Makna Hidup


Hidup memang serba tak pasti, ditengah masyarakat urban yang berbondong-bondong menumpuk materi, masih ada orang yang hatinya merasa nyaman saat mereka dekat dengan tuhan, karena memang itu kata hati mereka. Tidak materi, bukan pula jabatan.
Ini pulalah yang dialami oleh Romo Krispinus Ginting,47, salah seorang pastor yang bertugas di biara karmel, Kota Batu. Krispinus, meskipun dia berbeda agama dengan saya, tapi saya mendapat pencerahan darinya saat mewawancarai dia untuk edisi natal Jawa Pos Radar Malang.
Pria berkacamata ini menceritakan perihal kata hatinya yang seketika mengubah jalan hidup Krispinus. Sewaktu kecil, mimpi Krispinus bukanlah menjadi romo, Krispinus bercita-cita menjadi insiyur dan bekerja diperusahaan swasta yang menjanjikan tumpukan materi.
Untuk itu, Krispinus kuliah di jurusan peternakan Institute Pertanian Bogor (IPB). Setelah lulus dikampus terkemuka itu pada 1997, Krispinus bekerja diperusahaan peternakan bonafit di Bogor, pundi-pundi rupiahpun dia dapat dengan mudahnya.
Namun, setelah bertahun-tahun bekerja, Krispinus merasa ada yang kurang dalam hatinya. Rupiah yang dia dapat tidak cukup membuat Krispinus tenang."Ketika itu saya sadar kalau jalan hidup saya bukan ini," katanya sambil sesekali menerawang.
Semenjak itulah, hati Krispinus bergejolak, seolah burung kafka yang hidup ditengah gurun nan gersang, Krispinus tiba-tiba menemukan sumber mata air dengan menjadi pastor. Memang, pastor tidak boleh menikah, tidak dibayar banyak, tapi Krispinus merasa lebih tenang menjadi pelayan tuhan. Hidup Krispinuspun berubah, mengikuti kata hatinya.
Inilah yang dalam ilmu Psikologi disebut dengan makna hidup. Sebagian orang boleh senang karena punya banyak uang dan jabatan. Tapi juga tidak salah jika orang merasa lebih tenang tanpa keduanya. Atas pilihan mereka, kita tidak boleh saling menyalahkan.
Melanjutkan tulisan ini, tiba-tiba teringat dengan perjuangan para guru saya ketika sekolah di MA Raudlatul Ulum Gondanglegi. Karena swasta, para guru-guru itu menurut saya ikhlas bukan main, ini karena gaji mereka selama satu bulan tidak lebih dari harga sewa kos-kosan satu bulan di Kota-kota besar.
Menghadapi keadaan itu, guru-guru saya masih saja bisa bersyukur, bahkan, kita muridnya, tak pernah sekalipun mendengarkan keluhan mereka. Dalam mengajar, semangat beliau tak kalah dengan guru negeri yang gajinya jutaan dan mendapat tunjangan sertifikasi pula.
Lagi-lagi, inilah makna hidup, orang bisa totalitas bekerja meskipun gajinya sedikit, tapi tidak jarang orang selalu mengeluh meskipun gajinya besar. Tentang kisah-kisah itulah, semoga kita tak lagi sempit memaknai kebahagiaan. Toh, kebahagiaan tak selalu bersumber dari materi, tapi nenangtiasa muncul dari kata hati....

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perlawanan Kampung Tempe Sanan Terhadap Kue Artis Teuku Wisnu, Krisdayanti, dan Kawan-Kawan

Mondok dan Islam Internet ala Jonru

Pelajaran Salat Taraweh untuk Menteri Muhadjir Effendy