Kaos

Acap kali saya melihat kaos hijau dengan gambar kepala manusia berambut gondrong, serta ada udeng yang melilit di kepalanya. Ingatan saya langsung tertuju pada Bonek, julukan suporter Persebaya Surabaya.
Di Malang, hampir tidak mungkin kita melihat orang dengan santainya memakai kaos bonek dijalanan. Meskipun ada, mungkin jumlahnya bisa dihitung dengan jari dan dipakai tidak ditempat umum. Maklum, malang dengan Arema tim kebangaanya adalah seteru Persebaya.
Perseteruan dua klub sepak bola ini tidak hanya terjadi dilapangan hijau. Diluar lapangan, hal remeh temehpun bisa menyulut emosi jika berkaitan dua suporter itu. Tak terkecuali saat kita pakai kaos bonek di malang, maupun memakai kaos Aremania di Surabaya, satu keajaiban jika kita tak babak belur.
Saya bilang kaos adalah hal remeh temeh yang seharusnya tak jadi biang konflik serta tidak diseret-serat dalam seteru. Bagi sebagian orang, termasuk saya, kaos hanyalah pakaian privat yang tak ada kaitannya dengan loyalitas, keberpihakan bahkan keyakinan.
Bisa saja, saya pakai kaos Bonek karena memang saya suka warna hijau, tidak ada kaos lagi untuk dipakai. Sama sekali tidak menggambarkan kalau saya pendukung Persebaya, apalagi jika kaos yang saya pakai itu adalah pemberian teman bertahun-tahun silam.
Begitu juga dengan kebiasaan saya memakai kaos hitam (hampir sebagian besar kaos saya warna hitam), saat belaja
r psikologi di kampus. konon, orang yang berpakaian baju hitam suasana hatinya sedang murung dan tak bahagia. Tapi itu konon, yang kebenarannya tidak bisa di yakini begitu saja.
Saya sengaja memakai diksi konon karena bagi saya tesis itu masih bisa diperdebatkan. Saya misalnya, memilih memakai kaos hitam karena badan saya yang tambun, dengan pakaian hitam, ketambunan saya jadi sedikit tak mencolok, meskipun tak sepenuhnya hilang; bukan karena saya lagi tak bahagia.
Ya itulah kaos yang sejatinya adalah murni pakaian privat. Terlalu berlebihan jika karena kaos kita bermusuh dan saling hantam. Kaos bagi saya tak ubahnya identitas yang melambangkan kebebasan, dengan memakai kaos di suatu hari yang tenang, kita seolah sedang memperjuangkan kebebasan kita. berbeda jauh jika memakai hem dan jas.
Namun, kaos yang seharusnya menyebarkan energi membebaskan itu kini benar-benar jadi penanda kubu-kubuan dan konflik. Selain Arema dan Persebaya, di Thailand yang saat ini sedang krisis politik, terdapat dua golongan besar yang ditandai dengan kaos kuning dan kaos merah.
Kaos kuning adalah simpatisan partai demokrat, partai oposisi yang saat ini sedang gencar-gencarnya berdemontrasi ingin menjatuhkan perdana menteri Yingluck Shinawatra, pemimpin yang diusung partai Thak Pak Rhai dengan penanda utamanya kaos merah.
Di negeri gajah putih itu, dua kubu tersebut justru lebih dikenal karena warna kaos mereka. Bukan karena partai atau keyakinannya. Entah bagaimana ceritanya, di Thailand, warna kaos sudah jadi penanda perpecahan. Tidak seperti di Indonesia, konflik yang pecah di 1965 dan 1998 tak pernah terlambangkan dengan warna kaos.
Apapun alasannya, saya lebih setuju kalau kaos jadi sumber kemerdekaan yang bermuara pada kesederhanaan. Sesederhana menulis catatan ini tanpa memakai kaos, sudahlah, pendapat anda tentang kaos, kali ini saya mau pakai kaos hitam lalu tidur...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perlawanan Kampung Tempe Sanan Terhadap Kue Artis Teuku Wisnu, Krisdayanti, dan Kawan-Kawan

Mondok dan Islam Internet ala Jonru

Pelajaran Salat Taraweh untuk Menteri Muhadjir Effendy