Suara Alam Bawah Sadar Wartawan


Oleh Masbahur Roziqi*

Judul Buku      : Para Pembisik Kedungan
Penerbit           : Intelegensia
Penulis             : Irham Thoriq
Tahun Terbit    : 2015

Bagi saya buku para pembisik kedunguan ini tidak ubahnya sebuah ungkapan hati. Penulisnya mengungkapkan fenomena yang dipendamnya. Dan fenomena itu bukan hal berat yang mengharuskan pembaca pusing memikirkan maknanya.
Sang penulis, si Irham Thoriq, menyampaikan suara alam bawah sadarnya. Suara hati yang coba diabadikannya lewat tulisan. Tekad Irham Thoriq memang tidak setengah-setengah menjadi seorang penulis. Saat saya masih bekerja sebagai wartawan Jawa Pos Radar Malang bersamanya, dia bertekad ingin mengabadikan suara alam bawah sadarnya. Suara hati yang tidak mungkin dapat dimuat sepenuhnya di media massa tempat kami bekerja. Akhirnya terbukti tahun ini. Harapan itu terkabul. Obrolan warung kopi dan hasil perenungan pribadinya tumpah dalam tulisan yang kemudian menjadi buku. 
Seperti tulisan Kota Tua. Thoriq mengutuk peradaban kota berkembang, Kota Malang. Dia gerah dengan ketidakpedulian masyarakat. Makin individualnya setiap orang di kota. Pengalaman tidak mengenakkan pernah dialaminya. Thoriq pernah mengalami kecelakaan ringan ketika berada di tengah kota Malang. Bukannya rebutan menolong, orang-orang di sekitarnya hanya melihat sambil lalu. Tanpa ada yang berniat menghampiri dan membantunya berdiri. Alhasil, sambil memendam rasa jengkel, dia bangun. Kondisi ini menurutnya jauh jika dibandingkan dengan masyarakat pedesaan. Guyub rukun, dan ketika ada orang kecelakaan justru akan berebut menolong memberikan pertolongan pertama. Kegeraman pada individualisme kaum perkotaan berupaya diabadikannya dalam buku pertamanya ini. 
Selanjutnya, masih dalam buku ini, Thoriq juga semakin sinis pada perkembangan teknologi yang menggerus proses sosialisasi antar manusia. Kali ini berkaitan dengan menjamurnya penggunaan ponsel pintar (smartphone). Dia melihat semua lapisan masyarakat, baik tua maupun muda sibuk dengan ponsel pintarnya. Bahkan ketika mereka sedang saling berkumpul. Kepala hanya menunduk ke arah ponsel tanpa memedulikan orang lain di sekitarnya. Tanpa ada sapaan, bersenda gurau, dan saling mengenal satu sama lain. Dia pun mengaku sebagai korban dari kemajuan teknologi tersebut. 
Tapi Thoriq juga tidak hanya mengutuk dan sinis saja. Dia juga menawarkan sastra sebagai salah satu jalan untuk sejenak lepas dari kepenatan aktivitas sehari-hari. Seperti beberapa tulisannya, antara lain Sapardi Djoko Darmono, Relaksasi, dan Tempat Bagi Sastrawan dan Pelacur. Sastra dijadikan jalan meraih ketenangan di balik hingar bingarnya lalu lalang penduduk kota. 
Sayangnya, dalam tulisan ringan di buku pertamanya ini, Thoriq belum berani membagi suara alam bawah sadarnya tentang permasalahan media massa saat ini. Terutama terkait perselingkuhan media massa dengan kekuasaan, dan masih diganggunya ruang redaksi oleh campur tangan pimpinan perusahaan, dan bahkan pemilik saham. Sebuah kisah tentang dunia wartawan yang ditulis Thoriq lebih kepada kisah saat awal dia masuk tes wartawan bersama saya dulu. 
Padahal jika Thoriq mau menuliskan mengenai permasalahan media massa lokal terutama dengan bahasanya yang sangat ringan, pasti lah buku ini akan semakin menarik. Seperti ketika pemilihan walikota Malang (piwali) tahun 2013 lalu. Banyak kisah menarik yang sebenarnya bisa ditulis, sebab Thoriq sendiri mendapat tugas khusus meliput salah satu pasangan calon. Tentu dia memiliki kisah-kisah manusiawi yang bisa diceritakan tentang bagaimana media massa cenderung memihak pada salah satu calon. Dan mengesampingkan prinsip independennya. 
Kemudian, sebenarnya Thoriq yang juga sudah tiga tahun malang melintang di dunia jurnalistik, bisa pula membagikan kisah menarik mengenai “diganggunya” ruang redaksi oleh kepentingan pimpinan perusahaan. Baik itu diganggu kepentingan ekonomis (periklanan) maupun kepentingan pribadi pimpinan sendiri untuk pencitraan dirinya. Beberapa hal yang tidak jarang membuat para wartawan mati kutu. Karena menghadapi dilema. Mau terus bekerja meskipun diintervensi (dicampuri urusan pemberitaannya) atau memilih mundur agar tidak merasa bersalah terus menerus. Dan sayangnya, hal itu absen dalam buku ini. 
Namun terlepas dari beberapa hal yang kurang itu, menurut saya buku ini adalah ikhtiar luar biasa dari seorang wartawan media massa lokal seperti Thoriq. Dia sangat gigih menggapai impiannya. Ingin membagikan suara alam bawah sadarnya pada masyarakat. Buku ini hadir sebagai salah satu pemikiran cerdas dari wartawan yang tak ingin pemikirannya hilang begitu saja. Dengan menjadi buku, warisan sang penulis akan abadi. Meski penulisnya sudah tidak ada lagi di dunia. Sekali lagi, selamat Irham Thoriq, terima kasih atas tulisannya!!

*Penulis adalah Mantan Wartawan Jawa Pos Radar Malang. Sekarang guru di Kota Probolinggo.


Komentar

Irham Thariq mengatakan…
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

Postingan populer dari blog ini

Perlawanan Kampung Tempe Sanan Terhadap Kue Artis Teuku Wisnu, Krisdayanti, dan Kawan-Kawan

Mondok dan Islam Internet ala Jonru

Pelajaran Salat Taraweh untuk Menteri Muhadjir Effendy