Menjadi Bahagia



Smartphone sudah mengambil banyak hal dari kita. Percakapan suami-istri menjadi
sumber ilustrasi foto: www.bangbiw.com
kurang intim karena terlalu banyak waktu yang terbuang hanya untuk mengamati media sosial. Anak-anak kekurangan perhatian, ayah dan ibu membuat jarak dengan mereka. Dan pertemuanpun kerap kali menjadi beku.
Lantas untuk apa ada pertemuan, jika kita hanya menunduk saat menemui yang jauh. Kita berjuang menembus macet dan panas hanya untuk bertemu. Saat bertemu, kita masih tetap berteman dengan smartphone yang sudah kita bawa dari rumah atau bahkan menjadi teman tidur setiap malam.
Zaman dahulu kala, ketika penerangan hanya dari lampu teplok, kita mengutuk kegelapan. Kita ingin seperti Eropa, yang canggih dan gemerlap itu. Entah apa yang membuat kita begitu kebablasan, saat sekarang kehidupan sudah begitu canggihnya, melihat yang jauh hanya dengan sekali sentuh, desa-desa sudah banyak Internet, kita justru mengalami autisme berjama’ah.
Mungkin itulah yang tepat menamai dunia penuh hiruk pikuk ini. Jika para psikolog menyimpulkan ciri-ciri penyakit autis adalah terganggunya hubungan sosial. Dengan smartphone yang canggih itu, bukannya kita sudah mengalami autis berjama’ah. Ah, semoga istilah ini terlalu berlebihan.
Dan kitapun ingin menularkan autisme berjamaah ini kepada anak-anak kita. Saat anak-anak belum berumur belasan tahun, kita sudah terburu-buru membuatkan akun media sosial. Padahal, mereka sedang asyik-asyiknya bermain dengan teman sejawat. Menyusuri sungai, bermain lumpur atau memburu burung-burung di pojokan kampung.
Keceriaan anak-anak itu sudah menghilang. Diganti kerutan dahi berjam-jam melihat smartphone. Mereka tidak gagap dengan kecanggihannya, tapi justru hanyut sehingga menjauhkan dari teman sejawat atau bahkan teman sebanggku di Kelas.
Apakah kita bahagia dan patut bersyukur atas semua ini, saya kira tidak. Bagaimana mau bahagia kalau kita sudah dijauhkan dari yang dekat. Mungkin kita bisa mengetahui banyak hal tentang yang jauh dari media online di smartphone, tapi apa yang terjadi disekitar kita kerapkali luput dari perhatian. Kita gaduh, benar-benar gaduh.
Pengaruh yang saya tuliskan diatas itu benar-benar saya rasakan belakangan. Bagi saya yang kurang bisa membagi fokus untuk dua hal, saat memainkan smartphone, saya kerapkali lama nyambung saat diajak bicara, termasuk saat istri minta tolong untuk suatu pekerjaan.
Ah, ini harus dilawan. Kita tidak boleh terkukung dengan apapun termasuk smarphone yang saat ini tidak lagi menjadi barang langka. Beberapa hari ini, saya mencoba sedikit demi sedikit menjauhinya, tapi belum bisa.
Pemberitahuan di Blackbarry Massanger, Facebook, dan Twitter terlampau tawar untuk tidak dilihat, termasuk saat menunggu lampu merah di jalanan atau sedang pening mengejar tenggat menulis berita.
Mau tidak mau penyakit yang akut ini harus saya perangi atau mungkin juga anda yang menjadikan smarphone sebagai teman makan, tidur, mandi dan bahkan saat buang air besar. Kita punya kewajiban menjadikan diri kita bahagia tanpa ketergantungan terhadap apapun, dan tentu saja mengembalikan keceriaan calon anak-anak kita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perlawanan Kampung Tempe Sanan Terhadap Kue Artis Teuku Wisnu, Krisdayanti, dan Kawan-Kawan

Mondok dan Islam Internet ala Jonru

Pelajaran Salat Taraweh untuk Menteri Muhadjir Effendy