Kita Tidak Pernah Sendiri



Sebuah SMS menerobos masuk ke Handphone saya pada pagi hari 22 Desember lalu. Pesan singkat itu datang dari Endang Prahastuti,52, salah seorang dosen tata busana Universitas Negeri Malang (UM). Di hari itu, Jawa Pos Radar Malang memang memuat kisah inspiratif seorang ibu yang bisa membuat sukses anak-anaknya meskipun punya keterbatasan fisik
Dan, dari sekian Ibu yang dipilih oleh Radar Malang, Endang salah satu Ibu yang profilenya dimuat bertepatan dengan peringatan hari ibu itu. Endang dinilai berhasil mengantarkan sang anak Rhea Azalea Xenia,23, menjadi desainer profesional. Sejumlah karyanya sudah langganan dipakai para model papan atas negeri ini, padahal Rhea adalah seorang anak tuna rungu.
Dalam SMS itu, intinya Endang mengucapkan terima kasih telah dimuat di Radar Malang. Tidak lama setelah SMS itu masuk, saya ceroboh menghapus semua SMS di handphone. Seingat saya, kira-kira SMS itu berbunyi begini: Terima kasih mas telah dimuat, ternyata saya tidak sendiri. Salam kepada ibu yang anaknya mendapat medali perak di panahan...
Membaca SMS itu, saya yang baru saja bangun tidur terenyuh sekaligus terharu. Ini karena meskipun Endang mempunyai anak tuna rungu, Endang masih saja bisa bersyukur. Wujud syukurnya dia lambangkan kalau didunia ini, dia tidak sendiri membesarkan anak yang tuna rungu. Ada lagi ibu dari Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang yang membesarkan anaknya tuna rungu, dan bisa berprestasi di Olahraga panahan. Untuk itu, Endang menyampaikan salam kepada ibu yang dikaruniai anak senasib dengan dirinya.
Memang, didunia ini kita sejatinya tidak pernah sendiri. Dari kisah Endang yang menurut saya ibu luar biasa itu, sebesar apapun masalah kita, senaif apapun cobaan yang dititipkan tuhan pada kita, masih ada orang yang senasib sama dengan kita, atau bahkan melebihi.
Menulis catatan singkat ini, saya tiba-tiba teringat kutipan dari salah seorang pemeran Film 99 Cahaya Dilangit Eropa yang baru saya saya tonton. Kira-kira kutipannya begini: "Ditengah masalah yang besar, masih ada tuhan kita yang jauh lebih besar," kata pemeran tadi menasehati pemeran lainnya.
Seratus persen saya setuju dengan kutipan ini, jika masalah kita dianggap besar, jika kita tidak menemukan orang yang senasib dengan kita sebagaimana Endang, minimal kita masih punya tuhan. Yang jauh lebih besar dari masalah-masalah dan tak mungkin meninggalkan kita, senaif dan sedosa apapun kita pada tuhan.
Inilah hidup, terkadang kita merasa sunyi dikeramaian, terkadang kita menyalahkan tuhan yang memberi banyak masalah. Tapi, kita sering lupa kalau banyak pelari juara dunia justru mereka yang tidak pernah punya kaki, banyak para tuna netra yang justru mempunyai mata batin yang bisa menyinari orang-orang sekitarnya, mengalahkan orang-orang yang punya mata normal. Dari orang-orang itu, kita seharusnya sadar, bahwa kata syukur tak cukup dalam untaian kata, tapi harus jadi laku dalam hidup dan kehidupan. Toh, sejatinya kita tidak pernah sendiri. Sama sekali tidak pernah....


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perlawanan Kampung Tempe Sanan Terhadap Kue Artis Teuku Wisnu, Krisdayanti, dan Kawan-Kawan

Mondok dan Islam Internet ala Jonru

Pelajaran Salat Taraweh untuk Menteri Muhadjir Effendy