 11 Juni 1962 tersebut, lantas tertawa.
Menurut Mauriz, dirinya leluasa melakukan perjalanan jauh karena tidak ada orang lagi di rumah. Anak perempuan satu-satunya yang bernama Maika dari istri pertamanya sudah bekerja di Mesir.
Bahkan, Mauriz memberikan semua perabotan rumahnya kepada panti asuhan. Dengan berderma, dia berharap perjalanannya selamat. ”Kami kasihkan semua perabotan rumah kecuali Vespa karena saya suka sekali Vespa itu,” tutur dia.
Keduanya berangkat dengan bekal USD 20 ribu. Namun, bekal tersebut sudah ludes ketika perjalanan baru sampai Swiss atau negara ke-12 yang disinggahi. ”Selama dua puluh hari kami kerja di Turki. Kerja apa saja asalkan dapat uang,” kata Mauriz.
Bukan hanya di Turki. Ketika sampai di Iran dan Australia pun, mereka harus bekerja untuk bekal uang telah habis. Di dua negara tersebut, Mauriz berkerja sebagai mekanik, sopir, dan kerja serabutan lainnya. ”Di Italia, saya dulu punya bengkel,” ujarnya.
Sedangkan Shizo juga bekerja sebagai pembuat suvenir di dua negara tersebut. ”Saya ikut kerja karena uang kami benar-benar habis,” ucap perempuan kelahiran Jepang 20 April 1967 itu.
Menariknya, meskipun mengelilingi berbagai negara, keduanya tidak membawa handphone dan kompas sebagai penunjuk arah. ”Modal kami hanya mulut untuk bertanya ke orang lain. Namun, kalau mereka tidak mengerti bahasa Inggris, kami berkomunikasi dengan bahasa tubuh,” imbuh Shizo.
Hal  itu misalnya dialami ketika hendak mdlakukan perjalanan ke Gunung Bromo. Ketika bertanya kepada salah seorang warga, orang itu tak bisa bahasa Inggris tapi paham yang dimaksud Mauriz. Makanya, warga tersebut langsung memberikan peta arah jalan ke Bromo. ”Ini petanya ketika saya dibuatkan salah seorang penduduk,” ujarnya sambil menunjukkan peta itu. 
Dalam perjalanan, keduanya juga membawa laptop dan dua kamera. Namun, satu kamera hilang di Australia karena dirampok orang. ”Kamera yang dirampok itu yang besar,” ungkap Mauriz.
Sedangkan laptop diperlukan keduanya untuk melakukan komunikasi dengan keluarga melalui media skype dan e-mail. Selain itu, mereka selalu menuliskan pengalaman dan mengunggah foto-foto dan video di website pribadinya, yakni www.andimoper.jimdo.com dan www.andimoper.blogspot.com.
Tulisan-tulisan dan foto itu sempat dijadikan buku oleh teman Mauriz di Italia. Yakni kisah perjalanan mulai Italia sampai Jepang. Buku berbahasa Italia dengan judul Due Rote Due Matti Una Tenda. Artinya Dua Roda, Dua Orang Gila, dan Satu Tenda. Jadi, tulisan-tulisan tentang perjalanan dari Italia ke Jepang dikirim via e-mail oleh Mauriz kepada temannya di Italia. Temannya itu yang kemudian menerbitkan dan menjual buku tersebut. ”Ternyata laris juga,” katanya bangga. ”Untuk perjalanan dari Jepang sampai Indonesia belum. Tunggu saja,” sambung pria murah senyum itu.
Buku tersebut banyak menggambarkan kisah mereka yang serimg tidur di tenda dalam perjalanan. Sangat jarang mereka tidur di hotel. ”Kalau tidak enak badan, baru tidur di hotel,” ucap Mauriz. 
Dari perjalanan menjelajahi negara-negara itu, keduanya banyak mempunyai kesan dan pelajaran hidup. Mauriz menceritakan, ketika di Korea Selatan, dia mendirikan tenda di dekat rumah warga yang sangat miskin dan hampir roboh. Namun, orang tersebut malah memberi mereka makan. ”Kami terharu karena orang miskin itu sangat pemurah,” tutur Shizo. 
Namun, tidak sepanjang perjalanan mereka menggunakan sepeda motor. Ketika melintasi lautan untuk menuju negara lain, mereka naik pesawat. Sedangkan sepeda motor dipaketkan melalui kargo.
Jumat lusa (8/6), mereka akan meninggalkan Kota Malang. keduanya bakal mengikuti Gembong dalam pertemuan Asosiasi Honda Phantom Indonesia di Kota Blitar. Setelah dari Blitar, keduanya melanjutkan perjalanan ke Jogjakarta. (yn) 
    

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perlawanan Kampung Tempe Sanan Terhadap Kue Artis Teuku Wisnu, Krisdayanti, dan Kawan-Kawan

Mondok dan Islam Internet ala Jonru

Pelajaran Salat Taraweh untuk Menteri Muhadjir Effendy