Sapardi Djoko Damono

Narsis dulu... hehehe...Foto oleh Darmono/Radar Malang
Dia beranjak dari tempat duduknya. Berjalan pelan-pelan dengan bantuan tongkat, Sapardi Djoko Damono terlihat rapuh. Dia melawan dinginnya malam dengan jaket dan dua baju yang dia kenakan sekaligus.
Tepuk tangan bergemuruh ketika Sapardi sudah berdiri dengan posisi sempurna untuk membacakan puisi. Pada acara di Gedung Sasana Budaya Universitas Negeri Malang (UM) pada 14 April lalu itu, Sapardi meninggalkan kesan mendalam meski dia hanya membaca dua puisi yang berjudul Di Depan Laptop dan Aku Ingin.
Walau sebelum membacakan puisi Sapardi mengatakan kalau tugasnya sebagai sastrawan adalah menulis puisi bukan membacakannya, Sapardi tetap memukau. Puisi Aku Ingin yang legendaris itu mampu mengheningkan ruangan yang luasnya sekitar separo lapangan sepak bola tersebut.
Setelah membaca puisi, Sapardi yang sebelumnya menjadi pembicara talk show masih telaten melayani tanda tangan kepada sepuluh orang pertama yang membeli bukunya pada acara itu. Bahkan, orang-orang yang tidak masuk sepuluh pembeli pertama juga dilayani dengan sabar oleh Sapardi.
Salah satu orang yang ngotot mendapatkan tanda tangannya itu adalah saya. Ketika tahu kalau sastrawan 75 tahun ini akan melayani tanda tangan di akhir acara, saya langsung membeli bukunya yang dijual di depan aula pertemuan.
Ketika itu, saya membeli buku kumpulan puisinya berjudul Kolam dan satu kaset musikalisasi puisi-puisi Sapardi. Setelah membeli buku, saya mencoba antre dengan sepuluh orang pilihan itu. Belum mendapatkan tanda tangan, seorang panitia melarang karena Sapardi sudah kelelahan.
Ternyata, setelah sepuluh orang selesai dilayani, tiba-tiba ada sekumpulan mahasiswa yang menyerobot panitia untuk foto bareng dan meminta tanda tangan. Jadilah, saya ikut dalam ’rombongan’ tersebut. Setelah foto-foto dengan Sapardi, saya meminta tanda tangan. ”Tidak apa-apa, mereka takut saya sakit,” kata Sapardi singkat kepada panitia yang mencoba menghalang-halangi permintaan tanda tangan.
Saya ngotot untuk foto bersama dan mendapatkan tanda tangan karena Sapardi adalah salah satu penyair favorit saya. Menurut saya, dia adalah cerminan sastrawan dan penulis yang mempunyai kemampuan lengkap. Dia menulis puisi, esai, dan kadang-kadang cerita pendek.
Dan satu lagi, yang mungkin ini sulit kita temukan dari sastrawan lainnya, yakni dia seorang profesor. Saya salut karena meski profesinya profesor, tapi sebagai sastrawan dan penulis, Sapardi masih produktif hingga di usianya yang sangat senja.
Kita tahu, para profesor sastra kita banyak yang tidak mencipta. Tengoklah di sejumlah kampus yang mempunyai Jurusan Sastra Indonesia, sangat sedikit profesor Sastra Indonesia yang produktif menulis karya sastra. Dan bisa dihitung dengan jari, profesor Sastra Indonesia yang produktif layaknya Sapardi.
Sebagai profesor sastra, saya beranggapan, mungkin mereka yang tidak produktif itu terlena dengan ’kenyamanan’ menjadi guru besar. Atau mungkin mereka memilih menjadi kritikus sastra yang memang tidak sesulit mencipta karya sastra. Menjadi kritikus, kita hanya perlu sikap kritis atau mungkin sedikit sikap sinis.
Itulah mungkin kesalahan Fakultas Sastra kita, lebih banyak membahas tentang kritik sastra dibandingkan menciptakan karya sastra. Untuk membuktikan hipotesa tersebut tidaklah sulit, lihatlah para sastrawan atau penulis kita belakangan yang sedang naik daun, kebanyakan mereka lahir tidak dari Fakultas Sastra.
Para sastrawan dan penulis kita kebanyakan lahir dari berbagai komunitas sastra dan kepenulisan. Kita tahu, karena inilah sastrawan dan penulis kita mempunyai banyak profesi seperti editor buku, karyawan perusahaan, wartawan, pedagang, atau bahkan penjual mi ayam sebagaimana ditulis Jawa Pos belum lama ini.
Karenanya, Sapardi adalah cermin.
Sebagai seorang profesor, Sapardi hampir tidak pernah menyematkan gelarnya pada buku-buku atau karya-karyanya yang bertebaran di banyak media. Sapardi ingin pembaca menikmati karyanya sebagai Sapardi seorang penulis, bukan Sapardi sebagai seorang profesor sastra.
Toh, meski tanpa gelar yang dia sematkan, karya-karya Sapardi masih tetap dinanti. Banyaknya mahasiswa yang hendak meminta tanda tangannya, membuktikan kalau karya Sapardi banyak mereka pelajari. Apalagi, sejumlah puisi legendarisnya dinilai sebagai puisi paling berpengaruh dalam kesusastraan kita.
Saya beranggapan, puisi Sapardi selalu melekat di hati karena dia menulis puisi dengan bahasa yang sangat sederhana. Lihatlah puisi Aku Ingin yang populer itu. Begini salah satu baitnya yang kata-katanya memang jauh dari kesan ruwet: Aku ingin mencintaimu dengan sederhana: dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu.
Banyak puisi Sapardi lain yang dengan kata-kata sedernaha kita justru bisa menikmati. Dan bagi Sapardi sendiri, dirinya memang lebih suka membuat puisi sederhana, tapi pesannya bisa tersampaikan dengan baik.
Pada suatu kesempatan, Sapardi pernah mengatakan kalau puisi favoritnya adalah puisi berjudul Berjalan Ke Barat Waktu Pagi Hari. Menurut dia, puisi ini adalah puisi pertama yang membuat dia sadar kalau membuat puisi bagus tidak perlu kata-kata rumit.
Dan puisi Sapardi ini bahasanya memang sangat sederhana, tapi mempunyai makna yang mendalam. Begini bait puisi tersebut:  Waktu aku berjalan ke barat di waktu pagi, matahari mengikutiku di belakang, aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri yang memanjang di depan. Aku dan matahari tidak pernah bertengkar tentang siapa di antara kami yang telah menciptakan bayang-bayang. Aku dan bayang-bayang tidak pernah bertengkar tentang siapa di antara kami yang harus berjalan di depan.
Sekali lagi, Sapardi adalah cermin.
Di tengah usianya yang senja, Sapardi masih mencipta. Karena ini pulalah, Sapardi dicintai banyak orang. Dari seorang blog teman, Sapardi pernah menyatakan hal bagus yang bisa direnungi oleh siapa pun yang ingin menjadi penulis dan sastrawan tidak ala kadarnya. Dia berucap, ”Saya menulis karena itu membuat saya bahagia. Kalau ada yang kebetulan senang membacanya, atau mengolahnya jadi lagu atau saya mendapatkan honor dari penerbit, itu bagus. Kalau tidak, ya tidak apa-apa. Yang paling penting adalah saya sendiri merasa senang ketika sedang menulis. Dan itu tidak bisa diganti dengan apa pun juga”.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perlawanan Kampung Tempe Sanan Terhadap Kue Artis Teuku Wisnu, Krisdayanti, dan Kawan-Kawan

Mondok dan Islam Internet ala Jonru

Pelajaran Salat Taraweh untuk Menteri Muhadjir Effendy