Celaka…


Kamis (16/1) sore lalu, senja mulai menyapa lalu lalang para pengendara di Kota Malang. Mereka ada yang sudah pulang kerja, ada juga yang baru berangkat ke kantor. Saya termasuk golongan kedua, yakni berangkat ke kantor di senja yang mulai menyapa itu.
Karena baru dari Gondanglegi, Kabupaten Malang untuk menghadiri peringatan seribu hari meninggal nenek, ketika itu saya lumayan ngebut. Meskipun jalanan macet, saya tetap ngebut untuk sampai kantor tepat waktu, kalaupun harus terlambat, telatnya tidak lama-lama.
Setelah melintas Pasar Gadang, kecelakaan ringan menimpa saya. Saat hendak menyelip sepeda motor, tiba-tiba, sepeda motor tersebut belok kanan. Saya yang ada persis dibelakangnya, tidak kuasa untuk menghindar meskipun sudah mengerem. Sayapun menabrak motor tadi dan kitapun jatuh bersama-sama.  
Akibatnya, betis kanan dan kedua tangan kiri saya lecet-lecet. Entah karena apa, meskipun waktu itu sepeda saya melaju tidak terlalu kencang karena sepeda motor sudah saya rem, tapi jaket yang saya kenakan robek-robek. Sayapun, masuk kantor dengan terpincang-pincang.
Dari kejadian tersebut, saya semakin sadar kalau profesi wartawan yang hidupnya dijalanan harus memiliki kesabaran ekstra. Selain mewajibkan sabar saat sulit berita, kita harus sabar saat mengalami kecelakaan seperti yang baru saja saya alami itu. Karena hidup dijalanan, jika apes, kecelakaan bisa datang kapan dan dimana saja.
Hanya saja, meskipun mengalami kecelakaan itu, saya sebisa mungkin untuk tetap bersyukur ditengah gerutu-gerutuan yang muncul dari hati kecil. Saya masih bersyukur karena disaat saya terjatuh, tidak ada Truck, Bus ataupun mobil persis dibelakang saya. Jika ada, saya tidak tahu apa yang bakalan terjadi. Mungkin sudah tidak ada lagi saya saban sore ke kantor, sekalipun dengan kaki terpincang-pincang.
Hal lain, saya memaklumi kecelakaan tersebut karena bisa jadi kejadian itu murni dari kesalahan saya. Meskipun, saat hendak menyelip sepeda motor yang saya tabrak, saya tidak melihat rampu reting menyala. Saya baru lihat setelah selesai tabrakan, ketika kita sudah bangun dari terjatuh. Entah reting itu baru dinyalakan atau memang sudah nyala sebelum tabrakan, saya tidak tahu.
Lebih baik, agar tidak negatif thinking, saya anggap kecelakaan itu murni atas kesalahan saya yang menyelip tanpa melihat rampu reting pengendara didepan saya. Mungkin, berpikir positif jauh lebih baik daripada selalu menyalahkan orang lain saat kita apes atau saat kita melakukan kenaifan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perlawanan Kampung Tempe Sanan Terhadap Kue Artis Teuku Wisnu, Krisdayanti, dan Kawan-Kawan

Mondok dan Islam Internet ala Jonru

Pelajaran Salat Taraweh untuk Menteri Muhadjir Effendy