Kota Tua



Mari kita bayangkan hidup seratus tahun lagi, di Kota yang kita tinggali saat ini. Masih adakah ojek, angkutan umum, trotoar, dan taman-taman di pinggir jalan. Masih adakah rumah kumuh, pengamen jalanan, pengemis di emperan Masjid, dan orang yang bergerombol sore hari untuk menikmati senja.
Semuanya mungkin sudah berubah. Dalam bayangan kolektif, kita membayangkan sebuah jalanan kota yang semakin padat. Gedung mencakar langit yang bertebaran di mana-mana, kelas menengah semakin meningkat, sedikit orang miskin, dan orang-orang yang semakin sibuk.
Saat ini, jauh sebelum ratusan tahun bayangan kita itu, orang-orang sudah takut telat datang ke kantor. Para pekerja berlomba-lomba berangkat pagi, mereka menerobos macet dan tak menghiraukan orang-orang disekelilingnya hanya agar gaji tidak terpotong.
Ketika sore atau malam hari tiba, kita juga terburu-buru pulang ke rumah. Kita ingin cepat bercengkrama dengan istri dan anak-anak. Seratus tahun lagi, keterburu-buruan itu boleh saja semakin meningkat. Ketika jalanan semakin padat, mobil semakin banyak, dan orang sudah gengsi naik sepeda motor.
Dan kota serta orang-orang di dalamnya yang semakin sibuk, kerapkali menihilkan kemanusiaan. Kita tengok saja aktivitas di ruang publik yang tidaklah cair. Orang lebih memilih sibuk dengan smartphone daripada ngobrol dengan orang disamping mereka. Selain itu, kerapkali kita melihat orang yang abai dengan orang lain. Di Bus, ketika nenek-nenek tua tidak mendapatkan tempat duduk, kita sering acuh dan membiarkan nenek tersebut berdiri berjam-jam.
Ketika terjadi kecelakaan, orang-orang di jalanan yang sibuk itu, sedikit sekali yang peduli. Jangankan berhenti untuk memberi pertolongan, sedikit juga yang menoleh sebagai bentuk penasaran kalau sedang terjadi kecelakaan. Kejadian ini saya alami sendiri beberapa bulan lalu ketika mengalami kecelakaan ringan.
Jika di kampung yang terjadi kecelakaan, orang dengan mudah riuh untuk menolong dan memberi air putih. Tapi, ketika itu saya menjadi ‘korban’ kecuekan oleh orang-orang yang sedang tergesa-gesa di jalanan. Orang yang menabrak saya lari, dan orang disekeliling kejadian itu hanya melihat tanpa menyodorkan air putih, misalnya.  Celakanya, saya waktu itu kecelakaan karena terburu-buru takut telat masuk kantor.
Sebagaimana tulisan Seno Gumira Ajidarma, ciri masyarakat urban memanglah hidup penuh ketakutan. Dan ketakutan itu dimulai sejak pagi hari ketika orang takut terlambat masuk kantor. Setelah dari kantor, ketika sudah kembali ke rumah, orang takut pencuri menyatroni rumah mereka.
Jadilah, sebagaimana kata Seno, hidup orang kota dipenuhi ketakutan seperti takut gagal, takut menderita, takut tidak dihargai, takut kesepian, takut dikibuli, takut dikomploti, takut dikerjain, takut menganggur dan ketakutan-ketakutan lain.
Ketakutan-ketakutan inilah yang membuat orang kehilangan potensi baiknya. Menurut saya, semua orang mempunyai potensi baik dan juga potensi buruk. Karena ketakutan, potensi baik seperti empati, saling mengasihi, dan peduli satu sama lain hilang karena ketakutan-ketakutan.
Dan yang muncul justru potensi buruk atau insting kematian sebagaimana istilah ilmuan Psikologi Sigmund Freud. Dengan insting kematian, orang bisa berlaku agresif, tidak ramah, menyakiti orang lain, dan bersikap acuh.
Insting kematian itu bisa muncul karena tempat yang kita tempati tidak ramah. Tempat itu bisa berupa rumah, atau kota tempat kita tinggal. Kita tahu, Kota tidak ramah sebagaimana aneka macam survey akan membuat penduduknya tidak bahagia dan berlaku culas.
Bagaimana mau bahagia ketika dari pagi hari kita dipertontonkan ketidakramahan orang, ditambah lagi ketidakramahan jalanan yang macet. Dengan tingkat stres yang tinggi itu, intuisi kebaikan kita memudar, dan lambat laun menjadi hilang.
Perihal intuisi, beberapa waktu lalu saya berdiskusi dengan budayawan Agus Sunyoto. Dia mengatakan kemirisannya terhadap pendidikan kita saat ini yang hanya mengandalkan otak sebagai ukuran kesuksesan siswa di sekolah. Anak-anak harus bisa pelajaran apa saja, dan dengan adanya kelulusan yang super ketat, pendidikan seolah tidak mentolerir ketidakbisaan anak pada mata pelajaran tertentu.
Karena terlalu mengedepankan kemampuan akal inilah, intuisi seseorang tidak terasah. Dan intiuisi yang tidak terasah, membuat empati dengan mudahnya memudar dan hilang. Intuisi bisa diasah menurut Agus salah satunya dengan memperbanyak ingat pada tuhan. Semoga saja, semakin tua kota, semakin ramah manusianya....

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perlawanan Kampung Tempe Sanan Terhadap Kue Artis Teuku Wisnu, Krisdayanti, dan Kawan-Kawan

Mondok dan Islam Internet ala Jonru

Pelajaran Salat Taraweh untuk Menteri Muhadjir Effendy