Desa dan Nol Kilometer Perdamaian

Dari Desa, kedamaian itu kerapkali datang. Ditengah keculasan perkotaan, desa menawarkan ketentraman, jauh dari kebisingan yang bisa mengkerutkan kening. Oleh karenannya, setiap kali lebaran dan liburan, desa selalu menjadi tempat singgah yang nyaman.
Tidak hanya nyaman, masyarakatnya yang guyub, desa bisa menjadi prototipe perdamaian. Kesimpulan dangkal ini setidaknya saya dapat dari liputan khusus di 12 desa di Kabupaten Malang pada bulan Ramadan lalu. Di 12 desa tersebut, kita ingin merekam perdamaian saat Ramadan di Desa yang umat muslimnya bukan mayoritas.
Dari 12 desa ini, lantas kita tulis menjadi 29 tulisan yang terbit selama Ramadan penuh di Radar Malang. Dari desa-desa yang kami kunjungi, ada berbagai macam karakter dan ciri khasnya masing-masing sesuai dengan ajaran yang dianut mayoritas warga setempat.
Di Desa Ngadas, Poncokusmo, aroma agama Budha sangat kuat terasa. Sedangkan aroma Hindu sangat terasa di Desa Sukodadi, Kacamatan  wagir dan Desa Karengtengah, Kecamatan Pakisaji. Dan karateristik Nasrani begitu kental di Desa Peniwen, Kecamatan Kromengan; Desa Suwaru, Kecamatan Pagelaran; Desa Sitiarjo dan Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjingwetan; Desa Pujiharjo dan Purwodadi, Kecamatan Tirtoyudo.
Ketika saya ditugasi liputan tersebut, awalnya saya was-was. Ini karena, liputan model ini merupakan pertama kali saya lakukan, dan oleh Radar Malang pada umumnya. Rasa was-was ini karena saya khawatir tidak dapat menemukan hal yang menarik dari 12 desa tersebut. Apalagi, jumlah desa yang banyak berpotensi memunculkan fenomena yang sama dan klise disetiap desa.
Tapi, keraguan tersebut langsung hilang saat kami terjun langsung ke desa-desa. Kami ikut merasakan pluralisme itu benar-benar dilakukan oleh masyarakat desa, tidak hanya diwacanakan apalagi diperdebatkan. Oleh karenannya, bergaul dengan masyarakat desa yang homogen itu, saya seolah berada di “nol kilometer perdamaian”, kita menyatu dengan masyarakat yang damai, tanpa ada jarak dan sekat yang dipertentangkan.
Banyak hal menarik yang didapatkan tim Jelajah Ramadan selama menjelajahi 12 desa. Di tempat pertama yang kami kunjungi, kami mendapati fakta bahwa umat Budha dan Hindu di Ngadas sangat menghormati Ramadan. Bahkan, saking tingginya penghormatan mereka terhadap umat Islam, mereka mempunyai aturan tidak tertulis bahwa selama Ramadan dilarang menggelar hajatan.
Mulai dari hajatan pernikahan, sunatan, atau hajatan lainnya. Sebab, jika menggelar hajatan, maka mereka akan makan-makan. Dan bila makan-makan di siang hari, maka hal tersebut merupakan pertanda bahwa mereka tak menghormati umat Islam.
Tidak hanya itu, dari banyak keluarga, ada keluarga yang keyakinannya beraneka ragam. Salah satu contohnya adalah keluarga Mugiarto, kepala desa Ngadas. Kedua orang tua Mugiarto beragama Hindu, sedangkan Mugiarto memilih agama islam.  Fenomena seperti ini Tidak sulit kita temukan di lereng Gunung Bromo ini. Mayoritas, beraneka macam agama yang ada dalam satu keluarga tersebut disebabkan perkawinan, dan menariknya, tidak pernah ada pertentangan akibat beda agama tersebut. Para keluarga tersebut seolah menjadi miniatur Indonesia sebagai negara plural.
Di desa kedua yang kami kunjungi, di Desa Sukodadi, Kecamatan Wagir, kami mengunjungi dusun Genggong. Di dusun ini, dari 105 kepala keluarga (KK) di Genggong, hanya ada sebelas KK yang beragama Islam. Sedikitnya penduduk yang muslim, membuat dusun ini tidak ada musala. Sehingga untuk salat jamaah dan tarawih, muslim di Genggong harus ke dusun sebelah, yakni ke  Dusun Genderan dan Dusun Petung Papat. Jaraknya sekitar dua kilometer.
Tidak kalah menariknya di Desa Peniwen, Kromengan. Saat kami sampai di desa ini, suasana Ramadan sama sekali tidak terasa. Ini karena waktu itu di Peniwen sedang ada selametan desa yang isinya aneka macam hiburan dan makan-makan.
Maklum saja, karena di desa ini dari sekitar lima ribu penduduknya, yang muslim hanya sebelas orang. Di tengah-tengah perkampungan itu, ada panti asuhan muslim bernama Ar Rahman. Di panti asuhan tersebut terdapat masjid. Di tempat itulah, muslim Peniwen melakukan ibadah selama Ramadan. Umat kristiani tidak pernah menggangu meskipun Masjid berdiri ditengah perkampungan kristiani.
Jika desa sebelumnya kekurangan rumah ibadah, di Desa Pujiharjo malah berbeda. Di desa ini mayoritas penduduknya adalah kristiani, jumlah tempat ibadah umat Islam malah lebih banyak dari gereja. Di Pujiharjo, gereja hanya ada lima, sedangkan jumlah musala ada enam dan ada dua masjid. ”Karena rukunnya warga di sini, umat kristiani tidak pernah mempermasalahkan banyaknya rumah ibadah umat Islam,” kata Sri Kuncoro, sekretaris Desa Pujiharjo.
Di Desa Arjowilangun, Kecamatan Kalipare, ada sebuah masjid dan gereja yang jaraknya hanya sekitar 20 meter. Jika dilihat dari kejauhan, rumah ibadah ini seolah-olah berhadapan. Oleh karenanya, saat bulan Ramadan, ketika umat kristiani melantunkan puji-pujian saat umat islam taraweh, umat kristen memilih melirihkan sound sistemnya. Di desa ini, ada sejumlah umat kristiani yang merawat babi, tetangganya yang umat islam tidak pernah mempermasalahkan.
Saat kami menelusuri Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjingwetan, kami melihat ada sebuah tempat ibadah yang mengenaskan. Desa ini kekurangan imam tarawih. Akibatnya, musala di Tambakrejo tersebut sama sekali tak digunakan selama Ramadan.
Dari berbagai fenomena tersebut kita layak bercermin. Bahwa pluralisme seharusnya tidak hanya diwacanakan. Makna dari nol kilometer bisa kita tafsiri kalau selayaknya, perdamaian harus berawal dari dalam diri kita sendiri, dari hati kita yang jaraknya nol kilometer.
Para orang desa itu, membuktikan kalau mereka sudah bisa melawan diri mereka sendiri untuk tetap berdamai ditengah perbedaan. Klise kita dengar kalau peperangan paling sulit adalah melawan diri sendiri, jika kita berhasil, setidaknya keculasan mengatasnamakan agama tidak lagi kita dengar. Dari orang-orang desa itu, kita layak bercermin.
  


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perlawanan Kampung Tempe Sanan Terhadap Kue Artis Teuku Wisnu, Krisdayanti, dan Kawan-Kawan

Mondok dan Islam Internet ala Jonru

Pelajaran Salat Taraweh untuk Menteri Muhadjir Effendy