Begal



Keseraman kerapkali mengandung kelakar. Seorang teman, ketika berkunjung ke rumah saya yang harus melintasi hutan nan petang, mereka lantas mengatakan daerah saya itu sebagai “Daerah Rawan Konflik” dan “Perbatasan Dengan Australia”. Kelakar itu, tentu saja disambut tawa terbahak-bahak beberapa teman lain.
Kelakar itu sebenarnya sama dengan seorang yang takut kepada hantu. Mereka takut kepada apa yang belum pernah mereka lihat. Ketika kanak-kanak, kita membayangkan hantu sebagaimana yang ada di televisi. Pada suatu malam setelah melihat film hantu, kitapun meriuang ketakutan, dan ketakutan itu menjadi guyonan ketika pagi sudah tiba.
Soal keseraman dan kelakar ini tiba-tiba saya ingat setelah beberapa hari belakangan berita Begal marak dimana-mana. Ini karena, di hutan yang pernah dilintasi teman saya itu, ketika saya masih kecil begal sangatlah marak. Sampai sekarang, kondisi hutan tersebut masih tetap seram meskipun kasus begal tidak lagi terlalu sering.
Bagaimana tidak seram, di hutan bernama Beli yang menghubungkan antara Desa Karangkates dan Desa Kalipare (Semuanya masuk Kabupaten Malang) itu, hutan yang panjangnya sekitar empat kilo meter ini sama sekali tidak berlampu. Ketika melintasi hutan ini, kita seolah berada di zaman jahiliyah yang lampu masih menjadi barang langka.
Karena banyaknya begal inilah, hutan beli ini menyisahkan banyak cerita. Salah satu cerita yang masih melekat diingatan saya sampai sekarang adalah ketika paman saya hampir saja menjadi korban pembegalan. Yang membuat menarik, aksi pembegalan yang gagal tersebut lantas menjadi cerita sebagaimana yang sering kita lihat di film action.
Ceritanya, ketika itu paman saya baru pulang dini hari. Menggonjeng istrinya, tiba-tiba ada begal yang muncul dari rawa-rawa yang berada dipinggir jalan. Untungnya, paman saya itu berhasil menghindar setelah belok tiba-tiba dan memacu kendaraannya dengan kencang.
Ternyata meski sudah lolos dari aksi begal, paman saya tidak langsung pulang. Dia lapor ke Polsek Kalipare. Setelah itu, polisi mengajak paman saya itu untuk menangkap pembegal. Polisi dan paman sayapun kembali ketempat kejadian.
Dan ternyata, para pembegal itu masih berada ditempat yang sama. Mereka bersembunyi dirawa-rawa yang sama untuk menunggu korban selanjutnya. Bak film action, polisi masuk kedalam rawa-rawa tersebut, menangkap satu pembegal. Sedangkan pembegal lain berhasil kabur.
Kejadian ini lantas keesokan harinya menjadi obrolan penduduk kampung. Setelah beberapa kali ada orang yang terkena begal, dan seingat saya ada penduduk kampung tetangga yang mati karena begal, kali ini warga yang menang: begal berhasil ditangkap.
Tapi tentu saja hal tersebut tidak menyelesaikan masalah. Begal masih tetap mengintai dan hutan beli masih tetap gelap, sampai sekarang. Aneka macam begal yang terjadi ketika saya masih SD itu seringkali saya ingat ketika malam-malam melintas hutan ini.
Tidak berubah dengan tahun-tahun lampau, sekarang hutan beli masih menyisakan keseraman. Ketika saya harus pulang malam karena pendeknya waktu liburan, saya selalu ketakutan ketika melintasi hutan ini. Saya pacu gas pol meski jalan di hutan ini banyak lobang dan bergelombang.
Lalu kenapa hutan beli masih menyisakan keseraman, bahkan sampai saat ini ketika tahun sudah 2015. Menurut saya ini karena absennya pemerintah. Para pejabat yang katanya terhormat itu, seolah menutup mata atas ketakutan yang dialami rakyatnya. Mungkin, khusus di Kabupaten Malang, hutan yang gelap tidak hanya ada di Kalipare, banyak daerah lain yang kondisnya tidak jauh berbeda.
Saya tidak tahu sampai kapan hutan-hutan itu akan tetap gelap gulita. Menurut saya, seharusnya jika pemerintah peduli pada rakyatnya, hutan gelap itu secara perlahan segera dipasangi penerangan. Selain itu, polisi juga harus lebih sering berpatroli di hutan-hutan rawan ini. Jika tidak, lantas apa guna ada pemerintahan jika tidak mampu menciptakan rasa aman bagi rakyatnya.
Mengutip teori ilmuan Psikologi Abramam Maslow, dalam teori kebutuhan yang dia cetuskan, ada lima macam kebutuhan yang harus dimiliki seseorang agar orang tersebut bahagia. Satu diantara lima itu adalah kebutuhan akan rasa aman.
Maslow hendak mengatakan, percuma beras melimpah dan murah ketika rasa aman tidak dimiliki seseorang. Dan teori itu tampaknya benar, orang-orang akan tersiksa ketika harus melintasi hutan beli pada malam hari. Semoga saja, negara tidak terus-terusan absen memberi rasa aman bagi rakyatnya.  



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perlawanan Kampung Tempe Sanan Terhadap Kue Artis Teuku Wisnu, Krisdayanti, dan Kawan-Kawan

Mondok dan Islam Internet ala Jonru

Pelajaran Salat Taraweh untuk Menteri Muhadjir Effendy