Pusing.....



Pagi itu, diakhir Maret 2012,hari pertama saya bekerja sebagai wartawan. Setelah mengikuti serangkaian tes dan wawancara, saya dan lima pelamar lainnya diterima menjadi wartawan Jawa Pos Radar Malang.
Ketika itu, matahari masih tampak malas terbit. Jika biasanya jam segitu saya masih bermalas-malasan dikamar kos. Saat itu, dengan semangat bercampur dredeg memancal sepeda motor untuk hunting berita. pertama kali yang saya liput adalah latihan tim basket profesional Bimasakti.
Tentu saja, yang sebelumnya tidak pernah tahu menahu soal basket, membuat kepala saya pening. Mau tanya apa kepelatih, saya takut salah ngomong dan ditertawakan, kekhawatiran-kekhawatiran inilah yang berada dibenak saya.
Dengan semangat besar, ke khawatiran itu saya buang. Saya harus berani, sebelum wawancara, saya perkenalkan kalau saya wartawan baru, selain itu saya tidak pernah tahu tentang basket, bahkan kalau ada tim Bimasakti di Malang saya baru saja tahu ketika ditugasi redaktur.
Saya menyatakan itu bukan tanpa alasan, nantinya jika saya salah agar si pelatih memaklumi. Tidak menyalahkan saya apalagi marah-marah. Wawancarapun sukses, meskipun saya tidak sepenuhnya mengerti apa inti yang dibicarakan si pelatih tadi hehehe....
Esok harinya, saya senang banget, hasil wawancara dan tulisan saya muncul di pojok rubrik olahraga koran radar malang. Meskipun kecil dan diedit total sama redaktur, saya senang karena tercantum CW-5 (Calon wartawan 5), inisial saya ketika itu. 
Memang, untuk bisa menjadi apapun, terkadang kita harus melaluinya dengan kepusingan. Saat pertama kali ditempatkan di pos olahraga, saya pusing, karena hanya olahraga sepak bola yang saya pahami, saya juga pusing karena sehari harus dapat empat berita. Jumlah yang banyak bagi wartawan anyar.
Sekitar sembilan bulan kemudian, setelah sudah enak jadi wartawan olahraga karena banyak kenalan dan sudah mudah mencari berita. Tiba-tiba saya dipaksa untuk pusing lagi, ini karena ketika itu saya dipindah di pos floating.
Ya pos ini memang yang paling aneh ditempat kerja saya, karena hanya satu wartawan saja yang ditempati dipos itu. Disebut floating karena posnya tidak menentu, kadang hari ini di pendidikan, besoknya dihukum, dan lusanya dipemerintahan; pokoknya campur aduk.
Tidak pastinya pos ini karena saya kebagian menggantikan wartawan yang libur, makanya, saban hari saya selalu pindah pos, mengikuti wartawan mana yang libur di hari itu. Tentu saja saya pusing, karena selalu meliput ditempat berbeda dan harus mencari isu yang berbeda pula saban hari.
Sudah hampir sembilan bulan ini saya ditempatkan floating, sampai saat ini saya masih pusing. Pusing jika tidak ada berita, pusing mencari isu, dan pusing mengumpulkan empat berita bahkan lebih setiap hari. Tapi kepusingan itu harus dinikmati dan harus dijalani.
Mungkin, berawal dari kepusingan ini kita bisa belajar, jangan sampai kita tidak bisa apa-apa karena kita selalu menghindar dari kepusingan. Toh, hidup adalah proses untuk terus belajar, belajar, dan belajar....

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perlawanan Kampung Tempe Sanan Terhadap Kue Artis Teuku Wisnu, Krisdayanti, dan Kawan-Kawan

Mondok dan Islam Internet ala Jonru

Pelajaran Salat Taraweh untuk Menteri Muhadjir Effendy