Monumen Chairil Anwar dan Kemenangan Para Sastrawan

28 April mendatang, tepat 60 tahun Kota Malang mempunyai monumen Chairil Anwar. Monumen di Jalan Basuki Rahmad ini tegak berdiri hingga sekarang, tapi kita yang melintasinya sering lupa kalau di tempat tersebut ada monumen seorang sastrawan besar yang ditakdirkan hanya berumur 26 tahun.
Mungkin, perhatian kita saat melintas lebih terfokus kepada supeltas yang mengatur lalu lintas di pertigaan itu. Saya sendiri baru mengetahui monumen Chairil Anwar ketika tahun lalu sekumpulan sastrawan menggelar unjuk rasa memprotes buku kontroversial berjudul 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh. Sebelumnya, saya sering melintas tapi tak pernah tahu soal monumen ini.
Meski kerapkali diabaikan, monumen ini amatlah spesial. Lantaran, monumen tersebut merupakan satu-satunya monumen sastra yang ada di Malang. Dan monumen Chairil Anwar, kamu tahu, hanya ada dua di Indonesia, selain di Malang monumen ini ada juga di Jakarta.
Dari sejumlah literatur, tak ada alasan pasti kenapa monumen ini dibangun di Malang. Tapi saya menebak, monumen ini dibangun karena Chairil Anwar pernah berkunjung ke Malang. Untuk ukuran pemuda yang meninggal di usia 26 tahun, tentu sedikit saja kota yang pernah dikunjungi sang penyair.
Dan ternyata klop, Chairil pernah berkunjung ke Malang. Dalam buku kumpulan puisi Aku Ini Binatang Jalang , Chairil sempat menulis dua puisi ketika dia di Malang pada Februari 1947. Pertama adalah puisi berjudul Sorga dan yang kedua berjudul Dua Sajak Buat Basuki Resobewo.
Ketika itu, Chairil berkunjung ke Malang untuk menghadiri sidang pleno Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) yang digelar di Gedung Sociteit Concordia (sekarang jadi Mall Sarinah). Tempat ini tidaklah jauh dari monumen Chairil, jaraknya sekitar 250 meter persegi. ”Sidang KNIP adalah sidang yang penting karena dihadiri Presiden Soekarno, tapi Chairil Anwar diundang sebagai perwakilan sastrawan, dulu sastrawan memang banyak dilibatkan dalam berbagai hal,” kata Suwardono, sejarawan yang juga guru SMAN 7 Kota Malang ini.
Menurut Suwardono, Chairil kala itu diundang karena dia merupakan sastrawan angkatan era kemerdekaan pertama yang punya andil besar dalam proses kemerdekaan.”Dulu puisi-puisi menjadi penyemangat kemerdekaan,” katanya lagi.
Terlepas dari sastrawan saat ini yang tidak lagi didengar suaranya dalam membuat kebijakan oleh pemerintah, saya menganggap berdirinya monumen Chairil Anwar di Malang merupakan berkah bagi kesusastraan kita.
Dengan adanya monumen ini, kita sadar kalau sastrawan pernah dihargai sedemikian tinggi. Kita tahu, di negeri ini sekarang penghargaan kepada sastrawan ataupun penulis masih belum begitu memuaskan. Bangsa ini tidak pernah peduli jika kualitas tulisan dan sastra kita masih kalah dengan negara lain.
Mungkin karena inilah, anak-anak kecil sangat jarang ada yang bercita-cita menjadi sastrawan atau penulis ketika besar nanti. Itu tentu tak ada yang salah, di tengah kehidupan yang menjadi ukuran ’kesuksesan’ adalah materi, maka tidak keliru jika mereka menghindari dua profesi ini yang memang jauh dari gelimang materi.
Mungkin, karena alasan ini pulalah, menurut saya, Malang hingga sekarang masih krisis sastrawan dan penulis yang melahirkan karya-karya bagus. Tengoklah, hampir tidak ada karya dari sastrawan dan penulis kita yang menjadi pergunjingan orang banyak.
Toh, atas semua nasib malang kesusastraan kita itu, harapan harus terus dinyalakan. Kita berharap, di Malang monumen sastra tidak hanya Chairil Anwar. Saya membayangkan bagaimana indahnya jika suatu saat nanti, di setiap sudut kota terbangun monumen  sastra yang itu merupakan sastrawan asal Malang yang melahirkan karya-karya bagus.
Tapi, hanya ’kemenangan’ di bidang sastra yang membuat keadaan itu bisa terjadi. Menang dalam arti, karya sastrawan Malang jauh lebih unggul dari sastrawan daerah lain. Jika itu tak diwujudkan dan kita membangun banyak monumen untuk seorang sastrawan yang berkualitas pas-pasan, mungkin Chairil Anwar akan menertawakan monumen-monumen itu.
Karena sejarah perlu dicatat, menurut saya, membangun monumen bagi sastrawan yang menghasilkan karya monumental perlu dipertimbangkan. Kita tahu, di dunia yang penuh dengan keriuhan ini, sejarah kerapkali diselewengkan. Kadangkala pula sejarah hanya berpihak pada yang menang dan yang punya uang.
Buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh menjadi kontroversial sebagaimana saya tulis pada pengantar tulisan, karena buku ini menjadikan Denny JA sebagai salah satu sastrawan paling berpengaruh.
Kita tahu, Denny JA dikenal bukan karena dia seorang sastrawan, kita mengenalnya sebagai seorang pengamat politik yang mempunyai lembaga survei. Karena kejadian ini, banyak kalangan menilai kalau Denny JA masuk dalam buku tersebut karena dia mempunyai uang dan dekat dengan kekuasaan.
Dan saya kira, monumen Chairil Anwar dibangun bukan karena uang dan kekuasaan. Karenanya, doa layak dipanjatkan untuk mengenang sang ‘binatang jalang’, agar monumennya tak lagi merana sebagaimana hari-hari biasanya.

 
*Tulisan ini pertama kali terbit di Radar Malang edisi Minggu (26/4/2015)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perlawanan Kampung Tempe Sanan Terhadap Kue Artis Teuku Wisnu, Krisdayanti, dan Kawan-Kawan

Mondok dan Islam Internet ala Jonru

Pelajaran Salat Taraweh untuk Menteri Muhadjir Effendy