Menunaikan Keinginan....

Jika hidup adalah pulung, mencoba peruntungan merupakan sebuah keniscayaan. Inilah yang baru saya lakukan, mencoba ikut tes jadi wartawan Tempo, yang katanya selalu enak dibaca dan perlu.
Menjadi wartawan Tempo adalah keinginan saya dalam beberapa tahun terakhir, tepatnya ketika saya sudah jadi wartawan Jawa Pos Radar Malang. Saya sebut keinginan agar tak terlalu berlebihan untuk menyebut kata mimpi, misalnya.
Ketika panggilan mengikuti tes hadir, sontak saja membuat saya senang; selangkah lagi keinginan saya terwujud. Bersamaan itu juga, kegalauan menyelimuti.
Ya, beberapa hari sebelum tes, memang menjadi hari yang sulit buat saya. Lantaran, saya harus ikut tes Tempo tapi saya masih jadi wartawan di Radar Malang. Bagaimana izinnya..?, apakah etis ikut tes media lain dan saya izin untuk itu..?.
Kegalauan-kegaluan itu tentu saja membuat gelisah, belum lagi ditambah kegaluan harus meninggalkan tunangan saya; Sakinatun Najwa. lantas saya curhat keteman dekat saya. Ada yang udah resign dari Radar Malang, ada juga teman semasa kuliah, sesama wartawan, redaktur dikoran ini, tentu saja kepada Najwa.
Dibeberapa curhatan itu, saya sempat melontarkan untuk resign. Bukan karena apa-apa, ikut tes di Tempo bagi saya wajib hukumnya. Namun, seorang wartawan menyatakan tidaklah etis izin cuti ikut tes ke media lain."Seperti kamu punya pacar, tapi kencan dengan orang lain," katanya menasehati.
Dengan pertimbangan mantan redaktur, solusi paling tepat saya harus izin cuti untuk keperluan keluarga. Berbohong memang, tapi menurutnya langkah yang tepat, tanpa harus meninggalkan Radar Malang terlebih dahulu.
Atas solusi itu sebenarnya saya sempat was-was. Untuk mengambil cuti di Radar Malang bukanlah hal yang mudah. Harus jelas izinnya, apalagi saat ini Radar Malang sedang kekurangan penggawa Redaksi. Untungnya, Izin melalui SMS yang saya layangkan diterima. Sengaja izin dari SMS agar mimik wajahku tidak terlihat kalau sedang berbohong.
Jadilah saya menjadi peserta tes calon reporter Tempo, karena hanya izin tiga hari, dengan berat kantong saya harus naik pesawat ke Jakarta. Inilah mungkin yang dinamakan pengorbanan, rela habis-habisan untuk sebuah hal yang tak pasti.
Nah, ditempat tes, saya jadi sadar bahwa masih banyak orang yang ingin jadi wartawan. Gedung Yustinus Universitas Atmajaya yang luasnya sekitar separuh lapangan sepak bola, dipenuhi orang yang adu peruntungan menjadi wartawan Tempo, sekitar 450 orang yang ikut tes tahap pertama waktu itu.
Kendati keinginan besar saya diterima, namun takdir tuhan berkata lain; dites pertama psikotes, saya dan 150 peserta lainnya tersisih. Dengan langkah gontai, saya meninggalkan kampus Atmajaya.
Tapi, dari proses inilah saya bisa bercermin. Saya jadi sadar kalau masih banyak orang yang ingin jadi wartawan, mungkin rezeki saya saat ini bukanlah di Tempo tapi di Radar Malang dan saya jadi tahu bagaimana rasanya gagal tes masuk kerja.
Atas semua itu, tak ada yang perlu dikecewakan. Kata orang, dengan kegagalan, semuanya belumlah berakhir tapi baru dimulai. Di manapun, asalkan mau, semua orang bisa jadi hebat tak melulu ditempat yang kita dambakan.
Karena gagal, sayapun kembali ke Malang dengan kereta. Disebuah malam nan ramai di Matarmaja, catatan ini ditulis dengan kesederhanaan. Pada akhirnya, keinginanpun sudah ditunaikan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perlawanan Kampung Tempe Sanan Terhadap Kue Artis Teuku Wisnu, Krisdayanti, dan Kawan-Kawan

Mondok dan Islam Internet ala Jonru

Pelajaran Salat Taraweh untuk Menteri Muhadjir Effendy