Hari Kamis di Cafe Pustaka...


Kenapa dunia sastra kita berjalan di tempat? Ini pertanyaan klasik yang mungkin sudah tidak butuh jawaban. Jenis pertanyaan ini bisa saja kita lontarkan ke segala aspek kehidupan yang tingkat kemajuannya begitu-begitu saja. Semisal tentang riset, sains, dan tentu saja sepak bola.
Kita tahu, banyak hal memang berjalan biasa-biasa saja di bangsa ini. Nyaris tidak ada karya atau prestasi yang membuat bangga semua orang. Sepak bola kita, sejak diadakannya SEA Games, kita masih sebatas spesialis menjadi finalis.
Beberapa hari lalu, mula-mula harapan itu muncul setelah Evan Dimas Cs bermain apik di penyisihan SEA Games. Kita pun riuh, dan pujian-pujian datang dari media sosial. Namun, Thailand sebagaimana tahun-tahun yang lampau mengandaskan Indonesia, kali ini di semifinal.
Dari tahun ke tahun, musuh kita sama dan sepak bola kita selalu kalah. Tentu saja, karena kekalahan yang terus-menerus itu, pertanyaan di atas saya kira paling tepat ditujukan kepada sepak bola. Kepada sastra, pertanyaan ini bisa dengan mudah disanggah karena belum ada kompetisi resmi di bidang sastra sebagaimana olahraga yang ada gelaran SEA Games.
Kita masih bisa menjawab, sastra mengalami kemajuan meski berjalan pelan-pelan. Saya beranggapan, dunia sastra dan literasi kita berjalan begitu pelan karena dua hal ini tidak bisa dengan mudah dinikmati oleh siapa saja.
Kita kesulitan membicarakan sastra karena hanya sedikit tempat yang mewadahi itu. Dengan merebaknya media sosial, memang kita memungkinkan bisa bercakap-cakap dengan siapa saja dan tentang apa saja. Namun, percakapan di media sosial lebih banyak hanyalah percikan gagasan yang jauh dari kedalaman.
Dan baru-baru ini, di Malang, kita mempunyai satu tempat lagi untuk membicarakan karya sastra dan literasi. Tempat itu adalah Café Pustaka yang ada di samping perpustakaan Universitas Negeri Malang (UM). Di tempat ini, terdapat sejumlah buku berkualitas meski jumlahnya tidak terlalu banyak. Kita bisa membicarakan apa saja soal sastra dan literasi sambil membaca buku, tentu saja dengan sesekali menyeruput kopi.
Beberapa pekan terakhir, saya sering berkunjung ke tempat ini dan kebetulan ketika berkunjung kebanyakan di hari Kamis. Pertama, pada Kamis tanggal 4 Juni dan Kamis tanggal 11 Juni. Dalam dua kali ngopi itu, kebetulan saya bertemu dengan Prof Djoko Saryono, penggagas Café Pustaka yang juga Kepala Perpustakaan UM.
Pada hari Kamis pertama, saya dan seorang teman nimbrung dengan Prof Djoko yang sedang bercengkerama dengan mahasiswanya. Kami berdua bergabung dengan Prof Djoko untuk menimba ilmu tentang banyak hal, kita pun ngobrol ngalor-ngidul.
Soal perkembangan sastra di Malang, nama Prof Djoko memang tidak bisa dipandang sebelah mata. Dia adalah profesor sastra yang benar-benar nyastra. Tidak hanya menulis kritik sastra, Prof Djoko juga sudah banyak menulis buku berupa kumpulan puisi, esai, dan juga tentang sastra. Dan hal yang disuka para sastrawan muda di Malang, Prof Djoko ringan menularkan ilmu kepada siapa saja dan di mana saja, tidak terkecuali di warung kopi.
Pada pertemuan pertama itu, Prof Djoko menerangkan tentang legalitas dan legitimasi. Menurut dia, dua hal ini kadang berjalan tidak beriringan. Ada seseorang yang mempunyai legalitas sebagai pemimpin, tapi sebenarnya tidak mempunyai legitimasi. ”Seperti para tersangka. Sebagai legalitas, dia pemimpin. Namun, tidak mempunyai legitimasi,” kata dia.
Ada juga orang mempunyai legitimasi yang kuat, tapi mereka tidak mempunyai legalitas. Lantas Prof Djoko mencontohkan Suku Samin yang tinggal di sejumlah daerah di Jawa Tengah. Menurut dia, Suku Samin yang menolak pendidikan formal memang tidak mempunyai legalitas, dalam artian mereka bukanlah penguasa. ”Tapi mereka punya legitimasi, kepala daerah yang mau nyalon bupati harus sowan ke Suku Samin,” imbuhnya.
Keberadaan tempat semacam CaféPustaka memang sangatlah diperlukan untuk menumbuhkan semangat sastra dan literasi kita. Apalagi, aneka macam kegiatan diadakan di café ini seperti acara bedah buku, seminar tentang literasi dan acara rutinan yang diberi nama ngemilsastra yakni membacakan karya sastra seseorang saban pekan.
Sebagaimana profesi lain, sastrawan dan penggiat literasi juga membutuhkan tempat untuk meningkatkan kualitas dan berkreasi. Jika hal itu tidak terjadi, nasib sastrawan kita bisa seperti pelacur yang telantar karena tempat mereka bekerja digusur. Para pelacur itu pun berjualan di sembarang tempat dan di jalan-jalan.  
Dengan adanya tempat semacam Café Pustaka ini, sastra dan literasi tidak hanya bisa dinikmati mahasiswa jurusan sastra, tapi juga bisa di akses siapa saja meski hanya di warung kopi.

*Tulisan ini terbit pertama kali di Radar Malang edisi 21 Juni 2015

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perlawanan Kampung Tempe Sanan Terhadap Kue Artis Teuku Wisnu, Krisdayanti, dan Kawan-Kawan

Mondok dan Islam Internet ala Jonru

Pelajaran Salat Taraweh untuk Menteri Muhadjir Effendy