Para Pembisik Kedunguan

Sejarah adalah peristiwa yang terus berulang. Begitulah klise yang sering kita dengar. Orang pintar, cederung mengulang tindakan-tindakan yang membuat mereka terlihat tidak seperti orang dungu. Sebaliknya, orang dungu sering melakukan banyak kesalahan yang sama dan berulang-ulang.
Lantas kenapa banyak orang pintar yang sering melakukan kedunguan. Itu mungkin kepintarannya dikalahkan oleh kedunguan yang tidak berasal dari dirinya sendiri. Ada bisikan yang membuat mereka kalap. Dan hanya ada kekecewaan bagi orang lain jika orang yang pintar itu mendadak menjadi dungu. 
Dan orang yang paling tepat untuk dijadikan contoh ihwal hal tersebut adalah Jokowi, presiden kita sendiri. Mula-mula, kita mengenalnya sebagai orang yang merakyat dari Solo. Ada gorong-gorong tersumbat, Jokowi langsung turun mengecek. Ada Pedagang Kaki Lima (PKL) protes relokasi, dia kumpulkan hingga puluhan kali di Balaikota. Dia terlihat begitu merakyat, dan seolah titisan dewa saat memimpin Solo.
Kepintaran Jokowi masih terlihat ketika dia memimpin Jakarta. Jokowi masih diburu-buru media karena kegemarannya blusukan. Dia memimpin Jakarta dengan penuh manusiawi, meski kebanyakan orang Jakarta tidak terlalu manusiawi dalam banyak hal. Ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono  menerapkan mobil murah, dia menolak karena alasan kemacetan.
Ketika menjadi presiden inilah, ketidakpintaran yang selama ini tidak terlihat dari seorang Jokowi kita dapati dan kitapun kecewa. Kita tahu, Jokowi dihujat karena mengangkat Budi Gunawan sebagai Kapolri. Orang ini disebut-sebut berekening gendut dan dekat dengan Megawati, Ketua Umum Partai menyokong Jokowi sebagai presiden.
Kekecewaan itu terus berlanjut, tidak lama setelah keriuhan soal Kapolri, Jokowi membawa “pengusaha otomotif” AM Hendropriyono ke Malaysia untuk bekerjasama dengan Proton. Dia menggandeng perusahaan asal Malaysia itu untuk mengembangkan mobil nasional di Negeri ini.
Jika dirunut kebelakang, sebenarnya banyak keputusan Jokowi yang mengecewakan kita. Seperti penunjukan Menteri yang hanya untuk menyenangkan Ketua Umum Partai pendukung, Penunjukan Politisi Nasdem Prasetyo sebagai Jaksa Agung semakin menambah kekecewaan itu. 
Lantas kenapa presiden kita membuat kecewa para pendukungnya. Sebagaimana saya bahas diatas, orang pintar bisa mendadak menjadi dungu karena tekanan dari luar. Saya yakin, kedunguan itu bukan dari dirinya sendiri. Tapi dari luar yang membuat presiden kita tidak terlihat sebagai kepala negara yang tegas. Keputusan yang dia buat seperti bukan dari dirinya sendiri.
Mungkin anda dan kita semua yang terkadang dungu mengetahui siapa orang luar itu. Para pembisik Jokowi itu sebenarnya sudah tua-tua, umur mereka kepala enam lebih. Tapi entah kenapa, orang tua-tua ini seolah senang melihat negara kita riuh dan melihat pemimpinnya bertindak seperti orang linglung.
Kenapa mereka yang tua-tua itu membisik...?, jawaban paling mudah tentu karena kepentingan. Para orang tua ini seperti kembali menjadi kanak-kanak, mereka ingin keinginannya tercapai dengan segala cara. Seperti anak-anak yang ingin membeli mobil mainan, mereka merengek dan berbisik kepada orang tuanya. Jika gagal, mereka mengambil mobil mainan milik tetangga.
Jika para pembisik yang tua-tua itu akan selalu ada sampai Jokowi lengser lima tahun lagi, tugas utama Jokowi adalah tidak mendengarkan bisikan-bisikan itu atau hanya menganggap  pembisik itu sebagaimana orang yang kekanak-kanakan dan sedang menginginkan mobil-mobilan.
Tidak melakukan itu, Jokowi sama saja dengan menggali lobang kuburannya sendiri. Dia akan mudah dilupakan oleh khalayak umum, akan banyak orang termasuk anak-anak menganggap dia sebagai orang yang dungu. Kita tahu, apa yang diputuskan Jokowi, orang akan memberi penilaian terhadap dirinya sendiri bukan terhadap orang yang membisikinya.
Sekali lagi, Sejarah adalah peristiwa yang terus berulang.
Seharusnya Jokowi sadar kalau sejarah kekelaman bangsa ini akan terulang jika dirinya masih saja mendengarkan para pembisik. Kita tahu, Soekarno lebih melekat dalam ingatan rakyat karena dia adalah pemimpin yang membela rakyat, bukan membela para pembisiknya atau malah menumpas rakyatnya sebagaimana yang dilakukan rezim Soeharto.
Menulis catatan ini, saya tiba-tiba teringat Rubrik Tempoe Doloe di Majalah Tempo. Rubrik ini memuat apa yang pernah diberitakan Tempo pada masa lalu yang kejadiannya nyaris sama dengan masa kini. Sekenannya, saya mengambil dua majalah dari tumpukan Buku yang berada di kolong tempat tidur.
Kebetulan saya mendapati majalah edisi 24-30 Maret 2014 dan Edisi 11-17 Noveber 2014. Di Rumbrik itu, pada edisi Maret, majalah ini membahas tentang ketelantaran Jama’ah haji pada 30 tahun silam. Rupanya, ketelantaran itu masih terjadi sampai sekarang.  Pada edisi November, di Rubrik ini membahas pristiwa 40 tahun lalu yakni tentang polisi yang berhasil menangkap benda Purbakala di Mojokerto. Dan tiga tahun lalu, ada 144 koleksi Museum Sonoboyo Yogyakarta yang juga hilang.
Begitulah kira-kira Pak Jokowi tentang sejarah, yang hanya berisi tentang pristiwa yang terus berulang. Entah anda ingin menjadi seperti Soekarno atau Soeharto, itu anda sendiri yang menentukan, bukan para pembisik anda.   

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perlawanan Kampung Tempe Sanan Terhadap Kue Artis Teuku Wisnu, Krisdayanti, dan Kawan-Kawan

Mondok dan Islam Internet ala Jonru

Pelajaran Salat Taraweh untuk Menteri Muhadjir Effendy