Perak, RD dan Sepak Bola Kita



Untuk melupakan kegagalan, waktu dua tahun tampaknya terlalu singkat. Belum sepenuhnya hilang dari ingatan saat timnas Sea Games kita ditekuk Malaysia pada partai Final 2011 silam di Senayan melalui drama adu penalti. Sabtu (21/12/2013) Kita kembali dihadapkan dengan situasi yang sama: kalah pada partai final di ajang sama, kali ini Thailand yang menjadi mimpi buruk kita.
Ada sejumlah kesamaan antara Sea Games tahun ini dengan dua tahun silam. Selain sama-sama mendapat perak, timnas kita dalam dua edisi Sea Games sama-sama dilatih oleh Rahmad Dharmawan (RD). Tentu, kesimpulan yang menyatakan RD kurang cocok melatih timnas lantaran selalu gagal tidak sepenuhnya benar dan terlalu naif, menurut saya, dengan dua perak itu, RD sudah cukup menunjukan kelasnya.
Membahas RD, Tiba-tiba teringat kejadian beberapa hari setelah timnas gagal meraih emas di Sea Games 2011 lalu. Dengan mengejutkan, RD ketika itu mundur menjadi pelatih timnas. Gagal meraih emas satu-satunya alasan RD mundur."Saya harus mempertanggungjawabkan kegagalan ini," kata RD waktu itu kepada wartawan.
Entah bagaimana ceritanya, belakangan RD kembali bersedia menangani Timnas Sea Games 2013. Saya yang sempat mengenal dan bergaul dengan RD saat masih di Arema Cronus, berkeyakinan kesanggupan RD melatih Timnas bukan hanya semata-mata karena materi, tebakan saya, RD terpaksa menerima pinangan PSSI karena motivasi untuk menebus kegagalan dua tahun silam. Kalaupun akhirnya gagal, minimal RD sudah pernah mencobanya.
Kita tidak tahu kedepannya bagaimana, apakah RD akan kembali mundur atau tetap di menjadi pelatih Timnas U-23, apakah RD akan kembali menukangi Timnas U-23 pada Sea Games 2015 mendatang, kita tidak sepenuhnya tahu. Mungkin, hanya tuhan yang mengetahui, saya tidak yakin pengurus PSSI sudah berfikir sejauh itu saat ini.
Jika kita renungkan, kegagalan timnas kita dalam dua edisi Sea Games bukanlah sebuah kebetulan. Sepak bola sejatinya tidak hanya tentang 90 menit pertandingan saat kita kalah dengan Thailand, lebih dari itu, sepak bola sebenarnya tentang cara berfikir para pengurusnya. Saat ini, Para pengurus PSSI tampaknya memang lebih gemar berfikir pendek dengan menumbuhkan konflik antara blok ini dan blok itu, dari pada berfikir jangka panjang membentuk timnas yang kuat.
Tengok saja hiruk pikuk sepak bola dinegeri kita, selain kompetisi yang sempat terbelah, pemain asing yang meninggal dunia karena tak bisa berobat lantaran tak dibayar klubnya, sampai sistem sepak bola kita yang sama sekali tidak mengarah pada pembinaan pemain muda.
Simpel saja, dari 20 pemain Timnas Sea Games, mungkin tidak ada separuhnya yang menjadi pemain inti di klub mereka. Yandi Shofwan Munawar misal, striker utama Sea Games ini adalah pemain cadangan kesekian ditimnya Arema Cronus, kalah dengan pemain Naturalisasi semacam Gonzales dan pemain asing Beto Goncalves.
Dari contoh itu, dengan kouta pemain asing yakni lima pemain asing setiap klub. Bisa dilihat kalau PSSI kita sama sekali tak berfikir jangka panjang, dampaknya tentu besar, pemain muda kita tak berkembang dibawah bayang-bayang pemain asing.
Sebenarnya untuk mengekplorasi kualitas para pemain muda tidaklah terlalu sulit, semisal kurangi kouta pemain asing dan wajibkan klub untuk banyak memainkan pemain muda dalam kompetisi resmi. Untuk itu, PSSI harus punya regulasi, contoh, PSSI harus punya batasan menit minimal pemain muda dimainkan dalam setiap pertandingan. Jika klub tak mengindahkan, PSSI bisa memberi sanksi. Dengan jam terbang yang ditambah, bukan tak mungkin para pemain kita lebih berkembang, tidak terlambat puber (meminjam istilah anak muda) seperti sekarang.
Tapi bagaimanapun, seberapa kali timnas mendapat perak, sesering apapun RD gagal mengantarkan timnas juara, seruwet apapun kompetisi kita. Sepak bola kita harus tetap dicinta. Kita harus bermimpi untuk mempunyai timnas yang hebat, sehebat Timnas U-19 saat mengalahkan Korea selatan dan menjadi juara AFF. Memang hanya dengan mimpi kita bisa berharap. Namun, jangan sampai kita hanya menjadi pemimpi tanpa pernah tidur untuk mewujudkan mimpi-mimpi itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perlawanan Kampung Tempe Sanan Terhadap Kue Artis Teuku Wisnu, Krisdayanti, dan Kawan-Kawan

Mondok dan Islam Internet ala Jonru

Pelajaran Salat Taraweh untuk Menteri Muhadjir Effendy